Beranda > Renungan > Biarlah rakyat ngomong penggusuran terus berlaku

Biarlah rakyat ngomong penggusuran terus berlaku

15 Mei 2009

Penggusuran dikota Surabaya telah memakan korban. Seorang balita-anak pedagang bakso ini terpaksa harus dirawat dirumah sakit karena badannya melepuh akibat terguyur kuah bakso pada saat dilakukan penertiban  pedagang kaki lima di Jalan Boulevard Surabaya.Tak pelak lagi seorang petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja dijadikan tersangka dengan sangkaan lalai yang mengakibatkan orang lain luka.

Surabaya-sama halnya dengan kota-kota lain di Indonesia saat ini memang sedang gencar melakukan berbagai penertiban dan penggusuran. Saat ini yang sedang berjalan adalah penggusuran rumah penduduk di bantaran sungai di kawasan Jagir Wonokromo.Gerakan penertiban ini juga akan melanda perumahan atau kios-kios di sepanjang Jalan Nias-Surabaya yang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Gubeng.

Bantaran Kali

Walaupun sebelum penggusuran dan penertiban sudah diberikan sosialisasi secara bertahap,bertingkat dan berlanjut tetap saja gerakan penertiban dan penggusuran seperti ini mengundang protes dari rakyat yang tergusur.Aksi protes biasanya berupa penghadangan sebelum penertiban dilakukan,teriakan, caci maki dan bentuk perlawanan lain pada saat penggusuran atau penertiban dilakukan dan aksi demonstrasi atau unjuk rasa paska penggusuran.Biasanya yang menjadi sasaran unjuk rasa adalah kantor wakil rakyat dan kantor pemerintah daerah (Pemda Tingkat I dan pemda tingkat II)Tentu ada juga pihak ketiga yang ikut meramaikan protes atau sekedar mengemukakan pendapatnya. Kalangan LSM, anggota Dewan,kalangan perguruan tinggi ,para pengamat dan elemen masyarakat ain yang peka terhadap masalah sosial seperti ini rajin menyampaikan pendapatnya.

Dalam gerakan penertiban atau penggusuran seperti ini tentu pihak-pihak yang terkait mempunyai alasan sendiri-sendiri.

1. Pihak Pemda:

-Para pedagang kaki lima umumnya menyebabkan kemacetan lalu lintas karena menggunakan badan jalan untuk tempat berjualan.

-Adanya pedagang kaki lima mengakibatkan kota menjadi tampak kumuh dan semrawut.

-Para pemilik rumah (liar) yang ada dibantara kali umumnya tidak mempunyai ijin mendirikan bangunan serta bisa melemahkan tanggul kali sehingga bisa menimbulkan bencana banjir.

-Bangunan (liar) yang ada disekitar rel kereta bisa membahayakan penduduk itu sendiri dan membahayakan kereta api(termasuk penumpangnya)

-jauh-jauh hari sebelum penggusuran atau penertiban sudah diberikan sosialisasi melalui surat maupun penerangan langsung.

-Bagi penduduk yang tergusur akan disiapkan rumah susun (tentunya dengan pembayaran yang akan diatur lebih lanjut)

b. Korban penggusuran atau penertiban.

-Mereka mengaku sudah bertahun-tahun tinggal dikawasan tersebut.

-Sudah membayar retribusi, sudah memiliki Kartu Susunan Keluarga dan KTP.

-Jika harus tinggal dirumah susun berarti mereka harus mengeluarkan biaya lagi baik untuk membayar/mencicil rumah susun maupun biaya-biaya lain untuk kebutuhan sehari-hari ( naik angkot ketempat kerja,ongkos angkot untuk anak yang sekolah, dan lain-lain)

-Petugas penggusuran dinilai arogan, kasar dan tidak manusiawi.

-Tidak ada tempat tinggal lagi setelah rumah(liarnya) digusur.

-Penempatan pedagang kaki lima disuatu tempat tertentu kadang sepi pengunjung sehingga barang dagangannya tidak/kurang laku.

c. Pihak ketiga

– Penggusuran rumah dan penertiban pedagang kaki lima merupakan tindakan yang bersifat parsial karena hanya menghilangkan kulit-kulitnya saja tanpa menangangi akar permasalahannya.

– Penggusuran rumah dan penertiban juga dinilai diskriminatif karena yang menjadi obyeknya hanya masyarakat kecil dan miskin. Selain itu penertiban biasanya hanya dilakukan dijalan-jalan protokol saja.

-Penggusuran dan penertiban hanya semakin memiskinkan rakyat yang sudah miskin tanpa ada solusi yang jelas untuk mengangkat mereka dari kemiskinannya.

Renungan dari kisah diatas.

1. Keberadaan rumah(liar) dan pedagang kaki lima disuatu tempat sepertinya merupakan lingkaran setan.Dipihak rakyat merasa sudah mendapatkan ijin atau legal dengan diberikannya KTP dan KSK dan mungkin sudah membayar retribusi ( ssst…mungkin ada iuran lain-lainnya dari para preman misalnya).Sedangkan dari pihak pemerintah daerah tidak merasa memberikan ijin (mungkin oknumnya) namun kesannya membiarkan keberadaan rumah liar atau PKL. Jika memang melanggar peraturan seharusnya mereka sudah dilarang ketika baru 1-2 rumah yang berdiri.

2. Peraturan,hukum,undang-undang dan produk-produk pengaturan lainnya kadang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya dan tidak diawasi dengan ketat.Olok-olok“undang-undang dibuat kan memang untuk dilanggar” seolah membenarkan kalimat diatas.

Kategori:Renungan
  1. 12 Januari 2010 pukul 19:35

    bener deh lingkaran setan..
    pusing tuh urusan beginian.. antara kasihan dg yg digusur dg menegakan aturan supaya kota bersih teratur & aman..
    gatau ah, biar yg digaji utk mikirin ini aja yg mikir, gaji saya ga cukup buat mikirnya..
    hahahaaa.. kalo pun dikasih gaji yg cukup bertugas mikirin ginian, saya yakin ga sanggup kok..
    serahkan saja pd ahlinya.. saya rakyat biasa😀

  2. 22 Mei 2010 pukul 20:06

    (Artikel ini ada di google dengan keyword rakyat ngomong), Salah Mas kalau UU/ hukum dibuat u/ dilanggar. Istilah itu sangat merusak dan menjadi penyakit di negeri ini jika terus dilestarikan. Tapi memang susah juga dapet amanat jadi pemerintah, kok malah banyak yang seneng ya? Padahal resikonya akhirat lo…

    Olok-olok”undang-undang dibuat kan memang untuk dilanggar” seolah membenarkan kalimat diatas.
    Olok2 seperti ini kan sering terdengar mas.Saya sendiri dulu juga penegak hukum. bagi kami tindan tegas sesuai hukum yang berlaku tetap penting. thanks

  3. 4 Juni 2010 pukul 14:38

    Sip, mas… Tukeran link yuk?

  4. 15 Juni 2010 pukul 09:23

    Huawa, blogku yang rakyat ngomong digusur google….

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: