Beranda > Kisah berhikmah > Mati dimakan Bethoro Kolo?

Mati dimakan Bethoro Kolo?

10 Juni 2009

Saya girap-girap(ketakutan karena melihat sesuatu yang seram).Si pemakan manusia itu tubuhnya tinggi besar,mata besar melotot,perut buncit,ada taring dan rambutnya gimbal.Dia berlari dengan cepat sambil mengeluarkan suara bak halilintar.Saya tidak bisa membayangkan jika dia memegangku lalu melahapku sedikit-sedikit demi sedikit.Tinggi badan saya yang hanya 170 cm namun agak overweight ini mungkin hanya tiga kali emplokan sudah habis.Itulah tampilan Bethoro Kolo,seorang raksasa yang hobby makan orang. Kisah Bethoro Kolo itu dimainkan oleh Ketoprak Kridho Wandowo pimpinan Pak Sarim dalam acara ruwatan seorang kakak sahabat saya.Acara yang sama namun dengan media yang lain juga pernah dilaksanakan oleh Pak Saleh tetangga saya.Dia nanggap wayang kulit dengan cerita Bethoro Kolo untuk ngruwat Narkan-anak pak Saleh-yang terlahir sebagai anak ontang-anting alias anak yang tidak mempunyai kakak atau adik.

Melihat dua acara ruwatan itu saya menjadi miris,jangan-jangan saya juga akan dikejar-kejar untuk dijadikan snack-nya Bethoro Kolo.Waktu itu saya masih duduk dikelas 4 Sekolah Rakyat.Saya bisa disebut sebagai anak ontang-anting karena tidak mempunyai kakak atau adik.Berarti saya juga merupakan jatahnya Bethoro Kolo. Kalaupun kakak saya yang sudah meninggal itu juga dihitung, sayapun masih masuk daftar tunggu sebagai santapan Bethoro Kolo karena saya dan kakak perempuan saya itu termasuk golongan anak “Kedhono-Kedhini” yaitu anak laki-laki yang mempunyai saudara perempuan.

Ketakutan dimakan Bethoro Kolo itu saya sampaikan kepada mak,sambil minta agar saya juga diruwat dengan nanggap wayang. Rupanya mak tanggap,saya akhirnya diruwat, tidak dengan nanggap wayang tetapi dengan mengadakan pengajian.Saya sebenarnya protes tetapi mak menjelaskan bahwa lebih baik pengajian daripada nanggap wayang.”Wong cucunya haji kok nanggap wayang,pengajian kan lebih baik”, begitu mak menjelaskan.Waktu itu,dan sampai sekarang, saya masih belum mudeng mengapa mak alergi dengan apa yang menamakan dirinya gamelan dan kidungan.

Dewasa ini acara ruwatan masih sering dilaksanakan oleh orang Jawa dengan nanggap wayang. Tujuannya tentu untuk membebaskan anak-anak yang berdasarkan kelahirannya akan menjadi mangsa Bethoro Kolo.Anak-anak ini disebut Sukerto yang artinya anak yang tidak bersih dilihat dari segi nasibnya yang akan datang.Oleh karenanya harus diruwat agar hidupnya tidak sengsara.

Selain anak ontang-anting dan anak kedhono-Kedhini masih ada beberapa anak lagi yang harus diruwat (menurut kepercayaan orang Jawa).Diantaranya adalah : tiga orang anak, yang pertama laki-laki,yang kedua perempuan dan yang ketiga laki-laki lagi. Ketiga anak ini disebut “Sendang kaapit pancuran” atau kolam yang diapit oleh pancuran. Jika yang ditengah adalah anak laki-laki dan kakak -adiknya adalah perempuan maka disebut“Pancuran kaapit sendang“.Ada juga yang dinamakan Pendowo Limo yaitu 5 bersaudara yang semuanya laki-laki.

Bukan hanya itu,manusia-manusia yang melakukan sesuatu pekerjaan bisa juga menjadi santapan Bethoro Kolo yaitu ” orang yang sedang masak lalu ditinggalkan begitu saja”.Ini sih bisa dilogikankan yaitu bahaya kalau apinya membesar dan membakar rumah atau pancinya tumpah sehingga airnya yang panas menyiram orang lain. Orang yang menanam labu didepan rumah juga menjadi incaran si pemakan manusia itu. Logikanya,karena labu termasuk tumbuhan menjalar maka dikhawatirkan ada ular diantara rambatan perdu itu atau merusak pemandangan rumah.

Itua adalah cerita masa lalu.Kini setelah dewasa saya menyadari bahwa hidup dan mati adalah urusan Allah Swt bukan diatur oleh Bethoro Kolo.Saya tak takut mati lagi.

Tetapi seperti biasanya, pasti ada hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Bethoro Kolo ini.

Aku dan Bethoro Klo

  1. arikha
    10 Juni 2009 pukul 13:10

    syukron …

    hehe

  2. 10 Juni 2009 pukul 14:18

    -syukron he..he..

  3. 10 Juni 2009 pukul 23:30

    he..he.. kok syukron2an.
    Aya naon atuh kang?😆

    Weleh.. malah lupa kenalan.
    Salam kenal pak Cholik. Sy dtg dr blognya bang Dje ( klo gak salah. Lupa..🙂 )

    Lha ttg Btoro Kolo itu, smp skrg gak dimakan kan pak?
    Berarti lebih hebat pengajian drpd wayangan nggih? Wah.. untung dlu ibu pkenya pengajian..

  4. 11 Juni 2009 pukul 04:23

    -Thanks kunjungannya.Alhamdulillah Bethoro Kolo sudah gak makan saya lagi dan malah seneng namanya masuk blog.
    -salam kenal juga

  5. guskar
    11 Juni 2009 pukul 08:02

    bukankah cerita bethoro kolo itu cuma hasil rekayasa para dalang jaman dulu. kalau dituruti, semua anak cucu kita mesti diruwat : ontang-anting, kedhana-kedhini, pandhawa, lanang kabeh, wedok kabeh…
    kanjeng Nabi SAW sdh mengajarkan, setiap anak yg lahir mesti di-aqiqah-kan… lebih murah dan sesuai syareat islam.
    bukan begitu, pak dhe?😉

    • 11 Juni 2009 pukul 10:50

      -ya itulah namanya kepercayaan mas.
      -Terima kasih sudah berjunjung
      -salam

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: