Beranda > Renungan > Ketika lampu mati

Ketika lampu mati

15 Juni 2009

Ketika sedang asyik membaca artikel,tiba-tiba mak pet,lampu mati.Serentak orang serumah teriak:“waaaaaaah”.Saya lihat seluruh komplek gelap gulita,berarti pemadaman atau padam masal.Saya masih tetap membaca artikel yang memang menarik,sambil melihat tanda kekuatan baterai laptop yang ternyata masih full.Keponakan saya yang berada dibawah sudah ngomong macam-macam karena sedang nonton televisi:”Kalau nggak segera menyala saya bunuh lho”,kata keponakan saya.Ajaib,tiba-tiba byaaaar,lampu menyala kembali.Orang serumah,kecuali saya yang sedang asyik membaca,kembali teriak:”Horeeeeee!!”.

Heran,tak ada yang mengucap Alhamdulillah.Mungkin menyalanya lampu dianggap hal yang seharusnya begitu dan bukan merupakan nikmat dari Allah Swt.Padahal sekecil apapun nikmat harus tetap kita syukuri.

Memang ada nikmat yang berlangsung permanen sehingga kita tak menyadari kehadirannya.Tetapi begitu nikmat itu tidak ada baru kita kalang kabut mencarinya.Udara yang kita hirup misalnya,dia selalu berada disekeliling kita setiap saat.Akhirnya kita lupa mensyukurinya.Padahal jika udara itu lenyap beberapa menit saja kita sudah klepek-klepek,megap-megap dan akhirnya ambruk.Akhirnya kita harus diberi udara melalui hidung dari sebuah tabung udara yang harus kita bayar.

Bentuk hidung,yang diciptakan Tuhan,juga luput dari pengamatan kita.Jika seandainya Tuhan membalikkan lubang hidung menghadap keatas alangkah repotnya kita.Kalau musim hujan pasti kita mencari tutup untuk lubang hidung agar tidak kemasukan air hujan.Mungkin juga ada pabrik yang khusus membuat alat penutup hidung.Kita bisa merasakan ketika hidung buntu karena pilek bukan.

Tuhan bukan hanya sekedar menciptakan casing makhluk-Nya,tetapi juga dilengkapi asesoris luar dalam.Kalau kita hendak tidur diberi tanda terlebih dahulu yaitu mengantuk dan menguap.Coba bayangkan jika kita langsung tidur ketika sedang mengendarai kendaraan bermotor di jalan tol dengan kecepatan tinggi.Pasti korban akan berjatuhan.Atau seorang profesor yang sedang memberikan kuliah tiba-tiba mak dlosor tidur,pasti diam-diam mahasiswanya akan meninggalkan sang dosen luar biasa dan berkuasa penuh itu.

Jika kita akan buang air besar juga ada early warning sytemnya.Bisa berupa klakson yang beruntun atau perut mules dan terasa ada desakan-desakan disekitar knalpot kita.Mari kita bayangkan jika Tuhan mencabut asesoris itu.Seorang pejabat yang sedang menjadi Inspektur upacara resmi tiba-tiba ada dledek..dledek..dledek yang keluar dari knalpotnya,hwua..hwua..hwua….pasti pasukan upacara akan termehek-mehek.

Jika kita diberi tubuh yang tinggi,kita syukuri karena bisa menjadi modal untuk bermain volley atau basket ball.Jika badan kita pendek juga tetap kita syukuri karena tidak gampang kejethut gawang pintu.

Ketika blog kita dikunjungi hanya satu atau dua orang,tetap syukuri,karena dari dua orang itulah yang akan mengabarkan keberadaan blog kita.

Dengan semua itu mari kita syukuri nikmat Tuhan setiap saat dimanapun kita berada.Syukur bisa lakukan didalam hati,secara lisan dan dengan perbuatan nyata.

SYUKURI SAJAminum dawet dengan gelas besar atau gelas kecil tetap disyukuri

  1. 15 Juni 2009 pukul 22:24

    Pak de, tulisan ini ada di BOTD WordPress detik ini lho. Aku lihat di dashboardku masuk tulisan baru.😀

    • 15 Juni 2009 pukul 22:36

      -sebentar lagi kan ilang mas.Disitu juga ada kok artikel yang hanya judul belaka,begitu saya masuk kesana gak ada isinya ha..ha..ha.

  2. 16 Juni 2009 pukul 11:49

    yoi….slau bersyukurlah…………

    • 16 Juni 2009 pukul 13:18

      sip,dengan bersyukur Insya Allah tambah makmur

  3. 16 Juni 2009 pukul 12:00

    yap…
    setuju 100% pak…
    sekecil apapun anugra yang diberikan wajib untuk disyukuri…
    begitu juga dengan hidup saya…
    artikel yang bagus pak…
    terima kasih atas kunjungan dan pujiannya…🙂

    • 16 Juni 2009 pukul 13:16

      -thanks dah mampir kemari
      maju terus dengan artikel yang ngetop markotop

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: