Beranda > Renungan > Timbangan dangdhutan

Timbangan dangdhutan

6 Mei 2009

Suatu sore saya pergi ke Jatinegara untuk mencari duku kesukaanku.Saya tanya kepada seorang ibu yang menjual duku berapa harga duku sekilonya. Si penjual balik bertanya ” Bapak mau menggunakan timbangan yang mana, kalau pakai timbangan kue ini harganya sekilo Rp.8.000 tapi kalau menggunakan timbangan kodokan harga sekilonya hanya Rp.6.000 pak “. Saya agak heran mendengar pertanyaan ibu tadi. “  Maksudnya gimana tho bu kok harganya bisa berbeda ?”, tanya saya belum ngeh. Si ibu hanya tersenyum saja dan langsung mengambilkan duku dua kilo sesuai permintaan saya dan kemudian menimbangnya di timbangan kue.Sayapun membayar Rp.16.000 sesuai harga yang disebutkan oleh ibu penjual.

Setelah sampai di mess baru saya teringat cerita orang-orang bahwa para pedagang buah sering mengurangi timbangan, terutama pedagang yang menggunakan timbangan kodokan. Mereka sengaja memberi pemberat pada sisi yang nanti akan diisi buah atau barang dagangan lain.Kita biasanya tidak mau bersusah payah mengecek kondisi timbangan yang digunakan oleh para pedagang.Jika kita membeli buah seberat dua kilo bisa saja isinya hanya 1,7-1,8 kilo saja.Ini berarti kita membayar lebih daripada yang seharusnya kita bayar.Masya Allah sampai segitukah para pedagang mencari nafkah.

Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak ahu bahwa berdagang seperti itu sangat merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun pembelinya.Untuk mencari sesuap nasi saja mereka harus berbohong. Bagaimana rasa nasi itu jika ditelan mereka? Apakah anak-anak mereka juga akan sehat dan pinter  jika uang sekolahnya dibayar dengan hasil perbuatan tidak jujur.

Lagi-lagi saya diingatkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari Sa’ad bin Umar dari pamannya :” Annannabiyya s.a.w su-ila ” Ayyul kasbi athyabu ?”

Qaala :” Amalur rajuli biyadihi, wakullu bai’in mahbruurin”

artinya : Rasulullah s.aw ditanya (tentang) apakah pekerjaan yang paling baik ? Rasulullahbersabda :” (yang paling baik) “ialah pekerjaan seseorang dengan usaha(tangan sendiri) dan perdagangan yang bersih”

Semoga para pedagang yang tidak jujur tadi diampuni dosanya oleh Allah Swt.

  1. 12 Januari 2010 pukul 20:31

    Pakde, ntah ini oot ato masih ada kaitan nya..
    seringkali saya ga paham, orang tua yg mencari nafkah ga halal kenapa harus anaknya yg kena petaka..
    kan bukan keinginan anak dikasih makan dg cara ga halal, kenapa harus anak yg menanggung nya..
    itu yg sampe skrg saya ga ngerti.. maklum kurang ilmu

    ya itu adzab untuk orangtua,pasti dia akan menderita kalau anaknya sengsara kan.Soal anaknya yang kena petaka itu sebaiknya ditanyakan kepada Tuhan langsung.

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: