Beranda > Renungan > Blantik

Blantik

1 Juni 2009

Famili saya dulu bekerja sebagai blantik yaitu pekerjaan jual-beli hewan ternak berupa kambing,kerbau atau sapi. Dia membeli hewan milik tetangganya kemudian dibawa kepasar hewan untuk dijual lagi.Keuntungan hasil penjualan hewan itulah yang dipergunakan untuk menghidupi keluarganya,termasuk untuk membiayai anak-anaknya yang sekolah.Setelah beliau meninggal ternyata tidak ada satupun anak-anaknya yang melanjutkan pekerjaan sebagai blantik.Ketika saya tanyakan kepada Chanan-anak pakde saya yang paling besar mengapa tidak ada yang meneruskan pekerjaan bapaknya, Chanan menjawab : ” Dilarang oleh bapak karena blantik biasanya banyak berbohong ketika menjual hewan dagangannya. Misalnya blantik membeli hewan dari tetangganya Rp.500.000 kemudian dipasar ditawarkan dengan harga Rp. 800.00.Ketika ada pembeli yang menawar Rp.500.000 blantik bilang “Wah belum bisa pak, belinya saja sudah Rp.650.000 “.

Saya manggut-manggut mendengar penuturan polos famili yang sekarang memilih jual-beli besi tua.

“Lha kan blantik harus mendapat untung cak,kalau tidak untung berarti hanya kerja bakti namanya”, kata saya mencoba membela bapaknya.“Mencari untung kan tidak harus berbohong “, ujarnya.” Ya bilang dengan jujur saja bahwa kambing saya beli Rp.500.000, tetapi kan saya juga hilir-mudik dan perlu ongkos.Kalau mau ya sampeyan beli Rp.600.000″.Untung Rp.100.000 itu sudah cukup besar kan “, kata Chanan menambahkan.

Saya setuju dengan pendapat cak Chanan.Pedagang sebaiknya jujur agar rejeki yang diperolehnya halal dan barokah. Guyonan berbunyi ” yang haram saja susah apalagi yang halal”, hendaknya tidak diucapkan lagi.Sayapun yakin bahwa masih banyak blantik-blantik yang jujur.

Dalam bidang muamalah cukup banyak hadits yang menerangkan etika dalam dunia jual beli. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Annannabiyya s.aw su-ila : “Ayuhal kasbi athyabu ?” , Qaala : “amalur rajuli biyadihi,wakullu bai-‘in mabruurin “

artinya : Rasulullah s.a.w ditanya (tentang) apakah pekerjaan yang paling baik ? Rasulullah bersabda :(yang paling baik) ialah pekerjaan seseorang dengan usaha (tangan sendiri),dan perdagangan yang bersih ” (H.R Al Hakim dari  Sa’ad bin Umar dari pamannya)

2. Afdhalul kasbi :bui’un mabrurun, wa amalurrajuli biyadihii.

Yang artinya : Mata pencaharian yang paling utama adalah : jual beli yang jujur dan baik,dan penghasilan seseorang atas hasil karya tangannya sendiri.

3.Maa akala ahadun tha’aaman khairun min an ya’kula min ‘amali yadihi, wa inna nabiyallahi dawuda ‘alaihissalam kaana ya’kulu min ‘amali yudihi“,

yang artinya ” Tidak ada seseorang yang makan makanan yang lebih baik dari orang yang makan dari hasil usahanya sendiri (hasl tangannya),sesungguhnya nabiyullah Dawud a.s makan dari hasil usahanya sendiri ” (H.R BUkhari)

4. Afdhalul mu’miniina rajulun samal bai’a.samahasy syarraa-a,smahal qadhaa-a,samahal iqtidhaa-a”

yang artinya ” Orang mu’min yang paling utama (baik) ialah orang yang memudahkan penjualan,memudahkan pembelian,memudahkan membayar hutang dan meudahkan memberikan pinjaman ” (H.R Thabrani )

Semoga saudara-saudara kita yang melaksanakan pekerjaan jual-beli telah memahami hadits diatas.

ps hewan pandanrejoPemandangan di pasar hewan Pandanrejo Kabupaten Purworejo

Kategori:Renungan Tag:, , , , ,
  1. 1 Juni 2009 pukul 10:55

    “Allah telah menghalalkan Jual-Beli dan mengharamkan Riba” …. bagaimana dengan sistem perekonomian indonesia yang katane cenderung neolib … bukan kah itu riba ?

    http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/30/sejarah-utang-negara-peng-utang/

    Salam

  2. 1 Juni 2009 pukul 11:11

    -Masalah neolib di Indonesia masih debatable mas.
    -Thanks kunjungan dan komentarnya.
    -maju terus

  3. 1 Juni 2009 pukul 16:36

    Mungkin menjadi blantikpun sebetulnya tak masalah, asal tak bohong….lha kan nggak perlu bilang berapa ambil kulakannya. Lagipula, siapapun tahu, harga hewan adalah= harga pokok+biaya operasional (makanan hewan, biaya orang yang mencarikan makanan +biaya pemeliharaan) + margin.+risiko

    Banyak kan sebetulnya tambahannya, diluar harga pokok ambil hewannya, karena ada risiko mati, risiko tak dapat makanan untuk makanan hewan, dan siapapun yang jualan butuh margin (keuntungan)

    • 1 Juni 2009 pukul 19:10

      -setuju bu ambil untung,tapi mbok yaaa jangan bohong.
      -banyak orang jualan yg bilang gini” Ini tak kasih harga murah lho pak, saya gak ambil untung kok”. Halaaah..jualan kok gak cari untung sihhh…ngono yo ngono tapi mbok ojok ngono he..he..he
      -matur nuwun kunjungan dan komentar ibu
      -salam

  4. 1 Juni 2009 pukul 18:59

    tergantung keimanan seseorang mas… soale kalo jujur takut ga untung hehehe… padahal rizqi itu kan sudah di atur ma Alloh kan…?
    nice post… salam kenal… kalo ada waktu, kunjungan balik ya

  5. 1 Juni 2009 pukul 19:08

    -benar,rejeki sudah tahu alamat kita kok.
    -tapi namanya yaaa ada aja.
    -thanks kunjungan dan komentarnya
    -salam

  6. 23 Februari 2010 pukul 04:38

    susah bener emang jd pedagang.. saya ngerasain
    cuman dasar saya lugu bener siy, sulit bohong, kl ditanya brapa untung nya ya saya bilang aja *walo berat siy* hehe
    tp lega, jd dia tau lha emang segitu. jd mau beli sukur ga jg ga papa. masa saya ga boleh untung.. heheee

    ya jangan sampai buntung yank

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: