Beranda > Renungan > Begitu cepat,begitu singkat

Begitu cepat,begitu singkat

17 Juni 2009

Menyaksikan wajah Cici Paramida dilayar televisi kemarin saya mengelus dada.Tak terasa airmata mengalir perlahan,satu demi satu,ehhh nggak dink,air kok mengalir satu demi satu, harusnya airmata mengalir ndledek menyusuri pipi yang mulai lembek ini.Wajah dara ayu pelantun tembang Wulan Merindu itu tampak”tidak seperti biasanya”.Ada guratan kesedihan,kejengkelan dan mungkin kemarahan.Senyumpun terasa dipaksakan.

Saya membayangkan gadis seusia anak saya itu lari pontang-panting,mungkin sesekali jari kaki putihnya terantuk batu kecil yang terserak dijalan.Dia mungkin sedang sendirian untuk mengungkap sebuah fakta,mencari kebenaran atas apa yang selama ini didengar dan dirasakannya.Dan ketika ia mendapatkannya,kesimpulan mungkin sudah ditariknya dan pada akhirnya tinggal menentukan langkah apa yang akan diambilnya.

Begitu cepat,begitu singkat indahnya pernikahan itu dinikmati oleh Cici.Kekhusuk-an dan kesakralan pernikahan di tanah suci masih terasa,gebyar dan senyum kebahagiaan dalam gelar resepsi belumlah sirna,kenikmatan hidup bersama juga masih terasa.Tetapi kini seakan terenggut dengan paksa.

Begitu cepat-begitu singkat.

Begitulah jika Tuhan sudah berkehendak.Tiada daya dan upaya yang bisa melawannya.Haruskah Cici putus asa?Perlukah Cici gundah gulana?Pantaskan Cici menyalahkan dia,menyalahkan mereka atau bahkan menyalahkan Sang Maha Kuasa?

Tak perlu kau lakukan itu, Cici.Tuhan sedang menguji imanmu,apakah imanmu terbuat dari emas ataukah hanya sekedar iman-imanan belaka.Kesabaranmu juga sedang ditakar.Apakah kamu bisa sesabar nabi Ibrahim menunggu selama 40 tahun untuk mendapatkan anak sekaliber Ismail.Ataukah kamu bisa setegar Yusuf ketika Julaika menggodanya.Ataukah kesabaranmu hanya“suwe mijet wohing ranti” alias cepat sekali hilang.

Ketika saya melihat kamu melantunkan lagu-lagu qasidah beberapa tahun yang lalu saya yakin bahwa kamu juga rajin,piawai dan fasih membaca Al-Qur’an.Kini bukalah kitab suci itu.Baca dan renungkan firman Allah dalam QS.Al-in-Syirah ayat 6 yang berbunyi: Inna ma’al ‘usri yusraa,yang artinya :Sungguh dibalik kesulitan itu ada kemudahan.

Begitu cepat-begitu singkat,

Beberapa waktu yang lalu dilayar televisi terlihat wajahmu yang ayu menendangkan aneka lagu.Kini,dalam beberapa hari,televisi juga masih akan menayangkan wajahmu,dan wajah mereka yang ikut berperan dalam kisahmu ini.Biarkan gosip itu berlalu,biarkan jika ada orang yang mungkin mencaci atau menghujatmu,biarkanlah jika mungkin ada orang yang merasa senang atas peristiwa yang menimpamu.

Sujudlah kepadanya,bersimpuhlah,angkat dan tengadahkan kedua tanganmu serta memohonlah kepada Sang Khaalik,Tuhanmu.Panjatkan doa ini dengan suara lembut,khusuk,dan tawadhuk.

Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au-aakhta’naa, rabbanaa wa laa tahmil ‘alaina ishran kamaa hamaltaahu ‘alal ladziinaa minqablinaa, rabbanaa walaa tuhalmina maalaathaaqata lanaa bihii, wa’fu,annaa waghfirlanaa warhamnaa anta maulanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.


Cici, walaupun pakde ini suka guyon dan agak urakan,tetapi pakde bisa merasakan apa yang kamu rasakan.Oleh karenanya pakde ikut mendoakan semoga kamu diberi ketabahan dan jalan keluar yang terbaik untuk menuntaskan masalah ini.

Sabar ya nduk !!

  1. guskar
    17 Juni 2009 pukul 07:30

    pakdhe, saya mampir lagi nih. nengok si cici barangkali sedang bersembunyi di sini

    • 17 Juni 2009 pukul 07:35

      lha itu sudah muncul mas
      semoga cici diberi jalan terbaik ya
      makasih bolak-balik mampir

    • KangBoed
      17 Juni 2009 pukul 08:34

      hehehe.. Gus Kar.. penggemarnya toooh.. atau jangan jangan…………
      Salam Sayang

  2. 17 Juni 2009 pukul 09:46

    wah baru nih maen kesini,,aku panggilnya ikut Guskar ajah yah “Pak’de”..

    hmm…itu akibat keputusan yang terlalu terburu2 Pakde, makanya jadi bgtu dh..jadi singkat…

    kalo boleh sdikit Suudzon..
    Cici paramida Matre cieh..

    hehehe
    (berharap Cici nggak tau..)

    • 17 Juni 2009 pukul 10:27

      thanks ya nduk,dah mampir

  3. 17 Juni 2009 pukul 10:27

    Selamat siang . numpang lewat.

    Saya termasuk ‘pencinta wanita’ tapi bukan playboy. kasihan juga lihat Cici pelipisnya sampai berdarah. itulah ketidakadilan. dan ketidakadilan harus diselesaikan lewat hukum.

    kalau ditilik ya Bang, Indonesia ini dibilang ramah tapi yang ada sebetulnya ‘machismo’ yang berbau macho-macho (maskulin, keras) begitu. kasarnya minta ampun. salah sedikit saja sudah korban nyawa.

    • 17 Juni 2009 pukul 11:28

      Selamat siang mas,
      Benar,kita dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah.Kok sekarang orang begitu gampang mbakar orang lain,membunuh orang lain dan menganiaya orang lain.
      Terima kasih kunjungan dan komentarnya mas
      Salam kompak dari Surabaya

  4. 17 Juni 2009 pukul 10:37

    Saya manggilnya pak lek aja ya, karena saya rasa njenengan lebih muda dari bapak saya.
    Subhanallah… saya suka ndak tega melihat perempuan-perempuan teraniaya ini. Di satu sisi membuat saya bersyukur karena tidak harus mengalami penderitaan separah mereka, di sisi lain membuat saya mengelus dada dan merasa harus membela.
    Bener paklek, Gusti Allah itu maha penyayang. Nyuwun dan muwun (ini kalo ndak salah bahasa Jawanya nangis) saja terus padanya. Dia dengar kok.
    *semakin yakin untuk meminjamkan TV pada orang lain dan menjauh dari TV*

    • 17 Juni 2009 pukul 11:45

      -Iya ya,coba lihat para TKI yang disiksa itu,kasihan banget.Ada yang terpaksa krasan walau terus didera ya.Begitu berat perjuangan hidup mereka.
      -Memang hanya kepada-Nya kita mengadu dan memohon
      -Thanks sudah mampir
      -Salam

  5. 17 Juni 2009 pukul 11:21

    Kabarnya si cucu Cici P gimana sekarang pak de?

    • 17 Juni 2009 pukul 11:51

      Cucuku itu mungkin masih sibuk menyelesaikan urusannya mas.Semoga dia tegar seperti karang ditengah lautan ya

  6. yyanti
    17 Juni 2009 pukul 13:50

    Giliran saya mampir ke blog Bapak nih. Salah satu motivasi saya belajar menulis karena iri melihat orang lain begitu hebat menulis.
    Saya sebenarnya kurang suka menonton infotainment Pak, mudah-mudahan hal tsb tidak menimpa saya.

    • 17 Juni 2009 pukul 13:52

      Bukan karena hebatku..tetapi semua karena cinta..he..he,itu kan lagunya Indonesian Idol yaaa..

  7. 18 Juni 2009 pukul 11:01

    bener pak, kok kekerasan terhadap wanita masih saja sering terjadi dimana2, di tanah air tercinta ini.
    sepertinya kok nggak cuma dinegeri sendiri, apalagi di negeri orang,kok wanita selalu jadi korban.
    apakah mereka lupa, kalau wanita itu kan sama dengan ibu mereka, istri mereka, adik/kakak mereka, juga puteri mereka.
    apalagi di Al Quran, kan wanita begitu dimuliakan.
    saya jadi miris dan nelongso jadinya.
    salam tuk keluarga besar pak.
    salam.

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: