Beranda > Uncategorized > Nasi kotak,why not?

Nasi kotak,why not?

28 Juni 2009

NASI KOTAK

Ketika keponakan saya akan menikahkan putrinya,saya menanyakan bagaimana konsumsinya akan dilaksanakan.Keponakan menjawab bahwa untuk acara walimatul ‘urusy dirumah,tamu akan dijamu makan dalam bentuk piringan dengan menu nasi rawon sedangkan pada saat resepsi digedung’makan para tamu dalam bentuk prasmanan.Saya lalu mengusulkan bagaimana kalau pada acara digedung makannya dalam bentuk nasi kotak.Keponakan bilang:”Ah,oom kok bergurau sih,ya nggak lazim lah,resepsi kok makan nasi kotak”

Ide makan dengan versi nasi kotak ini terus saya gulirkan lagi ketika cucu saya Tanti akan menikah.Cucuku yang dokter ini menjawab agak panjang:”Eyang,kalau kita membuat kartu undangan secara sederhana,misalnya diketik pakai komputer mungkin mereka tidak akan memperdulikannya karena undangan itu toh juga akan dibuang.Tetapi kalau soal makanan yang kurang bagus akan menjadi bahan omongan sepanjang masa”.

Kedua argumen yang disampaikan oleh keponakan dan cucuku ada benarnya tetapi juga ada salahnya.Menyuguhkan nasi kotak kepada tamu undangan memang tidak lazim atau setidaknya belum lazim.Nasi kotak baru disuguhkan pada acara rapat dikantor-kantor,sedangkan pada acara selamatan atau hajatan tuan rumah minimal menyiapkan makanan dalam bentuk piringan.

Saya melontarkan ide suguhan tamu berbentuk nasi kotak bukan hanya sekedar untuk menghemat biaya,tetapi ada alasan-alasan lain.

1.Dengan nasi kotak,tidak ada kegiatan cuci-mencuci piring dan sendok setelah acara makan selesai.Ini tentu sudah menghemat waktu dan tenaga.Kita tahu,setelah acara hajatan selesai kondisi mental dan phisik tuan rumah maupun para pembantu sudah lelah.Maunya mereka segera istirahat setelah sehari atau bahkan beberapa hari bekerja keras menyiapkan hajatan.

2.Makan dengan cara prasmanan dinilai mahal.Biaya pernikahan yang paling besar jumlahnya adalah untuk pos konsumsi. Kadang tuan rumah tidak mau menanggung malu gara-gara hidangan makan kurang sehingga mereka menambah jumlah pesanan prasmanan,misalnya ditambah 10% dari jumlah undangan yang diedarkan.

3.Pada acara prasmanan banyak makanan yang mubazir -terbuang-akibat kelakuan tamu yang silau melihat aneka makanan tergelar dimeja.Mereka mengambil setumpuk makanan lalu dengan santainya meninggalkan sisa makanan yang masih banyak dipiringnya itu karena kekenyangan.

4.Nasi kotak lebih praktis,jika ada tamu yang tidak mau makan pada acara resepsi itu maka nasi kotak bisa dibawa pulang,diberikan kepada sopir atau dimakan sendiri jika nanti sudah merasa lapar.

5.Nasi kotakpun juga akan tampak menarik jika dihidangkan secara apik,kotaknya juga bisa dibuat dari bahan yang bermutu,mungkin bisa ditambah dekorasi gambar atau tulisan.

6.Nasi kotak yang tersisa bisa dibawa pulang oleh sahibul hajat,diberikan kepada tetangga,dikirimkan kepada panti-panti asuhan,para tukang becak,para gepeng dan orang-orang yang kita anggap layak untuk diberi.

7.Hidangan nasi kotak pada acara resepsi mungkin awalnya mengejutkan atau mengherankan banyak pihak dan lalu menjadi bahan omongan.Namun percayalah,itu hanya akan berlangsung beberapa saat saja.Tetapi hal itu akan menjadi lazim setelah 5 atau 10 orang menggunakan cara yang sama ketika mempunyai hajat.Kita masih ingat ketika ada orang mengirimkan undangan dengan embel-embel tulisan:”Tanpa mengurangi rasa hormat,mohon tali asih tidak berbentuk bunga atau barang”.Apa maksud kalimat itu? Mudah ditebak, ya ngasih uang donk,ah ! Tidak ada yang tahu siapa yang memulai menulis kalimat itu dalam kartu undangan.Kini tulisan itu sudah tidak ada lagi karena para penerima undangan sudah faham bahwa sipengirim undangan bukan hanya mohon doa restu tetapi juga memerlukan uang.Ach masak? Lha iya tho,buktinya dimeja depan sebuah resepsi disiapkan kotak uang.Iya kan,enak kan,mantap kan.

Pertanyaannya adalah:siapakah yang berani memulai,menyuguhkan nasi kotak dalam sebuah resepsi ?.

Jika diantara para sahabat ada yang mau mempelopori maka anda akan membuat sejarah didunia pernasi-kotakan.Kelak orang akan berkata:”Wah ternyata enak dan praktis kok makan nasi kotak diresepsi.Saya juga akan menirunya pada hajatan kelak”

Jika mereka ngomong begitu didepan anda,silahkan dijawab:”Ini semua berkat ide yang hebat dan cemerlang dari pakde Cholik”

Bagaimana pendapat sahabat tentang nasi kotak dalam resepsi ini?

 

 

Kategori:Uncategorized
  1. 28 Juni 2009 pukul 07:50

    Pendapat saya….
    Keren!

  2. 28 Juni 2009 pukul 10:39

    hehehehe saya menikah sehari sebelom lebaran, dan di masjid, tanpa minum atau makan……
    bancaan? ya ngirim nasi kotak ke tetangga2….. ga ada resepsi , bancaan aja, ga undang2…..hehehe tapi tetangga dan saudara yg “kupingnya” panjang dengar klo ada bancaan pernikahanku kira2 150 orang….pas di masjid kira2 temanku 40 orang make seragam korpri “nonton” saya menikah.
    pokoknya sweet memory.

    Jadi buat saya, klo liat undangan perkawinan yg “wah” make photo, CD dll……cuma bisa mlongo. Palagi dengar biaya pernikahan yg nol nya buanyak…….wuihhhh trus ngeliat bunga yg berjejer panjang, souvenir yg “aduhai” selalu saya mikir…untuk apa seh semua ini?

    Tapi semua orang punya pandangan sendiri2 ttg “resepsi” pernikahan…seperti ponakan2 pakdhe Cholik itu…..jadi that’s is life ……

    Bener mbak,kadang kita ngikuti selera orang lain tanpa mengingat selera dompet kita he..he.Wah asyik tuh nikah dihadiri teman berseragam korpri,kayah tujuh belasan aja he..he..he

  3. 28 Juni 2009 pukul 10:41

    looh aku koq malah crito dewe to? hihihi nuwun sewu looh

    ya gak apa2,supaya orang lain tahu bahwa mbak sudah menikah

  4. KangBoed
    28 Juni 2009 pukul 15:56

    Huuuuwaaaakaakakakak.. maaaa kaaasih paaaak.. bapaaaak tahu ajaaa neee.. sekalinya lagi kelaparan datang datang dikasih nasi kotaaaaaak.. waaah.. kok tinggaaaaal kotaknya aja paaaak.. *geleng geleng*.. pulaaaaaang..
    Salam Sayang

    kotak kan juga bermanfaat,untuk tempat kaos kaki basah ha..ha..ha

    • 28 Juni 2009 pukul 16:06

      … kangboed dah… gak kebagian yaa..???
      ….kacian deh..loo….
      ….he..heee..

      Kotak saja kan bermanfaat,untuk kopiah menahan panas

  5. 28 Juni 2009 pukul 16:04

    Saya setuju juga sama mbak Wieda , yg utama adalah Akhad Nikahnya , Resepsi no berikutnya….
    justru dg acara begitu malah mjd Unik dan berkesan….

    Dg Nasi kotak ,..kenapa enggak ?..ini ide yg luar biasa !!
    saya setuju..sekali dg semua alasan2 diatas.
    apalagi hare gene ..orang maunya serba praktis..tiss….
    Nuwun sewu.. matur suwun.

    SALAM dan HORMAT.

    makasih mas.panjenengan mau nggak mempelopori nasi kotak kalau mantu nanti ?

  6. 29 Juni 2009 pukul 03:07

    Katanya tamunya DIJAMU pakde, kok dikasih nasih kotak?πŸ˜€ Mana nyang betul wae?πŸ™„

    makannya nasi kotak,minumnya jamu gitu loch mas

  7. zee
    29 Juni 2009 pukul 08:20

    Idenya bagus ya Pak. Tapi saya setuju dengan alasan cucunya, karena memang kalau pesta makanannya kurang enak ato berantakanlah istilahnya, pasti jadi omongan kemana-mana. Cthnya wkt seorang rekan kantor kmrn menikah, kebetulan temen saya datang kesana (saya tdk datang), dan laporannya ke kami begini : “makanannya gak enak. terhancur dari yg pernah gw datangi.” hueee….

    Masalahnya org kita kan suka nambah2 kan Pak? Kalo dikasih nasi kotak nanti kesannya dijatah.πŸ˜€

    Satu lagi, pesta orang Batak juga sudah dari dulu menyediakan nasi kotak, Pak. Karena pesta batak umumnya ada B2-nya, maka mereka pasti memesan nasi kotak dari RM yang halal, khusus untuk menjamu para tamu yang Muslim. Jadi selain yg prasmanan, yg kotakan juga ada. Terserah saja mau ambil ygn mana…πŸ™‚


    Waktu pak Hugeng melontarkan ide helm kan juga ditentang,sekarang malah wajib helm tho.Taman Mini juga ditentang dulunya,sekarang jadi obyek wisata juga.Tenang aja mas…

  8. 29 Juni 2009 pukul 11:14

    makannya nasi kotak, minumnya teh kotak…..
    dan jangan lupa ngisi kotak di depan, seikhlasnya…..πŸ˜€


    Mantap dan setuju mas.

  9. zefka
    30 Juni 2009 pukul 06:03

    Salam kenal Pakdhe
    ide yang unik dan kreatif pakdhe…
    Nasi kotak di resepsi memang untuk jaman sekarang masih belom ada yg mengaplikasi atau bahkan gak ada.
    Kalo direnungi alasan pakdhe di atas memang benar.. asalkan hidangan yg di kotak itu layak (gak harus mewah) mungkin malah akan membuat para tamu lebih nyaman, bisa dibawa pulang atau jg dimakan di tempat. Banyak orang yg ngerasa gak nyaman makan rame2 kan.. jaim, takut diliat orang kalo makannya banyakπŸ™‚ Kalo pake kotak kan bisa aja dimakan ntar..

    soalnya ada orang yang gak bisa ngukur diri sendiri.Lha gak mampu kok pake resepsi yang wah.Alhasil habis resepsi dengkulnya copot cari hutangan lagi untuk menutup hutang biaya resepsi kemarin.

  10. Nugrahani
    17 Februari 2010 pukul 15:52

    Salam, walimatul urusy saya pake nasi kotak, dan alhamdulillah semua pihak puas (bkn krn pakde Cholik lho..hehe). Saya memilih menu dan catering yg bagus. Bentuk penyajiannya pun sangat apik. Semuanya praktis tinggal buang kalo selesai. Yg penting enak, kenyang, puas dan gak ribet.

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: