Wanita harus bisa masak !

Bagaimana kalangan orang Jawa(jaman dulu) memandang sosok wanita?

1. Kedudukan wanita.

 

 -Garwo : alias sigaraning nyowo, atau belahan jiwa.Bagi suami,isteri adalah sumber semangatnya.Jika isteri meninggal sang suami serasa tak bernyawa lagi,hidup terasa hampa,seolah kehilangan daya.Makanya ada suami yang menderita sepeninggal isterinya karena tak ada yang mengurusinya lagi,akhirnya sakit sampai menemui ajalnya.

Suwargo nunut,neraka katut.Katanya isteri hanya nebeng suami untuk berangkat ke sorga,dan jika suami masuk neraka maka isterinya juga akan terbawa.Ini bisa diartikan bahwa baik-buruknya wanita tergantung suaminya.Suami adalah pemimpin atau imam dalam suatu rumah tangga.Tentunya suami juga harus tahu bagaimana menjaga dan memelihara perannya itu agar benar-benar menjadi panutan anak-isterinya.

Konco wingking, atau teman dibelakang.Isteri tak boleh terlalu ikut-campur urusan suami.Tugas seorang isteri hanya sebatas mengurusi rumah tangganya sehingga terwujud keluarga yang tenteram,damai dan bahagia.Namun jaman sudah berubah,ada wanita yang menjadi presiden,menteri,dirjen dan lain-lainnya.Jika ada wanita lebih hebat daripada suaminya tentu tidak berarti si wanita langsung menyebut suaminya sebagai”konco wingking”

2. Peran Wanita.

Pada jaman dulu orang Jawa  beranggapan bahwa isteri harus pinter macak,masak dan manak.Seorang isteri harus pintar berdandan untuk suami,bukan untuk orang lain.Selain itu,isteri juga harus pinter masak,menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya.Seorang isteri yang tidak bisa membuat sambel akan menjadi bahan tertawaan dan bahkan bahan gunjingan keluarga suami.Dan last but not least,karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan maka seorang isteri harus bisa memberikan anak-anak bagi suaminya.Seorang isteri yang tidak mampu memberikan keturunan bisa disebut sebagai wanita yang’gabuk’,alias mandul.Padahal anak adalah pemberian Tuhan.

Ternyata dengan berjalannya waktu,peran seorang wanita semakin komplex,apalagi setelah wanita meniti karier diluar rumah.Urusan masak cukup didelegasikan kepada pembantu atau membeli makanan dari restoran atau warung.Demikian pula soal manak atau melahirkan anak.Ada sementara wanita yang memilih menunda untuk mempunyai anak karena takut mengganggu kariernya.Tetapi soal macak atau berhias,tampaknya tetap menjadi kesukaan wanita.Rasanya belum pede jika bepergian tidak memakai parfum,blush on,eye shadow,maskara dan lain-lainnya.Tetapi semuanya tergantung individu masing-masing.

3. Candraning wanita.

Orang Jawa menggambarkan wanita cantik seperti berikut ini :

Alise:nanggal sepisan (bentuknya seperti bulan ketika tanggal-1,mungil,melengkung)

Bangkekan:nawon kemit (pinggangnya seperti pinggang tawon kemit,mirip gitar)

Drijine :mucuk eri(jari-jarinya lentik seperti pucuknya duri)

Irunge:mbongkok semende (hidungnya seperti pelepah daun kelapa yang sedang bersandar)

Lakune :macan luwe(caranya berjalan seperti macan lapar-glenak-glenok kaleee)

Mripate:ndamar kanginan(matanya seperti lampu teplok yang tertiup angin,riyep-riyep)

Pakulitane :ngulit langsep( warna kulitnya seperti kulit langsat atau duku)

Pipine:nduren sajuring(pipinya seperti duren seperempat-agak nyempluk yaa?)

Pundake:nraju emas(pundaknya seperti timbangan emas)

Lembehane :mblarak sempal (lenggang jalannya seperti daun kepala yang sempal dari pohon lalu jatuh,wah gimana nggambarkannya nich-mungkin melayang-layang)

Lambene :manggis karengat(bibirnya seperti buah manggis retak-weleh-weleh)

Rambute :ngembang bakung(rambutnya seperti kembang bakung)

Susune :nyengkir gading(susunya seperti cengkir gading-bulat-lonjong-kuning mulus..hemmmm)

Untune:miji timun(giginya seperti biji mentimun)

Wentise:ndamen meteng( betisnya seperti batang padi hamil)

Sekali lagi,apa yang diterangkan tentang kedudukan dan peran wanita diatas tampaknya sekarang sudah bergeser.Wanita kini bahkan ada yang mengungguli pangkat dan kedudukan suaminya.Namun hal itu bukan berarti wanita yang lebih sukses tidak menghormati suaminya.

Suami dan isteri jaman sekarang harus bisa caring atau saling menjaga dan sharing,saling berbagi,dalam suka maupun duka.

Bagaimana pendapat para sahabat??

Iklan

Penulis: Pakde Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi. Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway. Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

13 thoughts on “Wanita harus bisa masak !”

  1. Macak, Masak, dan Manak.

    Kalo Macak, gua kagak tuh πŸ˜€ >> tapi gua gak tomboy loh, cuma pede pede aja atau kepedean kali kagak pake make up πŸ˜€
    Kalo Masak, sepertinya gua ikut tradisi keluarga, semua cewek di keluarga papa mama saya “baru pintar masak setelah berkeluarga”, sekarang gua belum berkeluarga, jadi blm bisa πŸ˜€
    Kalo Manak, belum tau tuh πŸ˜€ tar udah nikah baru bisa tau

    Pada saatnya nanti,genduk harus juga macak,masak dan manak kan.Itu sudah bagian dari gaya hidup wanita (he..he..he ini mottonya majalah Femina dulu)

  2. oiy pa’ de, sekarang saya sedang jatuh cinta pada seorang wanita, tapi saya ngga tau wanita itu bisa masak atau tidak…^_^…V

    Kalau wanita gak bisa masak gimana donk,katanya’cinta itu datangnya dari perut’ ha..ha..ha

  3. SETUJU!!!!
    Kan enak banget kalo habis kerja disuguhin makan?!
    Benar?!

    Setuju dan benar sekali mas,apalagi kalau masakan isteri yahud wal ngeTOP.

  4. Saya kok merasa belom lengkap jadi wanita, soalnya nggak suka macak, belom pinter masak, dan belom pernah manak… πŸ˜‰

    Ya belajar tho mbak.Lha aku dulu di Forthuachuca dan Namibia juga masak sendiri lho.Aku biasanya mbuat nasi goreng saja.Uleg-ulegnya ambil batu dari depan rumah ha..ha..ha.Tetangga ngamuk-ngamuk karena bau trasi yang digoreng merangsang sukma mereka.Sekarang kan sudah ada bumbu instans yg djual di supermarket,jadi lebih mudah tho.

  5. bentar ne pak?
    lah kalu suamina yan9 mandul 9imana? brarti da tokh yan9 “9abuk” seperti yan9 panjenen9an tulis?jadi jan9an terlalu disalahin istrina doonn..??
    tidak adill..heheh

    umm..man99ut man99ut ajah dah bacana πŸ™‚

    Jaman dulu mungkin belum model periksa ke dokter,jadi begitulah anggapan mereka.Tetapi kan jaman sudah berubah tho,jadi sekarang nggak bisa menyalahkan pihak wanita saja.Sayapun ikut manggut2 kok.

  6. Saya bukan orang Jawa, suami saya juga bukan Jawa. Berlaku gak pandangan tsb? Gak dibahas juga Pak pandangan istri terhadap suami? Jangan-jangan istri Jawa menderita dipandang begitu sama suaminya. He he (peace)

    itu adalah pandangan jaman dulu,kini semuanya sudah berubah.Dulu juga banyak wanita yang harus menurut ketika dijodohkan dengan pria yang belum dikenalnya,bukan?Sekarang orang tua sudah mulai merubah sikapnya,tapi mungkin ada beberapa juga yang masih kolot.
    Pandangan wanita terhadap pria,tentu saja ada donk.Entar saya gali deh.

  7. ngimpi….ngimpi kui kang..kekekekeke…klo lagi jatuh cinta aja, tai kambing rasa coklat….kekekeke
    biar dibikinin kopi kaya uyuh jaran juga katanya eunakkkk….dibikinin nasgor asin..katanya bumbunya muanteb………

    setelah menikah dan punya anak…jadi :
    rambut : mbang jambu…
    yg dulunya idol jadi idle……….ealahhhh

    saya seh tetep merasa sempurna, walau tak punya anak, dan dengan hubby saya adalah partner, tapi saya pinter masak.dan mbikin kue……hehehehe…klo macak? wuihhhh ya tetep seh saya make make up walau tak lengkap.
    Nutupin kekurangan, dan yg penting harus punya rasa percaya diri.

    Benar,anak adalah pemberian Tuhan,kita hanya bisa memohon tetapi decission tetap ada pada-Nya.Saya sependapat kok bahwa jaman sudah berubah,tidak seperti jaman nenek moyang kita dulu.yang pengting sabar dan syukur.

  8. Di tangan para ibulah masa depan generasi di tentukan…
    Karena merekalah yang seharusnya lebih dekat dengan anak..
    Bukan menjauhi dengan sibuk bekerja di luaran…
    Artikel bagus pakdhe..

  9. Setuju kalo saling care, tapi kalo kudu bisa masak.. hem.. ya nggak terlalu setuju.. eh bentar mas.. saya barusan masak air, biasanya sih angus.. hehehehehhe…

Komentar ditutup.