Beranda > Renungan > Tukang parkir cacat dan pengemis

Tukang parkir cacat dan pengemis

30 Mei 2009

Jl. Jemursari Surabaya,Kamis 28 Mei 2009 jam 11.30.

Saya belokkan mobil kesebuah bank (sssstttt…tanggal tua..nyedot ATM) dan sayapun ancang-ancang untuk parkir. Masya Allah tukang parkirnya seorang laki-laki yang (maaf) kakinya buntung pada kedua lututnya.Pak tukang parkir yang tidak muda lagi itu dengan lincah mengarahkan maju-mundur,kiri-kanan agar mobil bisa parkir dengan rapi sambil sekali-kali meniup peluitnya. Saya tidak sempat memperhatikan apakah tukang parkir itu memakai alas pada kedua lututnya.Maklum udara waktu itu cukup panas sehingga aspalpun tentu ikut terpanggang. Tanpa alas lutut pasti lutut pak tukang parkir akan kepanasan ketika menapak di aspal dan bisa lecet terkena goresan aspal.

Saya juga tidak tahu pasti apakah uang hasil parkiran itu untuk dirinya sendiri ataukah sebagian daripadanya disetorkan kepada “pihak-pihak yang berhak menerimanya”. Maklum dinegeri ini selain ada badan pengelola perparkiran juga ada kelompok-kelompok atau pribadi-pribadi yang mewajibkan juru parkir menyisihkan sebagian rejekinya untuk mereka, preman.

Tukang parkir cacat seperti yang saya lihat tadi jumlahnya tidak terlalu banyak.Angkanya masih dibawah pengemis yang jumlahnya semakin banyak dan tersebar diperempatan jalan dan lampu merah.Pengemispun ada yang mandiri dan juga ada “coordinated beggar”. Yang belakangan ini tentu juga harus menyetorkan hasilnya kepada sang koordinator.Pengemis juga ada yang tanpa alat, ada juga yang menggunakan sarana berupa seorang anak balita  yang digendongnya.Balita ini mungkin anaknya sendiri dan mungkin juga di”rental” dari pihak penyedia.

Tukang parkir cacat dan pengemis memang mempunyai persamaan yaitu “sama-sama tidak malu” dengan konotasi yang berlawanan. Tukang parkir cacat tadi tidak malu tampil dimuka umum untuk bekerja mencari nafkah secara halal dan pengemis juga tidak malu tampil dimuka umum untuk menadahkan tangannya-minta-minta uang untuk makan sehari-hari dan sekedar membeli pulsa,kambing atau kerbau.Pengemis muda dan sehatpun tidak malu-malu melipat sebelah kaki dan menutupinya dengan celana komprang guna menimbulkan kesan sebagai “pengemis berkaki buntung”

Soal malu dan tidak malu ini ,ada sebuah syair yang bagus yang saya kutip dari buku Intisari Tafsir Hadits Aba’in -An-Nawawiyyah-Syaikh Abdullah bin Shaleh al-Muhsin.Ini dia syairnya :

Apabila kamu tidak takut terhadap akibat yang menimpa dan tidak merasa malu,maka lakukanlah apa yang kau inginkan.

Demi Allah,tidak ada kebaikan dalam hidup dan dunia ini,jika rasa malu telah lenyap.

Apabila kamu tidak menjaga kehormatan dan tidak takut pada Allah Swt serta tidak malu pada manusia,maka perbuatlah apa yang kamu inginkan.

Banyak perbuatan buruk yang tidak ada halangan antara aku dan keinginanku melakukannya,selain rasa maluku.

Maka rasa malu adalah obatnya.Apabila hilang rasa malu,maka tak adalah obatnya.

Syair diatas untuk melengkapi uraian penjelasan dari sebuah hadits tentang keutamaan memiliki rasa malu.

Dari Abu Mas’ud  ‘Uqbah bin ‘Amru al-Anshari al-Badri,r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda :”Perkataa kenabian yang pertama yang diterima oleh manusia adalah :’apabila kamu tidak mempunyai rasa malu,maka lakukanlah apa yang kamu maui ” (HR.Bukhari)

Mari kita renungkan.

  1. kotakendari
    30 Mei 2009 pukul 07:59

    budaya malu, sudah hampir hilang dari negri ini.
    lihat saja mereka yang masih memiliki badan yang sehat, tapi tetap memilih ngemis.

    • 30 Mei 2009 pukul 09:16

      -bener mas dan jumlahnya makin banyak,mereka malas,mau enknya saja.
      -salam

  2. 30 Mei 2009 pukul 11:30

    “Hare gene malu? Gak jaman,,,”
    Nah inilah ungkapan pergeseran moral negara kita,,,
    memang ada benarnya ungkapan diatas, tapi harus disadari juga sejauh apa kita harus ‘tidak punya malu’.

  3. zendy prasetya
    2 Juni 2009 pukul 15:50

    ada sebuah ungkapan di surabaya
    lek sungkan g uman !
    (baca : kalau malu ya tidak kebagian !)

  4. 3 Juni 2009 pukul 11:19

    ya gitu negeri ini…
    mana bisa maju…wong pengangguran+pengemis makin buanyyakkk…

  5. 12 Januari 2010 pukul 13:26

    itulah..!
    malah yg saya dengar katanya pengemis jakarta rumah nya di kampung mencapai 1 milyar harga nya!
    waduh..!

    tapi apa enaknya hsil mengemis

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: