Tuhan memberiku yang terbaik

Saya sedang menikmati makan siang bersama teman-teman perwira yang baru saja lulus mengikuti pendidikan Seskoad diantaranya adalah Mayor Inf  Susilo Bambang Yudhoyono yang saat ini menjadi Presiden Republik Indonesia.

Kapten Cpm Barus dari Puspom tiba-tiba sudah berdiri didepanku sambil menyodorkan sebuah surat. ” Ada surat dari Kolonel Cpm Isnain pak”. Surat segera saya baca, isinya singkat ” Harap segera berangkat ke Puspom untuk mengikuti seleksi sebagai anggota pasukan pemelihara perdamaian yang akan bertugas di Namibia-Afrika”. Alamak, sekolah saja baru selesai,belum istirahat sudah harus menghadapi tugas baru. Beberapa teman sesama corps ternyata juga dipanggil untuk keperluan yang sama.

Isteri saya langsung merah mukanya dan matanya berkaca-kaca. Saya memahami benar situasinya. Sebelas bulan lamanya kami tidak berkumpul penuh dirumah karena saya harus tinggal dikampus Seskoad. Hanya hari Sabtu dan Minggu saya pulang ke Cimahi. Tetapi tentu bukan hal itu yang membuatnya sedih tetapi penugasan sang suami di  Afrika yang kondisi daerahnya belum diketahui dengan pastilah yang menjadikan wajahnya berubah.

Bagi saya tugas adalah tugas dan ini memang merupakan resiko  dari sebuah pernyataan yang sudah saya tandatangani ketika mendaftar menjadi taruna Akabri bahwa kelak saya sanggup ditempatkan dimana saja.Sayapun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti seleksi.

Seleksi diikuti oleh beberapa puluh orang perwira dari seluruh angkatan dan Polri. Bukan bermaksud menyombongkan diri tetapi dalam seleksi seperti ini saya biasanya lulus. Seleksi kesehatan dan bahasa Inggris tidak begitu masalah bagi saya. Hanya seleksi psikologis yang masih sulit diterka bagaimana hasilnya maklum hanya si pengujilah yang tahu bagaimana kondisi psikologis saya.

Diam-diam saya menginginkan agar saya tidak lulus. Terus terang medan tugas yang akan saya hadapi tentulah “kurang mengenakkan” baik ditinjau dari segi geografi, demografi maupun kondisi ipoleksosbudhankamnya ( cieleee).Barangkali isteri dan anak saya juga mengharapkan agar saya tidak jadi berangkat ke Namibia.

Saya berdoa dalam sholat wajib maupun sholat tahajud. Tentu saja doa saya intinya “mohon saya tidak diikutsertakan dalam tugas ini”. Doa ini saya ulangi terus setiap saat walaupun saya tetap mengikuti seleksi itu dengan sungguh-sungguh.

Hasil test ternyata sesuai dugaan saya. Saya lulus bersama 50 orang perwira lainnya dan segera masuk ke Selapa Polri Jakarta untuk mengikuti latihan pra tugas selama dua minggu.Mau apa lagi….sayapun menyatakan siap berangkat ke Namibia.

Ketika kami melapor kepada Danpuspom ,secara khusus Wadanpuspom Kolonel CPM IGK. Manila memanggil saya keruangan beliau. ” Ambil tugas ini Lik. Ini akan menambah pengalaman dan wawasanmu. Selain itu kamu juga akan dapat dua tanda jasa, kan keren”. Wah tampaknya beliau mengetahui isi hatiku yang sebenarnya tidak ingin berangkat.

Akhir Juni 1989 saya berangkat ke Namibia dalam misi UNTAG ( United Nations Transition Assistance Group in Namibia) dengan tugas utama memantau pelaksanaan pemilu dinegeri itu. Kami bertugas selama 6 bulan dan diperpanjang lagi selama 3 bulan. Apa yang saya khawatirkan ternyata tidak terjadi.Penugasan berjalan dengan mulus dan tidak ada hal-hal negatif yang terjadi. Saya mendapat uang saku yang lumayan besarnya sehingga saya bisa menabung dan mengirimkan sebagian uang saku kepada isteri saya.Pergaulan dengan sesama anggota kontingen, dengan kontingen dari negara lain serta dengan masyarakat setempat berlangsung dengan baik.Kondisi daerah operasi tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya.Disela-sela penugasan kami juga masih bisa rekreasi ke beberapa kabupaten di Namibia dari ujung selatan sampai ujung utara.Komunikasi dengan keluarga di Indonesia melalui surat maupun telepon juga lancar.

Setelah Namibia memproklamirkan kemerdekaannya pada bulan Maret 1990 barulah kami kembali ke Indonesia.

Terima kasih Tuhan, Engkau ternyata memberikan yang terbaik bagiku.

Hikmah dari kisah ini.

1. Doa saya “agar tidak diberangkatkan ke Namibia” ternyata tidak dikabulkan Tuhan. Ternyata Tuhan merencanakan sesuatu yang hebat untuk saya. Dengan bertugas diluar negeri saya jadi banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain yang tentu berbeda adat,kebiasaan dan bahasanya.Sayapun sedikit banyak mengetahui bagaimana PBB menyelenggarakan kegiatannya didaerah operasi dengan pasukan yang terdiri dari berbagai bangsa.

2. Saya mendapatkan keuntungan lain selain materi yaitu dua tanda jasa berupa Satya Lencana Shanti Dharma dari Pemerintah Indonesia dan UN Medal dari PBB sebagaimana dikatakan oleh Wadanpuspom.

3. Dengan penugasan ke Namibia ini apa yang sebelumnya saya sangka buruk ternyata manis hasilnya. Allah Swt berfirman:

Al Baqarah 216

Kutiba ’alaikumul qitaalu wahuwa kurhul lakum wa ’asaa an takrahuu syai-aw wa huwa khairul lakum wa ’asaa an tuhibbuu syai-aw  wa huwa syarrul lakum wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (QS.Al Baqarah:216)

artinya

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ( QS.Al Baqarah: 216)

Berbagi kegembiraan di NamibiaBerbagi kegembiraan dengan anak-anak Namibia

di Windhoek-1990

Tulisan ini dipublikasikan di Kisah berhikmah dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tuhan memberiku yang terbaik

  1. sinopi berkata:

    Allah tau mana yg terbaik
    terkadang manusia kaya saya suka sembarangan ngatur2 Allah, keukeuh pingin sesuatu, pdhl Allah sudah menyiapkan yg tepat..
    Allah Maha Mengetahui, sedang kan kita tidak tahu apa2..
    Subhanallah..

    namanya juga manusia,mau enaknya saja,kewajiban nehik.
    kalau dengar adzan malah bukannya segera ke mushola/masjid malah ngelus-ngelus sepeda motornya.

Komentar ditutup.