Beranda > Opini > Kriwigan dadi grojogan

Kriwigan dadi grojogan

24 Mei 2009

Kriwigan dadi grojogan adalah pepatah dalam bahasa Jawa yang maknanya masalah kecil menjadi membesar.

Pagi ini TV One memberitakan terjadinya tawuran antara dua kubu di Lombok Tengah-NusaTenggara Barat.Tawuran tidak hanya melibatkan orang-orang dewasa laki-laki tetapi juga anak-anak dan perempuan.Kaum perempuan selain menyiapkan amunisi berupa batu juga ada yang ikut aktif sebagai “pasukan penyerang”. Dilayar televisi secara jelas saya lihat seorang ibu yang membawa tombak dan dengan gagahnya memegang tombak sambil menatap tajam kamera tv.

Tawuran dua kubu yang pemukimannya berdekatan dan hanya dibatasi oleh jalan raya ini diberitakan sudah sering terjadi seolah merupakan tradisi.Masalah yang menjadi pemicu terjadinya tawuran juga hal-hal yang sepele misalnya kebut-kebutan sepeda motor.

Dalam tawuran di Lombok Tengah ini beberapa orang dikabarkan menderita luka-luka.

Upaya mediasi sudah sering dilakukan baik oleh tokoh agama,tokoh masyarakat maupun aparat pemerintah namun tawuran demi tawuran masih berlangsung

Mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi mendengarnya. Hampir setiap minggu, media massa menyodorkan kepada kita tentang masalah sosial tersebut. Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Segala sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan cara damai, jawabannya pasti dengan tawuran. Bukan hanya tawuran antar pelajar atau warga saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak atau elektronik, tetapi aparat pemerintah pun sepertinya tidak ingin ketinggalan pula(http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=688

Saya kadang heran mengapa bangsa Indonesia yang dikenal sebagai “bangsa yang ramah tamah” ini mudah terbakar emosinya.Sebentar-sebentar berita tawuran muncul di media.Unjuk rasa berlabel“akasi damai” juga sering berbuntut kericuhan bahkan tak jarang berakhir dengan bentrok,pengrusakan,pembakaran dan aksi-aksi anarkhis lainnya.Pagelaran musik yang seharusnya untuk vitamin batiniah malahan menjadi ajang perkelahian.Pertandingan sepakbola bertajuk“Pertandingan persahabatan” sering diselingi show pengeroyokan terhadap pemain dan wasit.

Ketika terjadi tawuran antara dua kelompok di Jakarta Timur beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir” Mereka yang berkelahi ini sepertinya bukan semuanya dari kalangan orang-orang berada. Nah kalau sampai ada yang luka parah siapa yang akan membiayai pengobatannya”. Urunan,gotong royong untuk  tambahan biaya berobat pasti akan menambah beban mereka yang hidupnya sudah sangat pas-pasan. Mengapa kehidupan yang susah itu harus ditambah lagi dengan beban-beban yang tidak bermanfaat.

Tawuran di MatramanTawuran dengan saling lempar batu di daerah Matraman, Jakarta 13 Juli 2000.http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.tempo.co.id/hg/photostock/2005/01/03/s_30d47801_high_thumb.jpg

Loyalitas,rasa setia kawan,solidaritas  atau jiwa korsa sering ditempatkan secara salah sehingga yang muncul adalah loyalitas sempit dan membabi buta dan salah arah.

Saya yakin, orang-orang yang terlibat dalam tawuran itu adalah orang-orang yang beragama.Dikemanakan ajaran agama pada saat mereka sedang merencanakan aksi tawuran itu sehingga keputusan yang diambil adalah “perkelahian berjamaah “? Mengapa dalam menyelesaikan persoalan sepele itu tidak muncul pikiran ” Ini masalah sepele,mari kita selesaikan secara damai karena mereka adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita juga “

Rasulullah saw bersabda :” alaa ukhbirukum biafdlala miin darajatishshiyaami washshalaati washshadaqati ? Qaaluu balaa.Qaala ishlaahu dzaatilbaini,fainna fasaada dzaatilbaini hiyalhaaliqatu”

artinya : Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa,sholat dan shadaqoh?”. Jawab sahabat :Tentu mau”.Sabda Nabi saw :” yaitu mendamaikan diantara kamu, karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama”.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kepada penganutnya untuk menyelesaikan persoalan dengan tawuran.Tawuran,apapun alasannya jelas merugikan. Merugikan diri sendiri,merugikan masyarakat dan merugikan bangsa secara keseluruhan.

Bangsa yang ramah tamah bukanlah bangsa yang gagah karena bisa tawuran tetapi bangsa yang menampilkan senyum perdamaian kepada siapapun.

Jadi marilah kita ciptakan perdamaian !!

  1. Gerry
    15 Juni 2009 pukul 13:13

    Woi! Sebaiknya skull yg ada di matraman.. Bantai ae nk boedhaya 119! Krna th skull stronk abiezz
    tlong dbntai ye!

    Salam nak boedhaya 119

    • 15 Juni 2009 pukul 14:27

      -Terima kasih kunjungannya
      -salam

  2. 12 Januari 2010 pukul 16:20

    stereotype ramah tamah itu dulu, skrg lebih pantes dibilang pemarah.. sebentar2 marah..
    ga di jalan ga di rapat, semua mau nya marah2..
    makanya saya males liat tipi *kebeneran skrg rusak* kl pun nonton tipi saya pilih kuis, musik, kartun ato sinetron streaming! biarin deh, skaliyan cuci mata, ketimbang setres liat org berantem

    saya juga, enakan nonon sinetron,lihat yg bening2, daripada lihat orang2 sok pinter

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: