Beranda > Kisah berhikmah > Luruskan niat

Luruskan niat

12 Mei 2009

Kejadiannya sudah luaaamaa sekali yaitu tahun 1965-1966an.

Setelah peristiwa G.30.S/PKI meletus mendadak mushola kakek saya penuh sesak. Banyak tetangga yang ikut sholat magrib bejamaah dan tampaknya mereka adalah wajah-wajah baru-setidaknya wajah baru di mushola kakek. Rasanya tidak sopan kalau saya katakan bahwa mereka sholat karena takut dicap “bukan orang Islam” atau diberi label macam-macam. Maklum waktu itu rumah saja ada label atau tulisannya. Ada yang dinding dan atap rumahnya  ditulisi kata “NU” dengan cat warna hijau. Ada lagi yang ditulisi kata “Ikut Barisan Soekarno” dengan tulisan warna merah.Bagi mereka yang mempunyai saudara atau famili yang menjadi anggota ABRI rumahnya ditulisi “Keluarga ABRI” atau“Keluarga Anggota ABRI”.

Saya sendiri waktu itu baru duduk di kelas 2 SMP. Saya belum faham betul tentang situasi yang sebenarnya.Saya hanya bisa bilang barangkali banyak orang yang ketakutan “diapa-apakan”. Setiap malam didesa banyak orang yang berjaga-jaga, bahkan ada yang tidak berani tidur didalam rumah.Mereka lebih senang tidur ramai-ramai didepan rumah sambil jagongan.Tiap mulut gang diberi penghalang dari kayu atau bambu yang masih ada durinya.Setiap ada mobil lewat mereka tampak tegang, jangan-jangan salah satu atau beberapa orang “diambil”.

Kembali ke soal sholat tadi.Hampir tiap malam mushola kakek jadi ramai.Ada juga tetangga yang mengirim makanan untuk para jamaah.Saya lihat ada bapak-bapak yang tampaknya masih baru belajar sholat. Mereka masih menengok kiri-kanan melihat gerakan jamaah yang memang sudah terbiasa sholat.

Namun rupanya kegiatan sholat itu makin lama makin berkurang jumlah jamaahnya dan akhirnya mereka yang tadinya nglurug sholat di mushola kakek sudah tidak pernah datang lagi.Situasi tampaknya sudah pulih kembali. Jamaah yang sholat dimushola kakek kembali seperti semula yaitu”orang-orang lama”. Saya tidak tahu apakah jamaah-jamaah baru tadi melanjutkan sholat dirumahnya atau “back to basic” alias tidak sholat lagi.Jika mereka tidak sholat lagi berarti mereka sholat hanya karena takut kepada manusia, takut diberi label “sebagai anggota partai terlarang” dan bukan dilatar-belakangi oleh kesadaran,keihlasan dan niat untuk beribadah kepada Tuhan.

Hikmah dari kisah ini.

1. Agar ibadah kita memenuhi syarat untuk diterima oleh Allah Swt maka harus dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas artinya ibadah kita benar-benar ditujukan untuk Allah bukan karena ada niat-niat lain. Sedangkan benar artinya ibadah itu harus dilakukan sesuai syariat agama.

2. Rasulullah Saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nasa-i:

Ikhlas dalam beramal.Laa yaqbalullaahu minal ‘amali,illa maa kaana lahu khaalishan’,wabtughiya bihii wajhuhu

artinya

Bahwasanya Allah tidak akan menerima sesuatu amal,melainkan amal yang dikerjakan karena ikhlas terhadap Allah semata-mata dan menurut keridhoan-Nya

  1. wahyu am
    12 Mei 2009 pukul 14:42

    Makasih atas postingannya.
    Sangat bermanfaat.

  2. 31 Mei 2009 pukul 11:19

    keren bos…sabar dan ikhlas dalam setiap ibadah di dunia ini…🙂

  3. 12 Januari 2010 pukul 19:42

    iya.. bener banget..
    dan yg tau ikhlas beneran ato bukan ya cuma Allah, ybs maupun yg lihat ga bisa menilai..

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: