Beranda > trik dan tip > Makan di restaurant

Makan di restaurant

10 Juni 2009

Makan direstaurant jika tidak pernah atau tidak biasa memang bisa mengakibatkan kita kikuk,kaku dan bahkan menimbulkan kejadian yang memalukan.Dalam film atau sinetron komedi seringkali diperlihatkan adegan bakso yang meloncat kedada seorang wanita karena salah pada saat akan memotong pentol tersebut.

Dalam acara Bedah Rumah yang disiarkan oleh RCTI pemilik rumah biasanya diajak untuk beristirahat disebuah hotel sambil menunggu rumah mereka diperbaiki.Mereka juga ditraktir makan oleh pihak RCTI (atau produsernya) disebuah restaurant yang ada di hotel tersebut. Mereka tampak kikuk alias kaku saat menghadapi aneka makanan dan minuman yang disajikan plus bermacam-macam peralatan makan yang ditata rapi dimeja makan.Saya pernah mengalami kejadian yang menggelikan disebuah restaurant dikota Palembang.Disitu kami berempat kompak memesan steak ( katanya harus dibaca steik-bukan stik).Seorang senior bertanya:” Dik Cholik pakai nasi?”.Dari pertanyaan ini saja sudah kelihatan bahwa senior tadi belum pernah makan steak. Lha wong makan steak kok pakai nasi.Saya ingin tertawa tetapi tak tega. Saya hanya berkata dalam hati :” Kalau pakai nasi namanya empal donk”.Sayapun jadi takut jangan-jangan senior tadi makan steak-nya pakai tangan.

Makan di restaurant Cina tentu juga ada aturan-aturan yang digariskan,terutama jika hidangan dikeluarkan satu-persatu.Makan dengan menggunakan sumpit merupakan salah satu cara tersulit bagi beberapa orang.Tidak usah malu jika memang tidak bisa memakai sumpit untuk mengambil dan menyuap makanan.Lebih aman jiika kita menggunakan sendok dan garpu biasa.Jika makanan yang akan disajikan terdiri dari 12 macam misalnya, maka sangat tidak taktis jika kita sudah membabi-buta mengambil makanan pada etape pertama ini.” Nasi sih dirumah banyak”,itu benar adanya.Ambilah makanan sedikit-demi sedikit agar kita tidak tersungkur kekenyangan pada etape ke 5.Nasi putih atau nasi goreng biasanya dikeluarkan pada etape ke 10 -an sedangkan pertama biasanya sup.

Sedikit rahasia tentang penggunaan alat-peralatan makan pada restaurant besar.Kita menggunakan alat-alat itu berurutan dari peralatan yang diletakkan paling luar dari deretannya.Minuman yang harus kita ambil berada pada gelas yang letaknya disebelah kanan kita,bukan yang terletak disebelah kiri.Jika anda mau mencoba wine ,maka red wine gandengannya dengan daging merah,sedangkan white wine untuk diminum ketika kita menyantap ikan.

Tidak apa-apa kalau memang kita tidak biasa.Gunakan slogan: “monkey see-monkey do “, lihat teman dulu baru kita ikuti cara makan mereka.

Orang asingpun juga ada kikuk ketika harus makan masakan Indonesia.Ada yang makan lemper sak-kulitnya lho. Makanya senior saya dulu selalu mengingatkan:“Kasih tahu teman-teman dari negara sahabat itu bahwa dibalik bola-bola hijau itu ada gula cairnya.Jika bola hijau itu digigit dengan keras air gulanya bisa moncrot dan mengenai jas mereka”.

Ooooooooo…..itu tho, itu kan Cemplon ehh… Klepon namanya.

  1. 10 Juni 2009 pukul 17:22

    Ingat dulu pernah ada guyonan. Konon orang “barat” bingung bagaimana cara memasukkan gula cair ke dalam bola ketan. Sampai ada yang mengatakan itu gula cair diinjeksikan pakai jarum suntik.😀
    Mereka juga heran mengetahui ketelatenan orang jawa “memasang” biji wijen di kulit onde-onde.😀

    • 10 Juni 2009 pukul 17:39

      -Orang Indonesia memang ngeTOP kok mas.
      -thanks kunjungannya

  2. 10 Juni 2009 pukul 17:26

    Pak Abdul Cholik sangat produktif menulis ertikel. Samapai melebihi minum obat (empat artikel sehari). Apa tidak sebaiknya dihemat? Maaf Pak, bukan bermaksud menggurui. Mungkin lebih baik waktunya dibagi dengan blogwalking untuk mendatangkan pengunjung. Sayang sekali kalau artikel2 ini tidak terbaca. Sekali lagi maaf Pak. Sekedar berbagi.😀

    • 10 Juni 2009 pukul 17:42

      -saya lihat nasi aja bisa jadi artikel je mas,ngalir gitu aja.
      -saya juga blogwalking kok mas,tiap hari keliling,terutama saya mulai dari daftar yang ada d dashboard itu (Blog terpopuler,tulisan teratas,tulisan terbaru) dan juga ke blogroll saya.
      -Kalau nggak segera saya tulis suka lupa je,maklum udah tuwir.
      -terima kasih advisnya mas
      -salam

  3. 11 Juni 2009 pukul 01:07

    mereka itu blum terbiasa makanya kikuk.. clingak clinguk di restoran.

    • 11 Juni 2009 pukul 04:25

      -aku dulu juga gitu kok,lucu,kikuk dan ingat dompet ha..ha..ha
      -salam

  4. 11 Juni 2009 pukul 01:09

    kunjung balik ya…

    • 11 Juni 2009 pukul 04:49

      -saya sudah mampir mas,malah kepingin ambil satu tuh mobilnya.

  5. Rss
    11 Juni 2009 pukul 02:03

    Selamat atas diresmikannya jembatan Suramadu! (Nggak nyuambung ya pak..)

    • 11 Juni 2009 pukul 03:41

      nyambung kok mas,kalau nggak nyambung kan orang gak bisa lewat donk

  6. 11 Juni 2009 pukul 06:13

    *Masih pagi,,,
    Baca post bapak jadi lapar >,< Hehehe

    Kedai

  7. 11 Juni 2009 pukul 07:08

    -tinggal manggil mbok yang jual nasi pecel mas
    -Thanks kunjungannya
    -salam

  8. Ade
    11 Juni 2009 pukul 09:42

    saya pernah makan di resto khas jogja dan memesan salad solo.. dah bayangin sayuran eh yang dateng malah daging hehehehe.. *malu bertanya, sesat memesan*

    • 11 Juni 2009 pukul 10:52

      -iya,di beberapa acara pengantin saya sering menemukan makanan itu mbak.Lumayan lho rasanya

  9. 11 Juni 2009 pukul 11:48

    Laporan….

    *Pak, link anda sudah saya taut ke blog saya, silahkan anda pantau dengan nama “Makna kehidupan”, kalo ad keberatan silahkan hubungi saya ^^b

    Kedai

    • 11 Juni 2009 pukul 12:31

      -Thanks atas kunjungan dan linknya
      -saya malah senang kok saling nge link agar tambah gayeng

  10. 11 Juni 2009 pukul 19:27

    Saya jadi ingat pengalaman makan di restoran Jepang Mal Pondok Indah jakarta.
    Adanya cuma supit, saya sempat keluar keringat dingin dan hanya bisa dzikir supaya diberi kemudahan dan ndak membuat kekonyolan. Namun Subhanallah, saya bisa makan nasi pakai supit. seumur-umur saya bisa makan pakai supit ya hanya sekali itu. Maklum orang udik.

    • 11 Juni 2009 pukul 20:03

      -sama dengan saya mbak,agak repot kalau pake sumpit.
      -wah panjenengan hebat lho,gara2 sumpit aja sampai dzikir he..he..he.
      -salam

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: