Beranda > nJawani > 89,untuk bahasa Jawa

89,untuk bahasa Jawa

24 Juni 2009

Rendita Fairuz nabila - dandanan rambut gaya penjorHati terasa mongkok(senang campur bangga) melihat hasil ulangan akhir sekolah milik cucu saya-Rendita Fairuz Nabila alias Dita ,yang baru kelas satu SD di Beji-Batu.Mata pelajaran IPA,Dita mendapat nilai 97,PKN(mirip civics kale) nilainya 94,Bahasa Indonesia mendapat point 92 dan Bahasa Jawa,lhooooo,piye tho,arek Jowo ini kok hanya mendapat nilai 89,kok bukan 98 atau 99.

Iseng-iseng saya baca lembar jawaban ulangan Bahasa Jawa, ternyata ada 3 jawaban Dita yang salah.Pertanyaan“kacange wis dipanen tegese…,lha ini apa,Dita menjawab:digodog,padahal seharusnya diunduh.Kesalahan kedua pada pertanyaan“ibu gerah ngunjuk….,seharusnya Dita menjawab “obat”,tetapi dia menjawab”ngombe”.Dita salah tafsir,dikira disuruh mengganti kata ngunjuk kedalam bahasa ngoko.Tak heran jika dia menjawab”ngombe”.Sedangkan pada pertanyaannya berbunyi“sepur kuwi alat kanggo…., Dita memilih jawaban“mesin” yang seharusnya dijawab lelungan.

Sekalipun tiap hari Dita bercakap-cakap dengan papa,mamanya dan teman-temannya menggunakan  bahasa Jawa campuran bahasa Indonesia,tetapi jika bahasa itu dijadikan ilmu ternyata masih belum dimengerti dengan baik oleh Dita.Tetapi ya dapat dimaklumi karena Dita masih kecil dan pelajaran bahasa Jawa baru saja didapatkan di sekolah.

Tetapi saya percaya dengan berjalannya waktu,Dita pasti akan mengetahui bahwa dalam bahasa Jawa ada bahasa Jawa ngoko,Kromo madya dan Kromo inggil.Dengan mengetahui tingkatan bahasa dalam tata pergaulan itu maka Dita dengan mudah menterjemahkan kalimat “Bapak makan saya mandi”,menjadi bahasa kromo inggil“Bapak dahar kulo siram”,atau”Man beli kambing” bisa diterjemahkan kedalam bahasa Jawa Ngoko“Mantuku wedhus”  (ha..ha..ha… mbah Kung ngajari yang nggak bener ya Dit)

Dita kelak juga akan tahu bahwa pohon kelapa itu namanya glugu,daun kelapa yang masih muda disebut janur,dan daun kelapa yang sudah tua dinamakan blarak.Pelapah kelapa disebut bongkok.Maka hidung wanita yang bagus biasa disebut”bongkok semende” alias bongkok yang sedang bersandar.

Ia juga akan faham bahwa kembang kelapa itu disebut  manggar dan buah kelapa yang masih muda berturut-turut disebut bluluk,cengkir dan degan.Kulit kelapa disebut batok dan isinya yang sudah dicungkil dinamakan cikalan.Cikalan ini jika dikeringkan akan menjadi kopra,tetapi jika daging kelapa diperas maka airnya disebut santen.Dia juga akan tahu bahwa nama serabut kelapa itu=rasanya yaitu”sepet”.Kalau nggak percaya coba deh dirasakan !

Ketika bermain dengan teman-temannya,Dita sering mengucapkan kata:bolak-balik,gonta-ganti,thingak-thinguk,wira-wiri,ngguya-ngguyu,dan lain-lainnya.Namun Dita mungkin belum sadar bahwa kata-kata yang diucapkan itu dalam bahasa Jawa disebut dengan“dwi lingga salin swara” atau kata ganda berubah suara.

Ketika saya berkata“Jarit lawas ing sampiran”,Dita bertanya:”Apa itu mbah kung?”.Saya jelaskan bahwa kalimat seperti itu disebut paribasan atau peribahasa yang artinya“orang memiliki kepandaian namun tidak digunakannya”.Sedangkan kalimat berbunyi“pait madu” itu disebut bebasan.Madu saja dikatakan pahit,berarti makanan atau minuman yang dikatakan pait madu pasti rasanya sangat manis sekali.Kalau”Satya Wira Wicaksana” itu disebut seloka, biasanya dipakai sebagai motto dari suatu instansi dan satuan militer.

Saya berharap Dita tidak mengalami kesulitan jika kelak sudah belajar aksara Jawa seperti ini.

AKSARA JAWA

PASANGAN AKSARA JAWA

atau pasangan aksara Jawa seperti dibawah iniPASANGAN AKSARA JAWA

atau sandangan Aksara jawa seperti ini

SANDANGAN aksara jawa1

dan angka Jawa seperti ini

ANGKA JAWA

Silahkan sahabat-sahabat yang berasal dari Jawa atau pernah belajar aksara Jawa menulis nama dan tanggal lahirnya dengan menggunakan aksara Jawa

Dita pasti mlongo jika saya menirukan ucapan dalang saat mulai AKU BUKAN DALANGmenggambarkan keadaan suatu negara dalam jejer awal pagelarannya;”swuh rep data pitana,anenggih nagari pundi tho ingkang dados pambukaning carita.Mboten sanes inggih nagari Astinapura,utawi nagari Gajah Hoya,inggih kasebat nagari Liman Benawi.Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi,tata tentrem karta raharjo,ingkang ateges:panjang pocapane,punjung luhur kawibawane.Gemah thukul kang sarwo tinandur,jinawi murah kang sarwo tinuku.Tata tentrem ateges kalis saking bebaya,mboten wonten  tindak durjana lan mboten  wonten ingkang pek-pinek barange liyan.Paribasan manawi enjang rajakaya,ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan,manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak.Karto raharjo ateges kawulane kacekapan sandang dalah pangan.Sinten tho ingkang  ngasta pusaraning praja ing Astina, jejuluk Prabu Duryudana,inggih Prabu Suyudana,inggih Prabu Joko Pitono ugi kasebat Prabu Kurupati.……wooooo…ooooo…ooooo”

Siapa hayooo yang tahu artinya?

Bahan:

-Basa Jawa oleh YA.Yuwono,-Pepak Basa Jawa dan pengalaman setiap nonton wayang orang atau wayang kulit.

About these ads
  1. 24 Juni 2009 pukul 10:03

    Saya punya cerita tersendiri dengan bahasa Jawa. Meskipun saya sudah lamaaaaaaa banget tinggal di ‘kota’, saya tetep pakai bahasa jawa hampir ke semua orang. Termasuk ‘bos’ yang ‘orang seberang’ tetapi mewakili Jombang, Madiun, Mojokerto.

    Tapi orang-orang heran, kenapa saya pake bahasa ngoko sama ortu, bahkan simbah. Karena sudah kebiasaan aja, meskipun sedikit-sedikit ya saya ngerti bahasa kromo.

    Cucunya hebat, Pak. Nilainya diatas 9 semua. Salam buat Dita,
    Selamat ya…

    Sama mbak.Saya sama mbah,bapak,ibu,paman juga pake bahasa ngoko,ini mungkin karena tidak dibiasakan.Juga karena faktor keteladanan mbak,soalnya ibu dan paman juga pake bahasa ngoko terhadap mbah,he..he..he.

    Saya agak ngerti bahasa bahasa kromo,misalnya “Mbak Nunik nembe dahar bakso,kulo siram” ha..ha..ha..hua

    Salam untuk Dita dah saya sampaikan.Terima kasih tante,katanya.Lihat dandanan rambutnya yang”Penjor look”,lucu ya.

  2. 24 Juni 2009 pukul 14:57

    Salam tetepangan pak hidup bahasa jawa, bahasa yg sarat filosofi bahasa yg terkaya kosakatanya. Monggo dipun uri2 khasanahipun jgn sampek dicaplok bangsa lain… Nyuwun agunging pangaksami njih bilih wonten klenta klentuning toto krama RAHAYU

    Matur nuwun rawuh lan komentar panjenengan mas.Setuju sanget manawi kita kedah nguri-uri budaya bangsa ingkang adiluhung.Salam hormat kagem panjenengan saking Suroboyo.

  3. 24 Juni 2009 pukul 17:12

    wah selamat atas nilai-nilai bagusnya…
    o iya sekedar absend
    WP saya di suspend gak tahu kenapa…
    jadi saya pindah ke hosting sendiri..
    jadi awwardnya hilang om… :((

    Blogbaru saya yang baru

    Apa gak bisa ditelusuri tuh mengapanya?Awardnya ya ambil lagi aja mas.Saya lihat deh hosting yg baru,jadi pengin nih.

  4. 24 Juni 2009 pukul 20:33

    saya orang sunda, dulu zamannya sekolah SD, nilai yang paling rendah di raport ya bahasa sunda..hihi.. sekarang, ‘menurun’ ke anak saya…( hehe..kok diturunin ya..)..jadi dia bahasa sundanya jelek, ya ga dimarahin soalnya ibunya juga dulu gitu… .. btw ini fenomena apa ya namanya…. ? yang jelas bukan kehilangan jati diri lo..tapi emang ga dipake sehari-hari, jadi susah.. :)

    Memang umumnya gitu ya,kalau belajar bahasa gaul kok gampang sekali meraih gelar cum laude he..he..he

  5. 24 Juni 2009 pukul 20:40

    Saya dilahirin di pulau madura. Tapi saya ngga bisa bahasa Jawa, tapi kalo orang lain bicara bahasa Jawa, saya mudhenk, kalo balesnya ngga bisa….^_^…V….matur nuhun ilmunya ya pa’ de…..

    Lha masih mending,saya tau bahasa Madura hanya glenon,sakalangkong doank je.Bahasa memang kebiasaan kok,asal sering ngomong dan mendengarkan lama-lama juga bisa.

  6. 25 Juni 2009 pukul 03:04

    woaaaaaaa…..dalem ngertos tegesipun kang……..hehehehe

    Jadi ingat jaman dulu…ibu masih menyimpan buku “kembang setaman” yg hurufnya semua memakai huruf jawa…
    Mas saya, sering meminta ibu membacakan cerita bahasa jawa itu, dia selalu memandang ibu dengan mulut terbuka (mlongo)…….setelah selesai dia bilang ke ibu…ib..ngarang yooo? koq segitu lancar ibu baca huruf2 ini……

    ketika kami sudah dewasa, dan pindah didaerah perkampungan, anak2 tetangga semua belajar huruf jawa ke ibu…..
    Sekarang ibu sudah almarhum (th. lalu)
    Dan saya ngga tau lagi kemana buku2 itu, semoga mbak saya masih menyimpannya.

    bahasa ibu jangan dilupakan lho,orang asing aja belajar bahasa kita kok mbak.

  7. KangBoed
    25 Juni 2009 pukul 13:34

    hehehe.. abdi mah urang sunda.. janten punten teu ngartos pisan…
    Salam Sayang

    nggak masalah mas,saya juga nggak bisa bahasa Sunda kok,isteri saya malah pintar tuh walau dia orang Purwokerto

    .

  8. 25 Juni 2009 pukul 17:06

    wa….h kok saya kayaknya paling parah nih pak.
    saya lahir di medan, tp nggak ngerti bhs. batak.
    ortu orang minang, saya cuma ngerti tp kalau ngomong juga nggak bisa.
    bhs, jawa atau sunda cuma ngerti sedikit2.
    kayaknya postingan ini memacu saya utk belajar lebih lagi ttg bahasa2 dinegeri tercinta ini.
    terima kasih lho pak.
    salam juga utk cucu cantik yg pinter.
    salam.

    Ya nggak masalah tho mbak,wongs saya juga nggak mengerti bahasa Batak,Minang dan Sunda kok.

    Saya di kaltim 12 tahun juga gak bisa bahasa Banjar,di Palembang 6 tahun juga gak bisa bahasa Palembang.harusnya kita belajar bahasa setempat agar kita semakin kaya dengan aneka bahasa.bahasa India saya hanya bisa :nehi,acha,nula,sabun,sukria thok,padahal saya di India 11 bulan.
    Terima kasi,salam untuk Dita sudah disampaikan.Terima kasih eyang putri,katanya.

  9. 26 Juni 2009 pukul 14:05

    Mungkin saya cukup beruntung sekolah di kampung jadi masih cukup mendapat pelajaran bahasa dan aksara jawa sampai SMP. Ditambah keluarga saya semua penggemar wayang walaupun saya belum pernah melihat pertunjukan wayang kulit sampai tuntas. Tapi masih cukup familiar dengan cerita wayang terutama Mahabharata, Bharatayudha, Pandawa sedo. Untuk Ramayana dan Parikesit hanya tahu garis besarnya.
    Anak kecil memang biasa ‘mbasakne awake dhewe’. Ponakan saya kalau pamit juga bilang “Badhe kondur rumiyin” :)
    Pak, boleh juga dibahas tentang condro sengkolo. Ini menarik sekali karena saya sampai sekarang belum pernah mendengar yang semacam ini di tempat lain.
    Mboten langkung namung angucap matur nuwun kawulo haturaken mugi kunjuko sahandaping pepodho.

    Rupanya panjenengan juga seneng nonton wayang ya.Untuk condrosengkolo entar nunggu giliran ye..

  10. zzzz
    9 Desember 2009 pukul 17:36

    wah,, dita bagus ya nilainya, walaupun aku udah kea\las 1 juga, he, kelas 1 smp maksudnya, aku dapet nilai jelek terus… capek jadinya, dita terus belajar ya biar nggak kayak kakak, he…

    bahasa Jawa memang agak sukar apalagi tulisan pake aksara Jawa he he he

  11. 10 Desember 2009 pukul 23:11

    Nilainipun Dita koq sae sedoyo nggih kung… dados kemutan jaman kulo tasih SD rumiyin, hehehe

    Alhamdulillah kulo kaliyan tiyang sepah kaleh kulo saking alit riyin dibiasaaken kromo inggil, dados sakniki nggih pun biasa ndamel kromo inggil.
    Ananging kulo mboten ngertos boso kawi pedhalangan, kulo tangsih rumaos dereng dados tiyang jawi ingkang leres-leres jawi. Pengetahuan kulo dumateng budoyo jawi nggih tasih kedik sanget.
    Maturnuwun kung sampun ngemutaken kulo dateng aksoro jowo…

    Leres panjenengan mas.
    Lare-lare jaman sapuniko radi awis-awis ingkang saged kromo inggil,kalebet kulo sakulowargo.
    Punopo malah bab aksara Jawi, mesti katah ingkang dlongap-dlongop mboten mangertos.
    Matur nuwun sampun pinarak blog lare Suroboyo-Jombang.
    Salam takzim kagem sedoyo sanak-kadang.

  12. 5 Januari 2010 pukul 05:15

    nDerek bingah nggih, menawi taksih wonten priyayi ingkang anggatosaken babagan lan pasinaon boso Jawi…Talim Kulo saking Plered, Bantul, Ngayokartahadiningrat, HP No. 081328580849…matur nuwun..

    Inggih mas, kedah kito uri-uri supados mboten ical. Sugeng patepangan saking Suroboyo. Matur nuwun

  13. 18 Januari 2010 pukul 12:04

    Saya dulu hapal huruf jawa ini Pak dhe, waktu SMP. Tapi sekarang kok wis lali. Untung Pak Dhe posting ini, jd bisa menggali memaori yg sudah lapuk…

    agak sulit ya mas nulis Jawa, tapi bisa dipelajari kok

  14. 24 Maret 2010 pukul 12:18

    Matur sembah nuwun ki, memang sekarang banyak generasi kita yang mulai melupakan adat jawa, terlebih lagi buat anak sekolah. jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk mengajarkannya. katur midangetaken gending jawa

    iya mas, takutnya budaya kita malah berangkat keluar negeri yaaa

  15. 8 Mei 2010 pukul 08:15

    terus masyaratkan bahasa jawa…

    agar tak lenyap

  16. mazwar
    23 Agustus 2010 pukul 10:09

    Bapak, Ingkang sanget kinurmatan.
    Sanget bingah kulo dene enjang puniko kulo saget pinanggih lan maos artikel panjenengan; kulo sak tiang sepuh sampun lahir lan manggen wonten ing tlatah Sumatera. Pramilo menawi wonten danganing panggalih mbok inggiho kulo pun keparengaken ajar boso jawi dumateng Bapak.
    sewu sembah nuwun saksampun lan sakderengipun.
    nuwun.,

    lha boso Jawi panjenengan sampun sae ngaten kok mas…

  17. 4 Desember 2010 pukul 14:28

    Hmmmm saya pernah mengisi waktu sebagai guru les privat. Salah satunya Bahasa Jawa, ternyata memang kebingungan mereka dalam menjawab soal-soal jawa adalah karena salah mengartikan kalimat. juga kadang keluar kata-kata baku yang jarang digunakan sehari hari

    jangan sampai anak2 kita gak ngerti bahasa Jawa lagi ya bang

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: