Beranda > sosbud > Ditonjok malah tersenyum

Ditonjok malah tersenyum

9 Juni 2009

Bagi orang Jakarta,ditonjok tentulah amat menyakitkan.Bukan hanya sakit secara fisik bahkan hatipun terasa sakit.Namun tidak demikian halnya dengan penduduk desa Sumberagung,Kecamatan Megaluh,Kabupaten Jombang Jawa Timur.Bagi penduduk desa Sumberagung,dikirimi tonjokan atau ditonjok berarti dikirimi makanan berupa nasi lengkap dengan lauk pauknya.Siapakah gerangan orang yang baik hati mengirim makanan tersebut ?? Tidak lain adalah tetangga atau kerabat yang akan mempunyai hajat.

Penduduk desa yang berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Jombang itu memang mempunyai tradisi  unik yang telah berlangsung puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.  Setiap orang yang mempunyai hajat apakah menikahkan putra-putrinya atau mengkhitankan putranya selalu mengirim“ tonjokan”.  Tonjokan berupa nasi dan lauk-pauk ini dikirimkan kepada kerabat dan tetangganya beberapa hari sebelum pelaksanaan hajatan. Bahkan sampai sehari sebelum hajatan dilaksanakan tonjokan masih mengalir.

Tonjokan ini selain sebagai ungkapan rasa syukur juga merupakan tanda “ mohon do’a restu “ dari si empunya hajat alias berlaku sebagai undangan disamping kartu undangan yang sudah dikirim  sebelumnya. Tonjokan ini sepenuhnya merupakan urusan kaum ibu.

Tonjokan pada umumnya ditempatkan dalam sebuah baskom besar atau rantang.  Isinya  nasi dan lauk pauk yang jenisnya dari tahun ke tahun hampir-hampir tidak banyak berubah yaitu ayam bumbu bali, tahu bumbu bali, mi atau bihun dan oseng-oseng.  Jika ikan bandeng sedang banyak dipasar biasanya ditambah ikan bandeng goreng atau bandeng bumbu bali.

Sekitar  tahun 1960 an tonjokan untuk Kepala Desa atau Lurah biasanya ditempatkan di sebuah “Jodang“.  Jodang merupakan tempat untuk mengantar makanan, terbuat dari kayu  berbentuk  segi empat mirip box bayi. Untuk membawanya, Jodang biasanya dipikul oleh empat orang. Karena ukuran Jodang ini cukup besar maka isinya selain nasi dan lauk pauk juga terdapat aneka macam kue basah atau kue kering,  bahkan buah pisangpun ikut melengkapi tonjokan untuk Kepala Desa.  Namun kebiasaan mengirim tonjokan dengan menggunakan Jodang itu kini sudah jarang dilakukan. Barangkali Kepala Desa sudah bukan dianggap sesepuh lagi tetapi tak lebih sebagai tetangga atau kerabat belaka.

Jumlah tonjokan yang dikirimkan tergantung banyak dan sedikitnya kerabat atau tetangga yang dianggap dekat serta kemampuan si empunya hajat.  Semakin kaya si empunya hajat akan semakin banyak tonjokan yang dikirimkan. Isi tonjokannya juga beraneka ragam lauk pauk.  Tentu saja ada perkecualiannya jika si empunya hajat orangnya pelit atau kurang bergaul dengan tetangga dan kerabatnya.

Adanya tradisi mengirim tonjokan ini menyebabkan kesibukan si empunya hajat menjadi berlipat ganda.  Disamping tentunya dari segi biaya hajatan juga akan semakin meningkat. Para juru masak selain harus menyiapkan hidangan untuk tamu undangan masih dibebani tugas untuk menyiapkan tonjokan.

Sebagai gambaran, ketika menikahkan anak saya, ibu mengirim tidak kurang dari 600 rantang tonjokan. Untuk mengirim tonjokan sebanyak itu diperlukan waktu lebih dari  3 hari untuk menyiapkan dan mengirimkannya.  Maklum didesa belum dibudayakan penggunaan jasa catering untuk menyiapkan konsumsi bagi suatu perhelatan.  Masyarakat desa lebih banyak menggunakan jasa atau bantuan tetangga untuk memasak hidangan bagi tamu yang menghadiri hajatan.  Pada saat menyiapkan hidangan inilah suasana dapur mirip pasar, rame  penuh cerita dan gelak tawa kaum wanita.

Bagi tetangga dan kerabat yang mendapat kiriman tonjokan mempunyai kewajiban moral untuk datang memenuhi undangan si empunyai hajat pada hari H pelaksanaan hajatan.  Namun mungkin diantara mereka ada yang tidak mendapat tonjokan.  Hal ini bisa karena kelupaan, atau memang sengaja tidak diundang dengan alasan tertentu misalnya sedang berselisih atau berseteru dengan si empunya hajat.  Kerabat dan tetangga dekat yang tidak mendapat tonjokan tanpa alasan yang jelas akan menimbulkan tanda tanya, malu dan mungkin sakit hati karena merasa “ bukan inner cyrcle atau tidak masuk hitungan” si empunya hajat.

Sebaliknya, tetangga atau kerabat yang telah menikmati tonjokan tetapi tidak datang pada pelaksanaan hajatan juga akan merasa malu. Karena namanya tentu tidak akan tercatat alam buku tamu.  Rasa malu ini akan menjadi-jadi apabila suatu saat  mereka bertemu satu sama lain.  Walau si empunya hajat tidak menanyakan ketidak hadirannya ,  namun si kerabat atau tetangga tetap akan merasa serba salah.

Pada pelaksanaan hajatan, kaum wanita biasanya datang dengan membawa baskom besar berisi aneka buah tangan.  Umumnya mereka membawa gula pasir, mi mentah, atau kue-kue. Oleh bagian penerima tamu, nama tamu beserta bawaannya dicatat pada buku khusus. Selama tamu menyantap hidangan, baskom tamu akan diisi dengan nasi dan lauk pauk oleh juru masak didapur. Pada saat tamu pamit pulang maka baskom tadi diserahkan kembali kepada si tamu.. Kelak jika tamu tadi mempunyai hajat maka tetangga yang sekarang mempunyai hajat tinggal mencari catatan pada buku khusus buah tangan apa yang dibawa dan mereka tinggal menyesuaikan saja. Minimal bawaannya sama dengan yang dibawa pada saat itu, tetapi jangan sampai kurang dari bawaan tetangganya.

Mengenai tonjokan ini ada suatu cerita lucu.  Beberapa hari setelah hajatan,si empunya hajat datang berkunjung ke tetangga sebelahnya karena merasa tidak melihat tetangganya itu hadir dalam acara pernikahan putrinya. Si empunya hajat bertanya :” Yu, saya kok tidak melihat sampeyan datang kepernikahan anak saya Rodiyah, apa sampeyan lupa ??”.   Dengan tenang si tetangga menjawab :” Saya sebenarnya mau datang, baskom lengkap dengan isinya sudah saya siapkan.  Tapi karena sampai sore kamu belum mengirim tonjokan ya saya tidak jadi datang.  Baskom dan isinya masih saya taruh dimeja makan tuh”

Dari cerita diatas tampak bahwa betapa besar arti tonjokan bagi penduduk desa Sumberagung.  Tonjokan tidak hanya sekedar nasi dan lauk pauk tetapi juga merupakan simbol kedekatan hubungan antara si empunya hajat dengan para tetangga dan kerabatnya.

Tradisi mengirim tonjokan ini masih ada sampai kini.  Terlepas dari kerepotan dan sedikit pemborosan yang ditimbulkan oleh tradisi tonjokan ini, penduduk Sumberagung tampak masih menikmati acara kirim-mengirim makanan ini ke tetangga dan kerabatnya.

  1. RSS
    10 Juni 2009 pukul 01:21

    Di daerah2 hal ini masih banyak dilakukan dan merupakan TALI PENYAMBUNG SILATURAHMI, utamanya buat sanak keluarga yang agak jauh dan jarang bertemu. Meskipun dengan sebutan bahasa yang berbeda-beda..

  2. 11 Juni 2009 pukul 11:50

    -Benar mas,kekerabatan dikampung memang lebih kental
    -salam

  3. Aditya
    15 Juli 2009 pukul 13:51

    Budaya-budaya seperti ini memang masih dipertahankan di desa Pak. Sedang di kota belum tentu ada acara seperti ini… semoga selalu dilestarikan….btw Pak Cholik ini asli mana tho? kayaknya jombang ya… kalau ga salah…

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: