Beranda > nJawani > Wanita harus bisa masak !

Wanita harus bisa masak !

25 Juni 2009

Bagaimana kalangan orang Jawa(jaman dulu) memandang sosok wanita?

1. Kedudukan wanita.

-Garwo : alias sigaraning nyowo, atau belahan jiwa.Bagi suami,isteri adalah sumber semangatnya.Jika isteri meninggal sang suami serasa tak bernyawa lagi,hidup terasa hampa,seolah kehilangan daya.Makanya ada suami yang menderita sepeninggal isterinya karena tak ada yang mengurusinya lagi,akhirnya sakit sampai menemui ajalnya.

Suwargo nunut,neraka katut.Katanya isteri hanya nebeng suami untuk berangkat ke sorga,dan jika suami masuk neraka maka isterinya juga akan terbawa.Ini bisa diartikan bahwa baik-buruknya wanita tergantung suaminya.Suami adalah pemimpin atau imam dalam suatu rumah tangga.Tentunya suami juga harus tahu bagaimana menjaga dan memelihara perannya itu agar benar-benar menjadi panutan anak-isterinya.

Konco wingking, atau teman dibelakang.Isteri tak boleh terlalu ikut-campur urusan suami.Tugas seorang isteri hanya sebatas mengurusi rumah tangganya sehingga terwujud keluarga yang tenteram,damai dan bahagia.Namun jaman sudah berubah,ada wanita yang menjadi presiden,menteri,dirjen dan lain-lainnya.Jika ada wanita lebih hebat daripada suaminya tentu tidak berarti si wanita langsung menyebut suaminya sebagai”konco wingking”

2. Peran Wanita.

Pada jaman dulu orang Jawa beranggapan bahwa isteri harus pinter macak,masak dan manak.Seorang isteri harus pintar berdandan untuk suami,bukan untuk orang lain.Selain itu,isteri juga harus pinter masak,menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya.Seorang isteri yang tidak bisa membuat sambel akan menjadi bahan tertawaan dan bahkan bahan gunjingan keluarga suami.Dan last but not least,karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan maka seorang isteri harus bisa memberikan anak-anak bagi suaminya.Seorang isteri yang tidak mampu memberikan keturunan bisa disebut sebagai wanita yang’gabuk’,alias mandul.Padahal anak adalah pemberian Tuhan.

Ternyata dengan berjalannya waktu,peran seorang wanita semakin komplex,apalagi setelah wanita meniti karier diluar rumah.Urusan masak cukup didelegasikan kepada pembantu atau membeli makanan dari restoran atau warung.Demikian pula soal manak atau melahirkan anak.Ada sementara wanita yang memilih menunda untuk mempunyai anak karena takut mengganggu kariernya.Tetapi soal macak atau berhias,tampaknya tetap menjadi kesukaan wanita.Rasanya belum pede jika bepergian tidak memakai parfum,blush on,eye shadow,maskara dan lain-lainnya.Tetapi semuanya tergantung individu masing-masing.

3. Candraning wanita.

Orang Jawa menggambarkan wanita cantik seperti berikut ini :

Alise:nanggal sepisan (bentuknya seperti bulan ketika tanggal-1,mungil,melengkung)

Bangkekan:nawon kemit (pinggangnya seperti pinggang tawon kemit,mirip gitar)

Drijine :mucuk eri(jari-jarinya lentik seperti pucuknya duri)

Irunge:mbongkok semende (hidungnya seperti pelepah daun kelapa yang sedang bersandar)

Lakune :macan luwe(caranya berjalan seperti macan lapar-glenak-glenok kaleee)

Mripate:ndamar kanginan(matanya seperti lampu teplok yang tertiup angin,riyep-riyep)

Pakulitane :ngulit langsep( warna kulitnya seperti kulit langsat atau duku)

Pipine:nduren sajuring(pipinya seperti duren seperempat-agak nyempluk yaa?)

Pundake:nraju emas(pundaknya seperti timbangan emas)

Lembehane :mblarak sempal (lenggang jalannya seperti daun kepala yang sempal dari pohon lalu jatuh,wah gimana nggambarkannya nich-mungkin melayang-layang)

Lambene :manggis karengat(bibirnya seperti buah manggis retak-weleh-weleh)

Rambute :ngembang bakung(rambutnya seperti kembang bakung)

Susune :nyengkir gading(susunya seperti cengkir gading-bulat-lonjong-kuning mulus..hemmmm)

Untune:miji timun(giginya seperti biji mentimun)

Wentise:ndamen meteng( betisnya seperti batang padi hamil)

Sekali lagi,apa yang diterangkan tentang kedudukan dan peran wanita diatas tampaknya sekarang sudah bergeser.Wanita kini bahkan ada yang mengungguli pangkat dan kedudukan suaminya.Namun hal itu bukan berarti wanita yang lebih sukses tidak menghormati suaminya.

Suami dan isteri jaman sekarang harus bisa caring atau saling menjaga dan sharing,saling berbagi,dalam suka maupun duka.

Bagaimana pendapat para sahabat??

  1. 25 Juni 2009 pukul 22:35

    Macak, Masak, dan Manak.

    Kalo Macak, gua kagak tuh😀 >> tapi gua gak tomboy loh, cuma pede pede aja atau kepedean kali kagak pake make up😀
    Kalo Masak, sepertinya gua ikut tradisi keluarga, semua cewek di keluarga papa mama saya “baru pintar masak setelah berkeluarga”, sekarang gua belum berkeluarga, jadi blm bisa😀
    Kalo Manak, belum tau tuh😀 tar udah nikah baru bisa tau

    Pada saatnya nanti,genduk harus juga macak,masak dan manak kan.Itu sudah bagian dari gaya hidup wanita (he..he..he ini mottonya majalah Femina dulu)

  2. 25 Juni 2009 pukul 23:28

    oiy pa’ de, sekarang saya sedang jatuh cinta pada seorang wanita, tapi saya ngga tau wanita itu bisa masak atau tidak…^_^…V

    Kalau wanita gak bisa masak gimana donk,katanya’cinta itu datangnya dari perut’ ha..ha..ha

  3. 26 Juni 2009 pukul 05:15

    Wah, ini sangat wajib. Apalagi untuk aku dewasa nanti.

    Sekarang coba kalu lagi nganggur mbuat sambel sebagai test awal

  4. 26 Juni 2009 pukul 06:30

    SETUJU!!!!
    Kan enak banget kalo habis kerja disuguhin makan?!
    Benar?!

    Setuju dan benar sekali mas,apalagi kalau masakan isteri yahud wal ngeTOP.

  5. 26 Juni 2009 pukul 06:30

    SETUJU!!!!
    Kan enak banget kalo habis kerja disuguhin makan?!
    Benar?!

    Kedai

  6. 26 Juni 2009 pukul 07:29

    Saya kok merasa belom lengkap jadi wanita, soalnya nggak suka macak, belom pinter masak, dan belom pernah manak…😉

    Ya belajar tho mbak.Lha aku dulu di Forthuachuca dan Namibia juga masak sendiri lho.Aku biasanya mbuat nasi goreng saja.Uleg-ulegnya ambil batu dari depan rumah ha..ha..ha.Tetangga ngamuk-ngamuk karena bau trasi yang digoreng merangsang sukma mereka.Sekarang kan sudah ada bumbu instans yg djual di supermarket,jadi lebih mudah tho.

  7. 26 Juni 2009 pukul 09:35

    bentar ne pak?
    lah kalu suamina yan9 mandul 9imana? brarti da tokh yan9 “9abuk” seperti yan9 panjenen9an tulis?jadi jan9an terlalu disalahin istrina doonn..??
    tidak adill..heheh

    umm..man99ut man99ut ajah dah bacana🙂

    Jaman dulu mungkin belum model periksa ke dokter,jadi begitulah anggapan mereka.Tetapi kan jaman sudah berubah tho,jadi sekarang nggak bisa menyalahkan pihak wanita saja.Sayapun ikut manggut2 kok.

  8. yyanti
    26 Juni 2009 pukul 09:50

    Saya bukan orang Jawa, suami saya juga bukan Jawa. Berlaku gak pandangan tsb? Gak dibahas juga Pak pandangan istri terhadap suami? Jangan-jangan istri Jawa menderita dipandang begitu sama suaminya. He he (peace)

    itu adalah pandangan jaman dulu,kini semuanya sudah berubah.Dulu juga banyak wanita yang harus menurut ketika dijodohkan dengan pria yang belum dikenalnya,bukan?Sekarang orang tua sudah mulai merubah sikapnya,tapi mungkin ada beberapa juga yang masih kolot.
    Pandangan wanita terhadap pria,tentu saja ada donk.Entar saya gali deh.

  9. 26 Juni 2009 pukul 09:52

    ngimpi….ngimpi kui kang..kekekekeke…klo lagi jatuh cinta aja, tai kambing rasa coklat….kekekeke
    biar dibikinin kopi kaya uyuh jaran juga katanya eunakkkk….dibikinin nasgor asin..katanya bumbunya muanteb………

    setelah menikah dan punya anak…jadi :
    rambut : mbang jambu…
    yg dulunya idol jadi idle……….ealahhhh

    saya seh tetep merasa sempurna, walau tak punya anak, dan dengan hubby saya adalah partner, tapi saya pinter masak.dan mbikin kue……hehehehe…klo macak? wuihhhh ya tetep seh saya make make up walau tak lengkap.
    Nutupin kekurangan, dan yg penting harus punya rasa percaya diri.

    Benar,anak adalah pemberian Tuhan,kita hanya bisa memohon tetapi decission tetap ada pada-Nya.Saya sependapat kok bahwa jaman sudah berubah,tidak seperti jaman nenek moyang kita dulu.yang pengting sabar dan syukur.

  10. 26 Juni 2009 pukul 16:03

    Setuju omm,,,
    Wanita tu bagian ngurusi rumah tangga….
    hehhee….

    jangan keras2 entar di demo ibu2 lho

  11. 27 Juni 2009 pukul 09:28

    Di tangan para ibulah masa depan generasi di tentukan…
    Karena merekalah yang seharusnya lebih dekat dengan anak..
    Bukan menjauhi dengan sibuk bekerja di luaran…
    Artikel bagus pakdhe..

  12. 28 Juni 2009 pukul 00:10

    Setuju kalo saling care, tapi kalo kudu bisa masak.. hem.. ya nggak terlalu setuju.. eh bentar mas.. saya barusan masak air, biasanya sih angus.. hehehehehhe…

  13. KangBoed
    28 Juni 2009 pukul 04:30

    SETUJU WANITA harus bisa MASAK yang ENAK yaaa PAK..
    Salam Sayang

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: