Beranda > Renungan > Perjalanan Terakhir

Perjalanan Terakhir

24 Januari 2010

Perlahan-lahan jenazah mantan pejabat tinggi itu dimasukkan keliang lahat. Dan pelan-pelan pula beberapa petugas makam menimbun liang lahat yang sebelumnya didahului oleh Inspektur Upacara. Selanjutnya tampak pemandangan yang sebenarnya biasa namun kala itu membuat para pelayat termenung sejenak. Petugas pemakaman tanpa ada rasa sungkan langsung menginjak-injak tanah diatas makam itu agar padat. Tak ada yang melarang atau lagi membentaknya, semua diam dan tertunduk.

Pejabat tinggi itu ketika masih hidup sangat berkuasa dan ditakuti oleh anak-buah dan para stafnya. Kini setelah terbaring sendirian makamnya diinjak-injak oleh petugas pemakaman yang notabene orang-orang kecil.

Begitulah, ketika manusia meninggal dunia tak ada yang bisa dilakukannya dan tak ada yang dibawanya. Bahkan anak-isteri/suami atau orangtua serta familinya yang dulu sangat mencintai tak ada yang mau ikut. Mereka pulang kerumah masing-masing. Hanya iman dan taqwalah yang akan menyertainya menghadap Sang Pencipta dan itu adalah sebaik-baik bekal.

Kategori:Renungan Tag:, ,
  1. 24 Januari 2010 pukul 22:38

    waduh bahagia sekali…
    karena saya bisa…
    mengamankan posisi PERTAMAXXXX di blog hebat ini….
    cihuyyyy

    mantap mas, pasti datang pagi2 ya sambl joging

  2. 24 Januari 2010 pukul 23:31

    Benar-benar tak ada yang menemani… kecuali dua malaikat yang bertugas…
    Itupun tidak disebut menemani…
    Hanya amal sholeh yang menemani…

    Benar sayang…

  3. 25 Januari 2010 pukul 01:19

    siapa yang gagah dan berkuasa setelah dikubur

    sepi sendiri mas

    • 25 Januari 2010 pukul 01:20

      bintang lima pun tidak ada artinya
      harta ditinggal pangkat sudah tidak berarti
      makamnyapun diinjak-injak
      siapa yang berani semasa hidupnya

      Kenyataannya masih ada yg belum sadar ya mas

      • citromduro
        25 Januari 2010 pukul 01:21

        cek pingback ternyata belum masuk

        kadang2 pingback dari social bookmark juga gak masuk lho mas

  4. 25 Januari 2010 pukul 02:56

    كن فيكون

    tiada yang istimewa dikala Allah berta demikian.

    Benar mas

    • 25 Januari 2010 pukul 17:44

      salam kenal pak…
      bapak fokus apa nie blognya?

      selamat malam mas
      Blog campur sari mas

      • 27 Januari 2010 pukul 00:44

        owkeh dah dimasukkan dari kemarin link blognya di jelajah..

        terima kasih

        Terima kasih,sama2

  5. 25 Januari 2010 pukul 06:24

    Kita harus mempersiapkan diri untuk mengahadapinya,…
    makasih banyak atas renungannya PakDe…
    Salam Taksim.

    Benar mas, jadwalnya rahasia,jadi kita harus siap2.

  6. buraqmanari
    25 Januari 2010 pukul 08:05

    Hanya amalan yang setia menemani sampai hari dimana akan di hisap segala kebaikan dan keburukan didunia.

    mari kita berhisab diri didunia sebelum kita dihisap di akhirat

    • buraqmanari
      25 Januari 2010 pukul 08:07

      Sekaya apapun dan setinggi apapun pangkat didunia, ingatlah bahwa Kematian pasti akan datang menjemput. Innalillahi wa inna Ilaihi Rojiun…

      masih banyak yg belum menyadari ya mas

  7. 25 Januari 2010 pukul 08:17

    makasih renungannya di pagi hari ini pakde..

    sama-sama sayang…

  8. 25 Januari 2010 pukul 13:42

    Ternyata pangkatdsb adalah sementara, endingnya adalah harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya sendiri.

    benar mas, makanya jangan lengah

  9. 25 Januari 2010 pukul 21:34

    Wong hidup di dunia ini cuma mampir minum saja…

    benar mas, makanya jangan banyak2

  10. idisuwardi
    25 Januari 2010 pukul 22:29

    Salam kenal…

    salam kenal juga mas

  11. 26 Januari 2010 pukul 02:04

    Salam Takzim
    Mohon izin menyampaikan undangan acara di humberqu via batavusqu ya
    Salam Takzim Batavusqu

    sukses ya mas

  12. 26 Januari 2010 pukul 06:28

    itu lah yang sering kita lupakan pak. terkaadang manusia terlalu sibuk untuk mengurusi segala hal keduniawian. memang dizaman sekarang ini bisa dikatakan wajar tapi setidaknya ya inget ama yang diatas. yang memberi rizki pada kita.
    mesti banyak beramal klo mampu buat masa setelah menghadap kepadaNya
    mesti mendidik anak biar jadi sholeh biar mendoakan kita
    dan mesti menjadi imam bagi istri….(yang ini belum pengalaman)

    Karena gebyar dunia lebih mempesona padahal kehidupan di akhirat jauh lebih baik

  13. Nyempluk
    26 Januari 2010 pukul 11:59

    Membayangkan hal itu membuat saya kadang takut untuk memejamkan mata.
    Jangan-jangan saya bablas, gak bangun-bangun lagi. Padahal rasanya
    amal ibadah masih jauuuuuh bgt.

    bagus kalau ada kesadaran seoerti itu sehingga bisa kita upgrade diri

  14. 27 Januari 2010 pukul 19:29

    iyya,, manusia cuma mampir “ngombe”(minum,jawa.red)
    setelah minumnya selesai(cari amal sholeh)selesai dan dipanggil tuhan ya yang setia menemani ya cuman amal dan dosanya di dunia
    jadi ya kalo skrg dah dikasi hidup ya harus dimanfaatkan untuk minum sebnyak2nya dengan “air yang benar2 bersih”,,,

    benar sekali mas, kita harus menyiapkan bekal terbaik

  15. 27 Januari 2010 pukul 19:35

    iyya,, manusia di dunia tuh cuma mampir “ngombe”(minum,jawa.red)
    jadi ya kalo udah slesai ngombenya (cari amal sholeh) ya dipanggil ma ALLAH
    dan yang setia menemani cuma amal soleh ajah,,
    jadi ya kalo sudah dikasi nikmat dan ksempatan hidup di dunia ya harus dimanfaatkan untuk minum sebanyak2nya dengan minum “air yang benar-benar bersih”

    Yup sependapat, kita siapkan bekal dari sekarang,jangan berpedoman ” saya kan masih muda”…wah umur nggak tahu je.

  16. 29 Januari 2010 pukul 08:46

    terima kasih utk renungan yg bermanfaat ini, PakDhe.
    semoga amal ibadah kita selalu mendapat ridhoNYA,amin.
    salam.

    Amin,terima kasih kunjungannya mbak.salam

  17. 29 Januari 2010 pukul 10:23

    Kematian adalah nasehat tanpa kata yang paling keras. Kebanyakan dari kita takut menghadapinya karena merasa tidak memiliki persiapan. Di sinilah letak nasehatnya … Allahu a’lam …

  18. 29 Januari 2010 pukul 15:14

    sebagaimana sabda Nabi SAW, bahwa ketika kita melakukan ziarah kita bisa mengambil pelajaran dari sebuah kematian, salah satunya yg disampaikan pakde di atas. harta dan jabatan di dunia ternyata tdk dibawa mati. hanya amal kebajikan yg bisa menyelamatkan di kehidupan alam selanjutnya.

    Padahal ketika ikut kemakam mereka hanya bergurau, gak ambil pelajarannya blas

  19. dwi
    31 Januari 2010 pukul 14:17

    terima kasih pakde. ulasannya sangat bermanfaat karena mengingatkan akan kematian

    sama2 mas, saling isi mengisi

  20. 31 Januari 2010 pukul 18:42

    kunjungan dihari akhir liburan dalam perjalanan terakhirnya pa’ de…makasih

    terima kasih mas atas kunjungannya,salam

  21. 2 Juni 2010 pukul 10:08

    ini bukan perjalan akhir,,,tapi awal dari sebuah perjalan panjang yang gak akan pernah mati dan berakhir..abadi….

    bahasanya lain

  1. 24 Januari 2010 pukul 22:44
  2. 25 Januari 2010 pukul 00:21
  3. 27 Januari 2010 pukul 15:23
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: