Eny boyong

Kemarin saya bersama isteri,emak dan bulik mengantarkan Eny Indah Agustiani-anak saya-boyongan ke Mojokerto karena mengikuti suaminya yang pindah dari Polres Batu ke Polres Mojokerto.Seharusnya Eny pindah dari Batu,tetapi karena musim liburan sekolah maka Eny dan anak-anaknya transit di Jombang-dirumah mbahnya (ehhh,emakku juga kan).Mereka berangkat ke Mojokerto sekitar jam 08.00,kami menyusul satu jam kemudian.

Kepindahan tersebut menempatkan Eny berada diposisi sentral.Dengan embahnya hanya berjarak 30 km,dan dengan ortunya berjarak 50 km.Ini tentu sangat menyenangkan.Jika saya akan menengok emak yang di Jombang maka saya bisa mampir dulu di Mojokerto.Sebaliknya,sekembalinya dari Jombang,saya bisa mampir lagi di Mojokerto sebelum meneruskan perjalanan pulang ke Surabaya.

Saya pernah digrenegi(diomeli) emak,beberapa minggu menjelang acara boyongan itu.Ketika saya pamitan untuk berangkat ke Cimahi dalam rangka reuni keluarga,emak bilang:”Anaknya mau boyongan kok malah ditinggal pergi”.Lalu saya jelaskan bahwa saya ada acara reuni di Jakarta,lagipula Eny ini kan sudah dewasa,suaminya juga perwira polisi jadi soal boyongan ya nggak masalah.Hla,emak malah bilang:“Anakmu kan belum Jowo(belum dewasa-belum mengerti)

Saya tak mau berdebat dengan emak seperti acara debat di televisi.Ya begitulah emak,kami masih dianggap masih belum dewasa,termasuk saya.Padahal saya kan sudah punya cucu tiga.

I love you ,emak.

Iklan

Penulis: Pakde Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi. Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway. Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

10 thoughts on “Eny boyong”

  1. emaknya pakdhe masih sugeng toh…
    sy jd ingat, ibu sy dulu sering dinasihati nenek di depan anak cucunya ibu saat acara sungkeman…
    kasih ibu memang sepanjang jalan…

    Alhamdulillaah masih mas,beliau sumber semangatku.Matur nuwun

  2. Padahal saya kan sudah punya cucu tiga, kok emaknya masih bilang belum dewasa to mak, memangnya mas Cholik mau dianggap dewasa setelah umur berapa ya πŸ˜€

    mungkin karena belum banyak membaca buku untuk dewasa atau ngeKlik situs untuk orang dewasa mas

  3. Hahahah.. begitulah orang tua pak. Mereka akan selalu menganggap kita anaknya yang masih kecil. Itu tandanya mereka sayang sama kita. Selamanya, sepanjang jalan…

    Benar mas,apalagi kakak perempuanku meninggal saat usia 2 tahun,jadi saya anak tunggal deh.Mak agak over protective.Saya sudah perwirapun nggak boleh main sepakbola.padahal kalau tahu latihan saya pasti emak akan nyubiti pelatihku.ha..ha..ha

  4. Orang tua itu bawaannya khawatir aja. Tapi kita sebagai anak jarang yang menanggapi kekhawatiran itu,,,
    termasuk saya….

    kita baru sadar setelah termehek-mehek ya kang

  5. begitulah orang tua terutama ibu ….
    Kadang kecintaan mereka tertuang dalam banyak hal, dalam kemarahan mereka, dalam kelembutan mereka, dalam kekesalan mereka, dalam tangisan mereka karena kita.
    Kasih sayang seorang ibu tidaklah selalu dalam sebuah kelembutan…

    benar mas,walau ibu suaranya sering seperti petir menyambar tetapi sesungguhnya beliau tak tegaan.

  6. hiiiiii pakde…
    jadi inget emak saya yang dikampung, yang selalu menganggap saya seperti anak kecil terus. padahal kalo ada apa2 aja di kampung curhatnya dengan saya terus di telp.

    emak emang gitu kaleee ya,kayaknya beliau-beliau yang paling ngeTOP he.he..he,emak..emak kita memang hebat sehingga kita bisa seperti sekarang ini.

  7. Hehehehe.. ibu kalau jauh ngangeni.. dekat kadang cerewetnya minta ampun.. kayanya selalu dibayangkan kita masih anak kecil ya pak de.. tapi tetep sayang dan cintanya bikin terharu
    Salam Sayang

Komentar ditutup.