Beranda > Opini > Dibawah jembatan Suramadu

Dibawah jembatan Suramadu

12 Juni 2009

Jembatan SuramaduJembatan Suramadu

Bangsa Indonesia tentu bangga karena sekarang sudah mempunyai jembatan terpanjang di Asia yaitu jembatan Suramadu yang baru saja diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Jembatan ini menghubungkan pulau Jawa (di Surabaya) dengan pulau Madura(di Bangkalan).Hampir dipastikan saudara-saudara kita yang tinggal dipulau Madura akan lebih mudah dan lebih cepat jika akan bepergian kepulau Jawa.Demikian pula sebaliknya,mereka yang tinggal dipulau Jawa juga akan mudah jika hendak melihat karapan sapi dipulau garam itu.Para ahli ekonomipun berpendapat bahwa jembatan Suramadu dilihat dari aspek ekonomi akan sangat menguntungkan.Tetapi selalu ada saja,setiap hasil karya,apapun,tidak selalu memuaskan semua pihak.Demikian pula halnya dengan jembatan Suramadu yang panjangnya 5.438 m ini.Jembatan yang dibangun dengan biaya besar itu,selain menguntungkan banyak pihak juga dianggap kurang menguntungkan pihak lain.

Saya lihat tayangan ditelevisi,saudara-saudara kita yang mengais rejeki dengan menjadi pedagang asongan merasa cemas dengan adanya jembatan Suramadu ini.Pedagang mie instan,kopi,pedagang kue,pedagang rokok dan lain  yang jumlahnya cukup banyak disekitar pelabuhan ferry itu takut jika pendapatan mereka akan merosot.Mereka minta agar ferry tetap bisa beroperasi sehingga mereka tetap bisa  mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Bukan hanya itu,pengelola dan pemilik ferry juga mengalami kecemasan yang sama.Kekhawatiran mereka terletak pada biaya  yang akan dikenakan kepada pengguna jalan tol jembatan Suramadu.Jika biaya tol lebih rendah daripada biaya yang dikenakan untuk naik ferry sudah dipastikan penumpang ferry akan kesedot oleh jalan tol jembatan Suramadu.Ini berarti pendapatan ferry akan merosot dan bukan tidak mungkin para pengelola atau pemilik ferry akan gulung tikar.

Upaya pemerintah untuk mengalihkan ferry ketempat lain ditanggapi dingin oleh pemilik atau pengelola ferry dengan berbagai alasan.

Saya yakin pemerintah tidak akan mengatakan:” Yaaah memang proyek ini tidak bisa memuaskan semua pihak”.Mereka tentu juga sedang memikirkan bagaimana kecemasan warganya bisa dihilangkan atau minimal dikurangi.

Anda punya ide mengatasi kecemasan pedagang asongan tersebut??

Kategori:Opini Tag:, , , ,
  1. omagus
    12 Juni 2009 pukul 09:13

    SEmoga nggak jadi masalah baru buat bangsa ini yang makin ruwet ini yah….

    salam kenal…

  2. 12 Juni 2009 pukul 09:26

    -setuju mas,semoga semuanya bisa terpecahkan.
    -salam kenal juga mas.

  3. Rss
    12 Juni 2009 pukul 16:24

    Tinggal di lihat besar mana manfaat adanya jembatan tsb.. Dengan adanya jembatan suramadu kan memberikan kesempatan luar biasa bagi ratusan ribu, bahkan jutaan rakyat madura.. Dibandingkan dgn yg dirugikan hny beberapa ratus orang saja. Justru saya curiga kalo Pengusaha kapal ferri lah yg kencang menghembuskan isu tsb..
    Toh yg namanya wong cilik (para pedagang di kapal ferri) itu sdh terbiasa tahan banting dan orang sprt mereka tidak akan kesulitan memindahkan usaha mereka ke sekitar suramadu misalnya.. Lain halnya dgn pengusaha kapal yg bakalan gulung tikar..
    Lagian isu itu jg tdk relevan karena pembangunan jembatan sdh dilakukan jauh2 hari kmrn, jd mestinya sdh cukup waktu untuk mengantisipasi..

  4. 12 Juni 2009 pukul 16:34

    -Jelas besar sekali manfaatnya mas.Kemarin2 kalau saya mau nengok famili kan harus antri ferry.Apalagi kalau malam libur atau hari2 besar wuahhhh..antri bisa jam-jaman lho.
    Sekarang kan tinggal seeeerrrrrr….

    -Ya biasa lah mas pasti ada yang senang dan tidak senang.Kalau musim hujan orang jualan es kan gak gitu suka tetapi kalau musim panas mereka joged kan.

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: