Beranda > Renungan > Free man ?

Free man ?

6 Agustus 2009

Tak jelas benar bagaimana asal-usul sebutan preman bagi orang-orang yang kerjanya sebagai tukang palak, tukang paksa, tukang menakuti-nakuti orang atau tukang melakukan kegiatan yang meresahkan masyarakat itu.

Ada yang mengatakan kata preman berasal dari kata free man atau orang bebas. Mungkin bebas melakukan pelanggaran, memalak,menipu, dan sebagainya. Ada pula yang secara bergurau mengatakan bahwa kata preman sebenarnya singkatan dari prei makan alias kalau makan di warung nggak pernah mau membayar.

Anehnya, banyak orang yang takut dengan preman, mungkin  karena para preman dianggap bisa melakukan apa saja terhadap orang-orang yang berani melawannya.  Jika tidak kepada orang yang melawan, mungkin familinya yang akan menjadi bulan-bulanan para preman.

Bayangkan, pedagang dan pengemudi sak Tanah Abang lebih mudah mengeluarkan Susu Babu (Sumbangan Suka Rela Bantuan Bulanan ) daripada melawan preman yang hanya beberapa gelintir itu. Mengapa  para pedagang dan kawan-kawannya tidak berani melawan presmn ??

Mengapa para pedagang segitu banyaknya tidak ada yang memulai menggeret preman ke sidang pengdilan.

Apakah para sahabat akan terus berdiam diri melihat seorang wanita yang diseret oleh preman dan dimintai uang setiap hari ???

  1. 6 Agustus 2009 pukul 16:56

    Tilik keslametan…

    matur nuwun mas, sami wilujeng

  2. 6 Agustus 2009 pukul 19:11

    Nggak hanya free man yang kerjaannya malak PakDhe, bahkan pejabat pun banyak yang punya ‘kerjaan sampingan’ malak! Hehehehe…

    hanya istilahnya mungkin agak halus ya, misalnya Susu Tante- Sumbangan Sukarela Tanpa tekanan-ha..ha..ha

  3. 7 Agustus 2009 pukul 00:57

    hahahahaha “sus tante”??? pakdhe neee aku jadi ngakak ndak abis2…

    Preman tuh untuk meramaikan bumi ini kali…..
    wuihhh pakdhe meh ultah yah??? bancaan ga pakdhe?

    *ngarepdiundangdotcom*

    pakdhe blog satunya ndak bisa dibuka..malah kluar Apache nya…ihhhh kaya indian aja

    Lho, ultah kan masih lama mbak, dua minggu lagi. mOhon doanya ya mbak semoga saya selalu diberi ksehatan agar bisa binang2 dgn mmbak ayu. Makasih atas perhatiannya.

  4. 7 Agustus 2009 pukul 06:19

    bisa ga preman2nya diberi penyuluhan aja pakdhe??? ^_^

    oh bisa sekali nduk, why not. Entar tak rencanakan dulu ya. Nak Ningrum saya kasih satu materi ya untuk dipresentasikan yaitu ” Etika Melakukan Pemalakan “, 2 jam pelajaran saja ya nduk.

  5. 7 Agustus 2009 pukul 08:28

    Lha gimana ya, ga bisa silat atau bela diri…sebenarnya sih pengen nolongin, tapi..apa daya, hati keburu kecut duluan.

    Mohon berkenan menerima award. Silakan diambil. terima kasih.

    award saya terima dengan senang hati dan tawa lebar mas. PRnya yak kerjakan alon-alon ya. Makasih perhatiannya. duh senengnyaaaaa.

  6. 7 Agustus 2009 pukul 09:46

    Duh, gimana ya Pak ?
    Bukannya hanya ingin berdiam diri terhadap kelakuan preman2 itu, aparat berwenang yg seharusnya dpt melindungi warga ini, pada kemana ? apa toh tugas mereka?
    Bukan juga ingin menyalahkan kinerja para aparat2 tsb.
    Namun, apakah benar preman tsb juga nggak ikut dipalakin juga ? (bukan ingin suudzon)
    Jadi ya repot Pak, seperti benerin benang kusut.( kok jadi curhat ya saya)🙂🙂
    salam.

    lha itu dia, benang kusut, kok mereka rela uang hasil keringat diambil sebagian untuk preman ya.

  7. 7 Agustus 2009 pukul 11:05

    preman jago nakut2in orang secara psikologis.. krn blm apa2 org udh takut duluan. Pdhl kl para pedagang itu bersatu, mungkin bakalan ngacir juga itu preman..😀

    bener tuh mas, aneh bin ajaib kan.Preman ada yang tgampilannya kecil,kurus, ehhh orang2 pada takut. kenapa nggak diseret saja. Kok mau-maunya hasil keringat dimintai begitu saja oleh mereka.

  8. 7 Agustus 2009 pukul 13:08

    Bung Cholik,

    Tanpa ada rasa ingin menggurui, ini sebataas pandangan saya saja. Setahu saya dalam kasanah Sosiologi tidak ada perkataan preman. Jadi saya sendiri pun binggung. Preman itu kan ucapan yang dilontarkan orang lain kemudian berkembang menjadi bahasa sehari-hari.

    Dalam sosilogi masyarakat cuma dikenal tiga golongan / klas.
    1. Kelas atas atau sering kali disebut bourjuis. biasanya kretarianya adalah pengusaha besar / konglomerat..
    2. Kelas menengah
    Intelektual (buruh kerah putih/profisional), pedagang kecil, petani dan kaum miskin kota (biasanya preaman
    dikatagorikan di sini tetapi sulit untuk menspesifikasi)
    3. Kelas bawah atau biasa di sebut Proletariat. Orang yang tidak punya kepemilikan apa-apa seperti Buruh Industri,
    buruh perkebunan, dll.

    Untuk mengupas perkataan PREMAN harus dipelajari perkembangan jaman dan peradapan manusia. Jelas dalam masyarakat feodal tidak dikenal watak budaya preman (borjuis kecil/kelas menengah). Ia lahir biasanya ditandai dengan perkembangan negara dari agraris (semi feodal) ke industri (Kapitalis). Dalam transisi ke
    masyarakat industri biasanya wajar muncul kelas ketiga yangdisebut kelas menengah itu.

    Tetapi anehnya dalam tiori MARXIS tidak dikenal tiori (Borjuis kecil/kelas menengah) tiori sosial Marxis hanya mengatagorikan masyarakat hanya duakelas Borjuis dan proletar. Krtiteria sosial diatas dianalisa dengan analisa sosial marxisme.

    Pada akhirnya orang sering kali salah dalam menganalisa makna atau ucapan yang berkembang di masyarakat. Konotasi preman selalu indentik dengan keburukan, seperti sebuah takdir yang lahir begitu saja. Padahal
    beberapa ahli sosialog (kecualiyang terjebak) tidak
    menindentifikasi Kekerasan = PREman dalam komunitas
    yang berkembang dimasyarakat.

    Secara historis seperti diatas disebutkan faktor-faktor kekerasan dapat timbul bersamaan dengan perubahan masyarakat dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Faktor transisi budaya ini pula yang akhirnya menimbulkan kesenjangan dan penokohan-penokohan baru.

    Dalam mengkaji Preaman sebenarnya akan lebih menarik jika ditinjau dari sisi BUDAYA. PREMAN atau tepatnya kaum miskin perkotaan atau pengaguran di indonesia lahir ketika indonesia mulai beralih menjadi masyarakat Industri perkotaan (efek dari pembangunan) . Untuk itulah agar menyenangkan atau tepatnya mengkaburkan makna perbedaan tadi maka di buat semacam jastifikasi dengan menyebut mereka ini sebagai FREE MAN awal kata lahirnya kata Preman.

    agaknya ORBA telah berhasil mengangkat kelas dalam masyarakat sehingga kelas menegah menjadi kuat; dan secara ekonomi politik kemudian klas ini berkontradiksi
    karena kekuasaan tidak dapat memberikan kesejahtraan bagi mereka semua (kelas menegah) termasuk elit politik kita yang banyak di DPR.

    Salam Sejahtera bung,

    Mas Pambudi,
    Saya senang ada komentar seperti ini karena kita bisa mendapatkan ilmu secara tidak langsung. Diskusi seperti inilah yang diperlukan agar blog bukan hanya sekedar untuk say helo tetapi ada pelajaran yang bisa kita perole.
    Secara keilmuan memang harus kita gunakan terminologi yang benar.
    Kata preman memang saya ambil dari apa yang diucapkan oleh masyarakat luas. Secara sejarahnya saya memang belum tahu darimana kita mengadopsi kata preman tersebut.
    Terima kasih mas atas pencerahannya.
    Salam sehat sejahtera selalu.

  9. 7 Agustus 2009 pukul 16:58

    ketika segerombolan preman itu di seret ke kepolisian. Maka akan ada preman lain lagi yang menguasai daerah itu.
    Saya juga heran pakdhe, terkadang aparat justru terkesan agak cuek dengan hal ginian. Apa ada main main..?

    seret lagi,seret lagi,seret lagi. Lha kok enak, sopir angkot ngos2n kerja dia tinggal ngambilin upeti saja.

  10. 7 Agustus 2009 pukul 19:37

    Masyarakat lebih cari amannya aja. Mereka beranggapan, ngelawan preman sama aja cari mati dan gak ada gunanya.

    iya, mestinya jadikan saja preman sebagai musuh bersama

  11. Fietria
    8 Agustus 2009 pukul 10:19

    Tapi ada juga lho preman yang kerja di bank. Kalau ada nasabah yang telat atau tidak mau membayar tagihan kartu kredit, biasanya para preman dikerahkan untuk menagih utang para nasabah. Dan ini benar2 terjadi, tidak hanya di sinetron saja.

    benar tuh, kalau ada kasus sengketa tanah kayaknya preman juga disewa salah satu atau salah dua pihak.

  12. 10 Agustus 2009 pukul 06:04

    Cari aman aja pakde mungkin.

    kasihan para sopir angkot sopir taxi dan mereka2 yang sehari-hari membanting tulang ya

  13. 10 Agustus 2009 pukul 12:06

    Pakdhe, saya numpang ngeluarin uneg2…
    SAYA BENCI SEKALI SAMA YANG NAMANYA PREMAN…!!
    soalnya sewaktu sekolah dulu, saya pernah dipalak sama preman…!!
    Bukan hanya itu, saya juga pernah liat dengan mata kepala saya sendiri seorang pedagang kaki lima digebukin sama preman pasar…!
    Sejak saat itu, saya begitu dendam sama yg namanya preman.. hingga sat ini.. kalaupun saya punya sedikit kekuasaan dan kekuatan.. saya akan berantas itu preman..!!!

    makanya saya heran, kok orang sak indonesia gak berani ama preman ya

  14. 17 Desember 2009 pukul 09:59

    saya pny band dan perkumpulan bernama FREEMAN, bukan karena qta pemalak atau sejenisnya.. dikarenakan kita ingin kebebasan dari aturan2 ga jelas dari pemerintahan kita, yg berawal dari lingkup kecil. kita hanya ingin kedamaian yg dimulai dari kebebasan.

    peraturan pemerintah sudah jelas kok,

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: