Beranda > Opini > Ukur Sakumu Bukan Saku Mereka

Ukur Sakumu Bukan Saku Mereka

3 Desember 2009

Ketika saya menghadiri undangan pernikahan anak tetangga, saya mengisi kotak sumbangan sebesar Rp.100 ribu. Sumbangan ini biasanya dicatat oleh sekretaris. Apa saja yang kita bawa akan dicatat dengan cermat. Kelak kalau saya mempunyai hajat, mereka akan menyumbang persis sama dengan apa yang telah saya sumbangkan kepada mereka. Jika saya juga membawa rokok satu slop misalnya, mereka kelak juga akan mengembalikan roko dalam jumlah yang sama.

Emak mengingatkan saya ” Jangan memberi sumbangan terlalu besar, kasihan mereka kalau kelak harus mengembalikan sebesar itu”. Emak ada benarnya karena begitulah tradisi dikampung saya dan kampung-kampung sekitar desa saya. Ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya.

Memang, kalau mereka harus menyumbang Rp.100 ribu agak keberatan. Maklum yang namanya undangan pernikahan atau sunat terjadi secara terus-menerus. Jika ada 4-5 orang yang punya hajat maka akan menguras dompet atau saku mereka sementara penghasilan mereka masih diperlukan untuk kebutuhan ini-itu.

Padahal, menurut saya, mereka tidak harus berbuat seperti. Cukup mengukur kemampuan diri saja. Jika hanya punya uang Rp. 5 ribu, ya itulah yang disumbangkan. Tak perlu harus hutang sana-sini hanya sekedar menyamakan skor.

Bayangkan, sewaktu saya menikahkan anak pertama, ada bupati yang memberikan sumbangan Rp. 8 juta. Hla, kalau beliau punya hajat apakah saya harus menyumbang dengan jumlah yang sama ? Duwit dari Hongkong.

Oleh karena itu, ketika menghadiri undangan, saya memberikan sumbangan sesuai kemampuan saku saya, bukan saku shohibul hajat.

Bagaimana dengan anda ??

  1. dan
    3 Desember 2009 pukul 17:38

    setuju…🙂

    mantaf

  2. 3 Desember 2009 pukul 21:32

    Wah ikut

    silahkan

  3. 4 Desember 2009 pukul 22:58

    lha kalo lagi ga ada duit gimana pakde huehehehe. pakdhe tukeran link dong, link blog pakdhe sudah saya pasang di blog saya. link back ya pakdhe

    Tidak ada uang ? Datanglah nduk, kasih ucapan selamat dengan senyummu yang manis, doakan mereka agar Tuhan memberikan rejeki. Lalu makanlah dengan santai. Kedatanganmu sungguh diharapkan mereka walau tanpa menyumbang. Bukankah di undangan ditulis ” mohon doa restu”.

    Siapa yang tidak senang bertukar denganmu nduk, yuk pasang link bersama.

  4. 5 Desember 2009 pukul 14:35

    waduh…
    ga jauh beda dari kampung aku.
    cuma di kampungku tidak sampai dicatat oleh sekretasisnya, tapi ada dalam dukumen memory otak kaum ”induk-induk” bahwa mereka dapang pada hajatan kita.

    dimeja depan ada pencatat,pembagi sovenir atau snack lho…

  5. Red
    5 Desember 2009 pukul 15:14

    semoga duit di saku sobat selalu berlimpah juga senyum dan doa sobat🙂

    http://annunaki.wordpress.com/2009/12/05/foto-foto-yang-mengubah-dunia-part-2/

    Amn, terima kasih mas doanya. Semoga sobat juga selalu sehat,sejahter dan bahagia slalu.Amin

  6. 5 Desember 2009 pukul 21:09

    hampir sama saja PakDhe, ibu saya juga suka bilang begitu, jangan ngasih terlalu besar kasihan nanti mereka kalau hrs mengembalikan lagi.
    wah, PakDhe, bilangin bupatinya dong,klau nanti saya mau hajtan, biar dapet kayak PakDhe..he…he………………..*dari hongkong!*
    alam.

    sayangnya pak bupati dah pensiun mbak. entar tak bilang walikota bogor deh

  7. 6 Desember 2009 pukul 21:53

    Lho, sumbangan kita itu dicatet ta Pakdhe?? hahahahaha! Saya kira ya nggak ada yang tau, wong duitnya dalam amplop, amplopnya dicemplungin ke dalam kotak berhias renda… Jadi ya saya setor 10 ribu aja. Dulu malah pernah ada yang saya cemplungin amplop kosong. Pada tau dong yang punya hajat kalo yang masukin amplop kosong itu saya?! wkwkwkwkwk… Malu dah..!

    biasanya amplopnya dikasih nomer sesuai nomor tandatangan kita

  8. 6 Desember 2009 pukul 23:31

    hehehehehehheee
    mampus juga kalau begitu pakde…
    lha baru satu bpati nah kalau sepeuluh bagaimna
    bener-bener mampus ngembalikinnya..

    iya mas, kita ukur badan sendiri saja

  9. 7 Desember 2009 pukul 11:12

    Dimana bumi dipijak, disitu langit kita junjung. Persis sama dikampungku pakde, dan jika kita tdk ikuti aturan tak tertulis itu, kita dianggap nyeleneh dan bereda.
    so… dikenalin walikota bogor jg boleh tuh pakde, paling gak ya 5 jt dah… he he

    ha ha ha, entar tak kenalkan

  10. agus
    14 Desember 2009 pukul 08:56

    persis pengalaman saya saat diajak pergi hajatan di rumah teman di Asem Bagus Situbondo…
    Nyumbang kok do sebutkan pakai pengeras suara lagi !!!

    Ooo, situbondo ya mas. Saya emang pernah dengar soal itu. rame donk acaranya, ada yang malu dan ada yang bangga he he he

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: