Beranda > Renungan > Malu

Malu

30 Juni 2009

Sahabat,apakah anda pernah mendengar kata malu atau darmaji? Itu adalah olok-olokan belaka.Malu adalah singkatan dari kalimat ambil lima bilang telu,sedangkan darmaji singkatan dari kalimat dahar lima bilang siji atau makan lima bilang satu.Tingkah laku seperti ini biasanya dilakukan dikantin atau warung yang pengunjungnya lumayan ramai sehingga Kodal alias komando dan pengendalian pemilik kantin atau warung menjadi kendor.Malu dan darmaji jika dilakukan sekali atau dua kali boleh dibilang sebagai kenakalan belaka,tetapi jika sudah menjadi habit atau kebiasaan maka tingkah laku seperti itu bisa dianggap sebagai tindak kriminal.Bahkan dalam agama apapun perbuatan itu dilarang dan berdosa bagi siapa saja yang melakukannya.

Cak Nun atau Emha Ainun Najib,dalam bukunya berjudul Slilit Sang Kyai,mengisahkan seorang kyai yang sulit menghembuskan nafasnya yang penghabisan.Surat Yasiin yang dibacakan untuk memperlancar prosesi sang Kyai menghadap Sang khaaliq juga belum mampu mengantarkannya kealam baka.Akhirnya seseorang mendekati kyai dipembaringannya dan menanyakan apakah kyai mempunyai hutang,pernah menyakiti orang lain,menyakiti hati orang tuanya atau ada masalah-masalah dengan orang lain yang belum diselesaikannya.Sang kyai mencoba-coba mengingat segala macam yang sudah atau belum pernah dilakukan selama hayatnya.Tiba-tiba sang kyai berkata:”Saya tidak tahu apakah peristiwa itu yang menghalangi perjalananku.Dulu memang saya pernah nyuwil batang bambu yang dijadikan pagar dikebun tetangga sebelah.Cuwilan batang bambu itu saya ambil sedikit untuk mencungkil slilit yang ada digigi saya”.Seketika tetangganya yang disebut oleh sang kyai dipanggil dan sang kyai minta maaf atas kelakuannya itu.Begitu tetangganya memberi maaf, sang kyaipun meninggal dunia dengan tenang.

Sahabat, saya tentu agak miris membaca buku Cak Nun itu.Jangan-jangan sayapun pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh sang kyai.Mungkin ketika masih duduk di SD ,SMP atau SMA saya pernah khilaf atau sengaja malu dan darmaji ketika jajan dikantin sekolah atau makan diwarung.Jangan-jangan ubi yang saya cabut diladang orang ketika saya latihan dulu juga akan membawa masalah dikelak kemudian hari. Jangan-jangan perbuatan yang saya anggap sepele,guyonan atau bercanda bisa menimbulkan ketersinggungan bagi orang lain.Maklum,kalau sudah guyon suka kebablasan dan kurang memperhitungkan perasaan orang lain.

“Mas,coba cari buah kenari,bukan kemiri lho, goreng tanpa minyak atau digongso,kemudian tumbuk sampai halus.Malam hari sebelum tidur oleskan dikepala yang botak itu,ulangi beberapa kali”,kata saya kepada teman yang rambut dikepalanya berlabel”Radita”alias RAmbut DIkit ditaTA”.Teman saya dengan serius dan wajah agak gembira bertanya:”Emangnya bisa menyuburkan rambut mas?”.Saya langsung menyahut dengan wajah tak kalah serius:”Yaaa nggak,hanya supaya mengkilat saja tuh botaknya”.Guyonan seperti ini jangan-jangan menyebabkan ketersinggungan bagi mereka yang sensi.

Makanya,setiap saat ,marilah kita segera minta maaf kepada orang tua,sanak-kadang,sahabat atau orang lain,barangkali kita telah mengeluarkan ucapan atau melakukan perbuatan yang dapat membuatnya marah atau tersinggung.

Kategori:Renungan Tag:, , , ,
  1. 30 Juni 2009 pukul 11:38

    Saya juga pernah Malu dan DARMAJI saat masih kecil. Ini karena takut bila bilang lima ntar akan dimarahin Mama. Jadi ya bilang TELU aja

    Hore,ternyata ngaku juga yaaa

  2. 30 Juni 2009 pukul 11:46

    Malu aku malu…

    kok kayak lagu Kisah Kasih disekolah..malu aku malu ada semut merah..

  3. 30 Juni 2009 pukul 12:21

    Kalau di Jawa ada guyon maton yang maknanya kurang lebih bercanda tetapi tetap ada di dalam koridor sopan santun, tidak berlebihan, tidak berbohong dan tetap ada hikmah yang bisa dipetik.

    Setuju mas,kalau nggak ada guyon hidup gitu jadi gersang

  4. KangBoed
    30 Juni 2009 pukul 12:46

    Waaaaaaaaaaaaaah.. Darmaji.. Dahar lima ngaku siji.. jadi ingat masa sekolah dulu paaaaak.. populer bangeeeeet yaaaaaaa..
    Salam Sayang

    Haha..ha..dah banyak yang ngaku rek,asyik kan..

  5. YNa
    30 Juni 2009 pukul 17:09

    jd maluw klo memang byk punya salah.. thx renungannya pak dan lam knal juga🙂

    Thanks mbak kunjungan dan komentarnya,kapan-kapan tak sambangi yaa.

  6. 30 Juni 2009 pukul 20:54

    Sak elingku urip, aku durung tahu wani nglakoni kui kabeh pakde. Wedi dosane

    Alhamdulillah,semoga perilaku baik ini tetap terjaga mas.

  7. 30 Juni 2009 pukul 22:10

    hihihi jadi ingat jaman mahasiswa dulu, pulang kuliah nongkrong rame2 diwarung…nah pisang goreng sak piring bablas..tapi pas bakulnya ngetung….aku bilang aku makan pisang gor nya separo, tahu siji, tempe mendoan separo, bacem 3. akhirnya kami “bantingan” dan duitnya semua dikasih ke yg jual…tapi yg jual tuh selalu seneng klo kami datang…..dan kami tau diri juga sering kami tolak pengembalian duitnya.

    ih pakdhe satu ini bisa aja mancing kenangan yg mikin senyam senyum…(hubbyku bengong liat aku senyam senyum dewek……bisa2 dikira rada error aku)

    Hanya waktu mahasiswa?Biasanya yang nakal kan waktu SMP dan SMA tho mbak.Btw,waktu reuni kemarin saya juga disuguhi mendoan lho,dimakan anget2 enak tenan.Salam untuk hubby ya mbak.

  8. ettachan
    1 Juli 2009 pukul 00:49

    masuk blog ini aku jadi malu. haha

    hoo hooo,pantas mukanya ditutupi koran.Thanks dah mampir

  9. zefka
    1 Juli 2009 pukul 03:25

    Pakdhe.. minta maaf atas segala kesalahan ya.. 🙂
    Malu.. kata ini sudah banyak dilupakan maknanya oleh sebagian rakyat Indonesia. Kata yg sebenarnya bisa mengontrol seluruh tingkah laku umat manusia supaya tetap di rel yg seharusnya.

    Malu seharusnya dijadikan budaya ya mas.Malu jika lingkungan kotor,malu jika berlalulintas tidak tertib,malu jika tidak mau antri,malu jika melanggar hukum,dsb.

  10. 1 Juli 2009 pukul 05:43

    Duh, jadi malu pak :”>

    Kedai

    Ingat waktu sekolah ya mas hi..hi..hi

  11. guskar
    1 Juli 2009 pukul 07:29

    minta maaf nggak perlu nunggu lebaran, kan pakdhe. krn tanpa kita sadari kita sering mendzolimi org lain, sekecil apapun perbuatan kita. jngan sampai perbuatan2 td menjadi slilit saat sakramatul maut nanti

    Benar mas,tadinya saya heran ketika sepupu selalu mengatakan”Sepunten ingkang katah mas Lik”, setiap pamitan dari kunjungan ke rumahku.ternyata langkah itu benar,siapa tahu tahu dia sengaja natau tak sengaja salah ucap atau salah tindak ketika bertamu kerumahku.Akhirnya saya tiru2 dia.Setiap mengunjungi mak,mertua dan famili lain saya ucapkan”Maaf lahir batin mak”

  12. 1 Juli 2009 pukul 09:35

    Emang dulu pernah nyabut ubi di kebon orang, Pak? Sudah minta maaf belom? Jangan-jangan yang punya udah nggak ada.

    Pak, blog saya sementara ‘hilang’ soalnya saya keminter ngrubah functions.php, jadi malah ga bisa diakses…

    Iya mbak,waktu latihan di Magelang kan suka ambil mangga yang pating glantung,lha orangnya gak ada tapi kepengin je.Nyungkil ubi juga pernah,kalau latihan emang suka nggragas,apa-apa dimakan.Minum di sawah juga pernah lho..he..he..he
    Pantas saya 2 x masuk kok hanya”done” tapi gak muncul2 blognya.
    Jadi,mbuat lagi donk ,mbak.

  13. 1 Juli 2009 pukul 15:38

    waduh… saya jadi mengingat-ingat nih pak…
    ada ga ya ‘hutang’ yang belum dibayar???
    ^_^

    Mudah-mudahan nggak punya saya,kalau punya ya kapan2 dibayar he..he..he

  14. pitho
    1 Juli 2009 pukul 18:46

    lagi mengingat ingat pernah ngapain ajah yah…🙂 waduuhh ada hutang belum dibayar hiks… wkwkwkwk

    segera dibayar lho sebelum kiamat he..he..he

  15. 1 Juli 2009 pukul 19:19

    saya mohon maaf lho pak.
    sengaja atau nggak mungkin pernah
    memberikan komen yg menyakiti perasaan.
    salam.

    saya juga minta maaf,maklum saya suka urakan dan guyon

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: