Beranda > Renungan > Jangan jadi kambing qurban

Jangan jadi kambing qurban

8 Mei 2009

Penduduk yang tinggal didekat Situ Gintung itu pasti tak akan menyangka bahwa ajal akan menjemput mereka.Pasalnya danau itu jebol waktu dinihari ketika mereka tengah terlelap tidur.Ratusan nyawa terenggut bersama dengan porak-porandanya rumah beserta isinya.Desa yang sebelumnya tenang itu mendadak jadi buah bibir,menjadi bahan pemberitaan dikoran dan di televisi.Padahal tak terlalu jauh dari tempat itu -di rumah sakit yang tersebar di Jakarta- puluhan atau bahkan ratusan manusia mungkin sedang mengerang-erang karena sakit yang dideritanya.Penderita kanker,demam berdarah,ginjal,jantung dan penderita-penderita penyakit berresiko tinggi lainnya seolah menghitung hari-menunggu sang malaikatul maut menjemputnya.

Itulah hidup dan itu pula takdir.Rejeki,jodoh dan kematian tak ada yang bisa memprediksi.Semua pasti tahu bahwa kematian pasti akan datang jika tiba saatnya dan tak seorangpun yang mampu mengelakkan,memohon penundaan atau percepatan kedatangannya.

Allah Swt telah menuliskan kapan kematian manusia itu akan datang, namun tak seorangpun yang tahu.Malaikat pencabut nyawapun seolah mempunyai pedoman pokok tentang pencabutan nyawa manusia yang saya istilahkan menjadi” 3 tak peduli” yaitu :

1. Tak peduli berapa umurmu.Kakak saya meninggal dunia pada usia 2 tahun. Sedangkan ibu yang melahirkannya sampai sekarang Alhamdulillah masih sehat walafiat.Demikian pula keponakan,sepupu serta tetangga-tetanggga ibu yang usianya lebih muda sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.Ini berarti mati bukanlah berdasarkan ututan tahun kelahiran.Belum tentu yang usianya lebih tua meninggal dunia lebih dulu daripada yang muda.

2.Tak peduli siapa kamu.Ajal juga tak memandang derajat,pangkat,kedudukan maupun tingkat sosial manusia. Seorang Jenderal tidak harus mati belakangan setelah kopral walaupun diderah pertempuran si kopral tugasnya paling depan.Panglima yang bersenjata lengkap dan dikawal ratusan kendaraan berlapis baja tetap tidak bisa menghindar dari kematian.Kematian dini  juga bukan monopoli orang-orang miskin yang mungkin sedang kelaparandan kehausan.Jongos juga belum tentu mati lebih dulu dari sang majikan, demikian pula sebaliknya.

3. Tak peduli sedang apa kamu.Dari peristiwa Situ Gintung diatas sudah jelas bahwa kematian datang kapan saja.Mereka yang sedang terlelap tidurpun ternyata bisa mati tanpa didahului sakit. Sementara yang sedang sakit dan tergeletak dirumah sakit mungkin masih hidup hingga kini. Seseorang bisa mati ketika sedang sujud dalam sholatnya.Nasruddin Zulkarnain meninggal dunia justeru ketika sedang berada dimobil mewahnya.Tak jarang kisah sedih namun memalukan menimpa sebuah keluarga ketika sang kepala rumah tangga meninggal dunia disebuah kamar hotel bersama teman wanitanya.Kita tentu masih ingat beberapa prajurit TNI meninggal dunia ketika pesawatnya jatuh dan terbakar beberapa waktu yang lalu.Sementara ribuan prajurit yang sedang bertempur masih dalam keadaan segar bugar dan kembali dengan selamat dari daerah operasi.Kita juga tak bisa melupakan begitu saja korban-korban tsunami dan korban peledakan bom di Kuta beberapa tahun yang lalu.Semuanya membuktikan bahwa kematian tak memandang tempat, waktu dan sasarannya.

Renungan :

1. Tentang kematian setiap manusia dan bahkan setiap makhluk yang bernyawa telah difirman Allah Swt dalam QS.Ali Imran :185QS ALI IMRAN 185 Kullu nafsin

Kullu nafsin dzaa iqatul maut ..”,yang artinya : setiap yang bernyawa akan merasakan mati ..”

2.Karena kematian datangnya tidak kita ketahui maka sudah wajib hukumnya bagi kita untuk menyiapkan bekal sebelum menghadap Sang Pencipta.Anehnya,masih banyak yang menganggap enteng masalah ini. Mungkin mereka menganggap bahwa kematian masih lama datangnya sehingga masih tersedia waktu untuk bersiap diri.

3.Kadang manusia tidak ingat bahwa ajal akan tiba. Ketika mereka ikut mengantar jenazah kekuburan juga tak menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan bahwa sebentar lagi mereka juga akan menyusulnya.Mereka masih tetap bercanda dan tertawa manakala jenazah dimasukkan keliang lahat.Kata seorang ustad mereka ini mirip kambing qurban.Pada saat didepan matanya ada teman yang disembelih masih ada kambing jantan yang asyik bercumbu dengan sang betina.

Kita bukanlah kambing qurban. Kita mesti bertadabur ketika sebuah kematian melintas didepan mata.

Semoga bermanfaat.

  1. 20 Mei 2009 pukul 12:50

    isinya bagus

  2. 30 Oktober 2009 pukul 11:06

    Sangat bagus artikelnya…

    terima kasih apresiasinya

  3. 12 Januari 2010 pukul 19:51

    iya pakde.. saya juga tidak tau dg cara bagaimana saya dipanggil..
    tp kapanpun itu saya hanya berharap semoga saya kembali dg khusnul khotimah
    amin ya Robb..

    Amin ya rabbal alamiin

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: