Beranda > Renungan > Bobor bayem mbak Yem

Bobor bayem mbak Yem

14 Juni 2009

“Untuk kedua kalinya mbak Yem mampu mengangkat nama desa kita.Tahun lalu mbak Yem meraih Piala Adi Luhung Karya Gemilang karena telah menciptakan aneka hiasan cantik berbahan daun enceng gondok.Enceng gondok yang selama ini kita anggap sebagai tanaman perusak ternyata bisa menghasilkan uang setelah dipegang oleh mbak Yem.Ditangan dingin mbak Yem enceng gondok itu kini menjadi sahabat kaum wanita.Gadis-gadis desa kita yang semula menganggur sekarang sudah bisa membuat kerajinan berbasis enceng gondok.Koperasi kita kebanjiran order.Semua itu berkat daya kreasi dan inovasi Mbak Yem.Enceng gondok dan mbak Yem telah menjadi ikon desa kita tercinta.

Sekarang mbak Yem mencetak lagi prestasi yang ngedap-edapi dan mencengangkan semua orang dengan membuat makanan sehat berbasis bayem.Masakan Bobor Bayem Pancarasa kreasi mbak Yem menjadi bahan pembicaraan dimana-mana.Mbak Yem jadi sibuk melayani permintaan untuk berbicara dalam berbagai seminar tentang masakan sehat.Kini kita dapat menikmati bobor bayem dengan rasa soto,rasa kare,rasa bakso,rasa gule dan bahkan bobor bayem rasa sphageti.Oleh karena itu dalam kesempatan yang berbahagia ini saya mengajak ibu-ibu untuk berdiri sejenak sebagai wujud apresiasi kepada mbak Yem yang telah menyulap bobor bayem tradisional itu menjadi santapan lezat dengan aneka rasa.Mohon tepuk tangan yang meriah untuk mbak Yem,sitangan dingin dan peraih Trophy Wanodya Adi Grahito.Hadirin berdiri sambil memberikan tepuk tangan dengan meriah.Wajah mbak Yem cerah sumringah mendengar sambutan ibu Kris Sanggulono-the first lady-desa Sumberwangi itu.

Namun dua orang wanita yang berdiri tepat dibelakang mbak Yem tampak kurang senang dengan aneka sanjungan yang disampaikan oleh Ketua Penggerak Kegiatan Kaum Wanita desa Sumberwangi itu. ” Alaaaaaa..ganjen.Piala gitu aja dipamer-pamerkan.Anak ingusan pun juga bisa kalau hanya masak bobor bayem azah.Yang penting ada bayem dan aneka bumbu pasti juga beres.Apa sih hebatnya bobor bayem si Yem itu”,kata Ibu Suudzon yang rambutnya disasak tinggi mirip jambulnya merak kelaparan itu.

“Itu kan karena kegenitan si Yem aja tho mbak yu.Didepan juri mesam-mesem kemayu,yaaa terang aja mereka kepencut.Kalau bicara soal masakannya sih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Thunderbolt Emprit Chicken buatan saya”,timpal bu Su’ul dengan gaya sok Inggris-Inggrisan sambil memperlihatkan senyum tonggosnya.Mendengar bisik-bisik kedua tetangganya itu mbak Yem hanya  melirik sebentar sambil tersenyum dan melempar pony kesayangannya.

Obrolan sengak kedua sejoli jago ngrumpi itu terhenti ketika pembawa acara mempersilahkan mbak Yem untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata.

“Ibu Kris sanggulono selaku Ketua Penggerak Kegiatan Kaum Wanita yang saya hormati.Ibu-ibu dan hadirin yang berbahagia.Memang benar apa yang dibisik-bisikkan oleh sahabat saya ibu Suudzon dan ibu Suul yang sempat saya dengar tadi.Saya kira ibu-ibu disini bisa kok membuat bobor bayem seperti yang sudah saya buat asal ada bayem dan bumbunya.Yang menjadi pertanyaan adalah,adakah ibu-ibu yang pernah memikirkan dan mencoba membuat masakan Bobor Bayem Pancarasa itu? Saya kok belum pernah mendengar atau melihatnya.Setelah saya berhasil membuat Bobor Bayem Pancarasa barulah kedua ibu tadi bisa bilang..OooooooOoo..kalau hanya bobor bayem seperti itu sih saya bisa juga membuatnya.Jadi sayalah yang memang pertama kali menciptakan masakah sehat berbasis bayem itu.Terima kasih”

Kedua jago ngrumpi tadi terperangah mendengar sambutan mbak Yem.Mereka tidak  menyangka wanita lugu seperti mbak Yem bisa merajut kata yang membuat mereka berdua KO bak terkena jotosan Christ John.Bu Suudzon dan bu Suul sesaat serasa terjungkal dengan jambut meraknya sengkleh terkulai menyentuh tanah.

Renungan: Dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak manusia-manusia berwatak seperti bu Suudzon dan bu Suul.Mereka iri ketika melihat orang lain bahagia dan sebaliknya mereka merasa bahagia manakala melihat orang lain menderita.Iri adalah penyakit hati yang harus dihindari.

Cerita diatas hanya fiktif  yang saya adaptasi dari cerita “Telur Columbus”

  1. 14 Juni 2009 pukul 12:00

    Betul mbak Yem, mending mikir bobor bayem ajalah.. Untuk soal- soal lain seperti neoliberal biar dipikir sendiri sama yang buat istilah. Dan sekalian nih, minta tolong sama pak Cholik, si Jambul Merak sama di Mrs. Tonggos daftarkan saja ke Majalah Trubus biar jadi covernyašŸ˜€

  2. 14 Juni 2009 pukul 13:05

    -haaa..haaa..haaaa.,lumayan mas untuk jampi pegel linu
    -maju terus mas
    -salam untuk keluarga

  3. 14 Juni 2009 pukul 22:25

    Salam buat mbak Yemnya pakde, aku pesen dung, sak bis. WekekekšŸ˜€

    • 14 Juni 2009 pukul 22:37

      mbak yem atau bobornya mas?

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: