Beranda > Renungan > Dupak Kuli

Dupak Kuli

8 Juni 2009

Seorang senior asal Jombang yang kebetulan menjadi guru saya di Pusdikpom Cimahi pernah mengatakan bahwa dikalangan orang Jawa (dulu) terdapat tiga pola hubungan antar manusia yang diistilahkan dengan: Esem Bupati, Semu mantri dan Dupak Kuli. Disini Bupati adalah paling senior (atasan, orang yang tua dan sejenisnya), Mantri berada pada urutan berikutnya,kuli tentu yang paling rendah tingkatannya(bawahan,orang yang lebih muda)

Berikut diberikan contoh untuk memudahkan penggambarannya.

1.Esem Bupati  ( Senyum Bupati )

Ketika sedang menghadap Raja, entah karena takut atau grogi mendengar pertanyaan-pertanyaan sang Raja, si Bupati jebol pertahanannya dan dari knalpotnya keluar angin yang baunya bisa membuat  prameswari raja semaput. Semua yang hadir pada majelis pisowanan agung tersebut mengernyitkan dahi.  Si Bupati kemudian melempar senyum kepada ki Demang bawahannya.  Si Demang tanggap ing sasmitho dan langsung menghaturkan sembah kepada Raja sambil berkata

“ Mohon ampun Baginda. Saya sungguh tidak bermaksud kurang ajar tetapi saya benar-benar sedang sakit perut ,sekali lagi mohon ampun !! “

Disini si Mantri faham betul makna senyuman sang bupati,makanya dia segera pasang badan dengan mengaku bahwa dialah yang  menjatuhkan bom napalm yang baunya amit-amit itu untuk menjaga derajat dan martabat atasannya.

2. Semu Mantri ( Sindiran Mantri )

Ketika sedang melaksanakan turne ( kunjungan incoqnito – bukan turu kana turu kene lho ), lewatlah beberapa gadis cantik.  Sang Bupati tersenyum sambil ngelus-ngelus jenggotnya. Si Mantri tanggap ing sasmitho. Langsung berkata kepada ki Demang “  Wah, prawan kene ayu-ayu tenan yo Ki “

Ki Demang yang sudah faham benar  adat atasannya langsung merencanakan “ Operasi  Bulan Purnama “

Paginya ki Demang mendapat rejeki nomplok, sang Bupati menambah isi kantong Ki Demang, juga satu stel baju beskap dan blankon gres hadiah dari Mantri.

Tiga bulan kemudian salah satu dari perawan cantik tadi secara resmi menjadi selir kedua sang Bupati.

Dalam kasus ini si Mantri mengerti makna sindiran atasannya.

3. Dupak Kuli.

Setelah hampir dua jam berjalan mengelilingi wilayah, sang Bupati mengajak stafnya istirahat sejenak di bawah pepohonan yang rindang. Sambil kipas-kipas ria, sang Bupati bolak-balik mengelus lehernya.

Karena semua kelelahan, tak ada satupun anggota rombongan yang memperhatikan bahasa tubuh sang Bupati.

Sang Bupati yang sudah sangat kehausan langsung berteriak “ Ajudan, kamu kok plonga-plongo saja, cepat cari es degan, saya haus tauuuuuuuuuuu!!!”

Sang ajudan bak seorang kuli, baru bekerja setelah di dupak ( ditendang )

Pola hubungan seperti diatas kemungkinan masih kita jumpai dimasa sekarang.

Menghadapi atasan yang berperilaku aneh memang perlu kecerdasan sekaligus kearifan yang luar biasa. Jika salah bersikap maka kita harus siap-siap menghadapi kemungkinan kurang baik atau buruk sama sekali. Kita bisa nggak naik pangkat, di geser dari jabatan atau minimal dianggap sebagai bawahan yang “ hamung ngerti hak, ning nora ngerti kewajiban “

Tapi jika anda memang orang hebat dan berani menanggung resiko tetaplah berprinsip “ saya bukan bekerja untuk kepentingan pribadi atasan, tetapi untuk institusi saya “

Lihatlah dilapangan tennis, bola yang menuju atasan atau pimpinan adalah bola yang empuk-empuk, gampang dijangkau dan tak terlalu keras serta gampang dikembalikan oleh atasan.

Siapa yang memberi umpan sehingga atasan bisa melakukan smash dengan gemilang ???   Dialah para pencari muka wal penjilat yang selalu ingin membuat atasannya senang dengan cara apapun.Dan tentu ada pula atasan yang gila kemenangan , tak pernah mau dikalahkan serta mabuk sanjungan !!

Semoga bisa menjadi bahan renungan.

  1. 9 Juni 2009 pukul 08:22

    Bukankah bawahan memang harus mengerti dan cepat tanggap akan keinginan atasan agar visi dan misi yang dicanangkan tercapai, Mas.
    salam superhangat

  2. 9 Juni 2009 pukul 12:32

    -dalam hal kedinasan yes, but urusan cucak rowo ya no lah yaw he..he..he
    -Thanks sudah mampir

  3. 9 Juni 2009 pukul 13:03

    Terima kasih dah mampir pak.. kunjungan balik ni..

    • 9 Juni 2009 pukul 13:37

      -Thanks kunjungannya
      -salam

  4. 6 Oktober 2009 pukul 20:30

    Good good good,🙂

  5. herupramono
    8 Maret 2010 pukul 06:29

    Itu sama dengan “esem bupati, semu mantri, dhupak bujang” tapi artinya bukan negatif begitu saya kira. Mestinya kalau menegor orang sekelas bupati hanya cukup dengan tersenyum saja sang bupati sudah tanggap, tidak harus ditegur dengan kata-kata karena akan menyakitkan hati/memalukan hatinya. begitulah ketika sikap atasan terhadap orang yang berpangkat tinggi …cukup senyum. semakin ke bawah semakin terang bahkan bisa dengan keras kalau berkomunikasi dengan bawahan yang berpangkat rendah karena mereka tidak akan faham dengan esem, atau semu. Saya kira begitu.

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: