Beranda > Cerita mini > Menang tanpa ngasorake

Menang tanpa ngasorake

31 Juli 2009

Cimahi, 1975.

Ketika saya sedang bermain catur dirumah Pak Warto-guruku, datanglah seorang pria gagah, usianya tidak begitu jauh dengan Pak Warto. Guruku tadi memperkenalkan tamunya kepada saya: ” Ini adik saya ,Pak Soeyitno, Perwira Angkatan Laut. Dulu pernah dinas di Surabaya, sekarang di Jakarta”. Pak Warto tak lupa mengatakan bahwa saya adalah muridnya -perwira CPM yang sedang sekolah di Pusdikpom.

Pak Warto main catur sambil terus ngobrol dengan pak Soeyitno,adiknya. Tampaknya mereka agak jarang bertemu.

Kelengahan Pak Warto saya manfaatkan.  Pak Warto tak berkutik ketika rajanya terkepung oleh benteng, kuda dan menteri saya. Skak-mat !!!

” Waaahh,katanya jagoan main catur, kok kalah sama anak muda “, kata Pak Soeyitno terkekeh.

Sambil pulang ke ksatrian saya menyesali kemenangan saya. Seharusnya saya tidak mengalahkan Pak Warto-guruku di depan adiknya.

Beberapa bulan kemudian.

Ketika sedang ngobrol dengan Ipung dan adik-adiknya, bel berbunyi, tampaknya ada tamu. Pak Warto menemui tamunya, ngobrol beberapa saat. Kemudian kami dipanggil, ikut nimbrung. Oh ternyata Pak Soeyitno yang sudah saya kenal.

Kami bersalaman

” Apa kabar, Nak Cholik ??.

” Baik-baik ,Pak “

Mungkin Pak Soeyitno sudah diberitahu pak Warto bahwa saya adalah calon menantunya. Status saya pada saat itu adalah tunangan Ipung.Tampaknya Pak Soeyitno akan bermalam di Cimahi.

Sore hari saya ditantang main catur oleh Pak Soeyitno. Kami main catur sambil ngobrol, Oom Soeyitno ( begitu saya kemudian memanggil beliau) bercerita tentang pengalamannya, sambil sekali-kali memberi nasihat kepada saya tentang hidup dan kehidupan militer. Sore itu Oom Soeyitno menang tipis 3-2.

Ini kemenangan murni, bukan rekayasa seorang calon keponakan.

Itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Oom Soeyitno.

Ketika saya berkunjung kerumah beliau di Komplex Perumahan TNI-AL- Sawotratap-Surabaya saya hanya bertemu tante Pini dan putra-putri beliau yang masih kecil . ” Oom mu sedang dinas “, kata tante Pini.

Demikian pula ketika tahun 1976 saya bermalam di Sawotratap saya tidak bertemu dengan Oom Soeyitno.

Malam itu Tante Pini nawari saya sangu ” Nak Cholik ngersaake sangu ??”.

” Mboten tante, matur nuwun “, saya menjawab.

Pertemuan dengan Oom Soeyitno itu adalah pertemuan pertama dan terakhir sampai akhirnya saya melihat lagi foto Oom Soeyitno ketika menyusun draft awal Buku Keluarga Darono.

Pertemuan itu juga pertemuan terakhir saya dengan Tante Pini sekeluarga sampai kami bertemu lagi tanggal  28 Oktober 2007 di Ancol- Jakarta.

*****

Oom Soeyitno ” menang tanpa ngasorake” ketika bemain catur dengan saya. Hal ini tercermin dari jawaban beliau ketika Pak Warto bertanya ” Sopo sing menang ?”.

Oom Soeyitno dengan senyum menjawab ” Kami main seimbang, saya menang 3, nak Cholik menang 2 “

  1. guskar
    1 Agustus 2009 pukul 07:54

    jika pileg dan pilpres kemarin berpegang kepada filosofi cerita pakdhe di atas, sampai sekarang pasti nggak acakkadut seperti ini…

    lha gimana tho mas, mereka itu bukan orang asing satu sama lain, pernah jadi atasannya,pernah jadi bawahannya, pernah pendidikan sama2, pernah jadi menterinya,pernah jadi wakilnya,pernah jadi bosnya, lha kok similikithi gitu yaaa.
    Masya Allah.

  2. 3 Agustus 2009 pukul 20:36

    waaaa….pakdhe…harusnya gitu itu sikap “pemimpin” sejati..menang tanpo ngasorake

    iya mbak, jangan petenthang petentheng

  3. 4 Agustus 2009 pukul 05:39

    seandainya para calon pemimpin kita punya blog, dan blogwalking ke blognya Pak Cholik, terus membaca tulisan ini, pastilah sangat bermanfaat utk mereka.
    Kenapa nggak ya ?
    salam.

    karena mereka nggak suka ngebLOG mbak, takut diledek ama blogger muda, kalau saya makin diledek makin seneng karena bisa mbalas ngeledek.

  4. masdeewee
    5 Agustus 2009 pukul 12:24

    kenapa ya, justru kita bisa mengambil banyak pelajaran dari orang yang tidak terkenal?
    kenapa para pemimpin pada banyak yang saling menjatuhkan, padahal itu bertolak belakang dengan norma masyarakat dan norma agama kita?

    lha itu dia mas, pengin njabat semua soalnya

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: