Beranda > Terpuji > Tiga Papan

Tiga Papan

17 Januari 2010

Sejumlah orang pandai menyelipkan tiga buah papan berharga diatas mejanya. Papan pertama tertulis:” Hari Anda adalah sekarang, hari Anda adalah sekarang “. Artinya hiduplah anda pada batas-batas hari ini saja.

Papan kedua bertuliskan:” Pikirkanlah dan bersyukurlah “. Maksudnya, pikirkan tentang Allah itu, dan kemudan bersyukurlah. Dan, papan ketiga bertuliskan:”Jangan marah”

Ketiga papan ini merupakan nasihat yang akan mengantarkan Anda kepada kebahagiaan, melalui cara yang paling singkat dan mudah. Cara seperti itu harus Anda ikuti, dengan menempelkan peringatan seperti itu ditempat yang strategis agar Anda bisa membacanya setiap saat.

Dikutif dari : Buku La Tahzan -Jangan bersedih

***

Catatan

5 orang komentator pada artikel ini akan menerima tali asih menarik yang Insya Allah akan diumumkan pada tanggal

1 Februari 2010.

  1. 24 Januari 2010 pada 20:23 | #1

    Maaf Pak terlambat…
    ketiga papan ini mengajarkan banyak hal pada kita dalam menjalani hari-hari kita di dunia….

    sederhana tapi maknanya dalam

  2. 25 Januari 2010 pada 03:04 | #2

    Apa Kabar Sahabat ?
    Sudah lama gak mampir, kangen juga neh …
    Salaam

    Alhamdulillah sehat mas, thanks kunjungannya

  3. 25 Januari 2010 pada 06:09 | #3

    Ketiga cara untuk memotivasi diri. Dengannya kita akan seperti selalu diingatkan oleh tulisan itu. Apalagi kalau ditempel di mana-mana tempat yang sering kita berada di sana. Kapan berkecamuk hati ingin marah, kita mendapat rem dari tulisan kita sendiri, yang memang bertujuan untuk menasehati diri sendiri.
    Kapan kita merasa pilu mengingat masa lalu, kita akan segera terjaga, tidak lagi tenggelam dalam kesedihan, karena kita hidup hanya hari ini. Masa lalu itu sudah mati, diratapi pun segalanya sudah terjadi. Maka hiduplah untuk hari ini.Dan berjuanglah, tak ada kata nanti, karena hari yang kita miliki hanyalah hari ini.
    Dan tentang bersyukur, selayaknyalah kita bersyukur, karena dibanding ujian, Allah lebih banyak memberikan nikmat dan karunianya. Namun segala nikmat itu takkan terasa jika tidak dengan kebersyukuran.

    Pegangan kita adalah sabar dan syukur agar tak terombang-ambing dan menyalahkan Tuhan melulu

  4. 25 Januari 2010 pada 07:31 | #4

    Dengan ketiga papan itu, semoga membuat kita untuk selalu ingat Dia, Sang Maha Kuasa atas segala-galanya yang ada… Yang bisa kita lakukan sebagai manusia, adalah berusaha dan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita.. Allah tidak menyukai hal-hal yang berlebihan, oleh karena itu, sebaiknya kita bersikap sebagaimana hamba yang baik..

    Gunakan waktu dengan sebaiknya dan bersyukurlah dengan nikmat dan cobaan yang diberikan oleh-Nya dan tahan hati dari emosi atas segala nikmat dan cobaan.

    Komentar ini juga untuk mengingatkan diri saya.. ^^

    sependapat mas, mari kita selalu ingat akan hal itu agar hidup kita selamat sampai akhirat nanti

  5. 25 Januari 2010 pada 08:51 | #5

    wow tulisan sedikit namun penuh makna

    kunjungan ea mascholik n mohon kunjungan balik hehe makasih

    terima kasih mas, Insya Allah akan berkunjung

  6. 25 Januari 2010 pada 10:47 | #6

    Assalamu’alaikum, kata-kata yg penuh makna, mengingatkan kita untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap aktifitas kita, krn tanpa ijin dan bantuan-Nya kita tidak akan mampu beraktifitas, mensyukuri semua nikmat-Nya, dan melatih kesabaran kita, karena sabar adalah kemampuan kita menahan diri. (Dewi Yna)

    Waalaikum salam, semakin hari kita memang harus semakin baik ya mbak. Thanks kunjungannya.

  7. 25 Januari 2010 pada 13:37 | #7

    Salam Gowes
    5 orang komentator pada artikel ini akan menerima tali asih menarik yang Insya Allah akan diumumkan pada tanggal 1 Februari

    Wah ikutan pak de dari anak baru
    Salam Gowes Humberqu

    silahken, selamat datang

  8. 25 Januari 2010 pada 16:39 | #8

    baru dikasih 3 papan aja, maknanya dah luas pakde, apalagi dikasih…. bukunya….he…3x!!!

    tambah gayeng mas

  9. 25 Januari 2010 pada 21:36 | #9

    selamat malam pakde.. apa kabarnya?
    alamt udah saya kirimkan pakde

    selamat malam mas, buku sudah saya kirim juga

  10. 25 Januari 2010 pada 21:41 | #10

    wah hadiah lagi ya pakde tapi mungkin saya cuma partisipasi aja ya pakde….

    “tariklah nafas sedalam mungkin kemudian hembuskan secara perlahan, nikmati hal itu berulang-ulang dan rasakan dalam hati kita, mudah-mudahan ketiga tulisan dalam papan itu akan didapat bentuknya dari nafas kita. karena bila sejenak saja nafas kita terhenti maka ketiga papan itu akan menjadi tinggal dua papan saja yang satu tertulis nama kita dan satunya lagi sebagai pembatas ujung kaki kita”

    semoga bermakna pakde dan kawan semuanya yang telah lebih dulu hadir di blog penuh gairah ini..

    selamat malam pakde…. mimpi indah lagi

    Terima kasih mas atas kunjungan dan komentar yang penuh makna,salam hangat

  11. kakaakin
    25 Januari 2010 pada 23:57 | #11

    *tertunduk lesu*
    Pakdhe, saya ngaku… saya belum pernah baca buku la tahzan :(
    Ini adalah efek yang berkepanjangan dari ‘losing my reading appetite’
    Mungkin saya termasuk orang yang tidak pandai bersyukur, karena enggan menambah asupan makanan berupa ilmu yang berharga untuk jiwa yang kering, jadinya malas mikir juga :( Mudah2an nafsu membaca saya bisa segera kembali lagi.
    Dan memang buku yang saya baca akhir2 ini hanyalah buku resep masakan…hehe… memilih2 yang mana yang bakalan dipraktekin…

    ya masih bagus ada niat mau masak nduk

  12. 26 Januari 2010 pada 13:21 | #12

    Sederhana tapi bermanfaat ya pakde :)

    benar nduk, bisa dijadikan pedoman

  13. 26 Januari 2010 pada 14:39 | #13

    terima kasih atas kunjungan baliknya salam persahabtan selalu n saling mengunjungi iya mas makasih

    sama2 mas, oke

  14. 27 Januari 2010 pada 00:43 | #14

    selamat melaksanakan ketiga tulisan di papan tersebut , selamat berbahagia senatiasa…
    saya pun akan mencoba agar bahagia senantiasa terasa…

    Matur nuwun,sama2 mas

  15. 27 Januari 2010 pada 08:23 | #15

    saya rasa ikhlas adalah kunci dari semuanya Dhe,

    Benar sekali, kalau nggak dapatb tali asih ya ikhlas, mungkin lain kali.

  16. 27 Januari 2010 pada 19:14 | #16

    ya setuju dengan pakdhe,,,
    kadang manusia saking merasa besar hatinya tanda kutip “sombong” sampai lupa bersyukur terhadap nikmat tiada tara dari tuhannya,,, (termasuk saya)
    sehingga tiap langkah dalam hidupnya tidak dihayati dan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa makna,,, tanpa rasa syukur,,, dan selalu disia-siakannya salah satunya dengan cara “marah”
    ooo,, betapa meruginya!
    semoga saya bs berbenah dan menjadi orang yang lebih baik

    tiap hari harus semakin baik tho nduk

  17. 27 Januari 2010 pada 21:47 | #17

    waah ternyata pak mas cholik pembaca Laa Tahzan
    keren dunk mas kalau bisa ngerti semua puisi-puisinya

    mbaca pelan saja mas..difahami maknanya..

  18. 27 Januari 2010 pada 23:43 | #18

    Kalimat yang penuh motivasi, semoga papannya terpatri dalam hati untuk memacu diri.

    kita pasang dimeja atau dinding kang

  19. Arwanda
    28 Januari 2010 pada 11:25 | #19

    Emmm… sepertinya saya pernah membaca sebuah novel yang memiliki kesamaan maksud, namun media untuk mencatanya adalah selembar nota, yang dapat dipasangkan dalam jarak 5 cm dari pandangan kita, sehingga pesan2 tersebut dapat terlihat setiap saat… (novelnya 5 cm)… hihihi

    Ini dari La Tahzan mas,mungkin ada kesamaan

Comment pages
1 2 3 1769
Komentar ditutup.