Beranda > Kiat > Kiss is Important

Kiss is Important

3 Februari 2010

Waktu dinas di Jakarta saya sering menonton pagelaran Ketoprak Humor yang kala itu sedang jaya-jayanya. Menonton siaran di RCTI sih sudah sering namun menonton pagelaran secara live sensasinya jadi lain. Kalau mereka tidak pentas di Gedung Kesenian Jakarta maka saya menonton di Gedung Bentara Budaya TIM. Kedua-duanya sama yaitu tidak boleh membawa makanan dan minuman kedalam gedung.

Setelah menonton di GKJ 2-3 kali pagelaran saya mulai iseng. Ingin tahu bagaimana cara mereka mengkoordinasikan antara  sutradara yang ada dibalik layar dengan niyaga yang ada didepan panggung.

Hmmm.. ternyata Cak Kadar-si penabuh gendang itulah penjurunya. Dipinggangnya saya lihat ada handy talky yang disambungkan dengan kabel ketelinga kanannya. Dari  handy talky inilah Cak Kadar menerima komando dari sang sutradara adegan per adegan plus selingannya. Dan pukulan gendang cak Kadar juga akan dipahami bagaimana irama gamelan itu dimainkan. Tentu, pukulan kentongan mini dari sang sutradara juga merupakan alat kodal ( komando dan pengendalian) dari sutradara kepada para pemain yang sedang beraksi di panggung.

Jika di layar TV ada kesibukan siaran iklan ( setelah satu adegan selesai) maka di balik layar yang tertutup  (dalam gedung ) sebenarnya sedang ada kesibukan menata dekorasi yang akan digunakan untuk adegan berikutnya. Nah didepan layar yang menghadap penonton ada selingan lagu-lagu atau tari-tarian. Dengan demikian maka ada sinkronisasi antara tayangan iklan di RCTI dan acara off air di GKJ.

Jika anda jeli, akan sering melihat satu atau dua orang pemain menengok kearah kiri atau kanan panggung dan tiba-tiba ada yang berkata ” Yen mengkono hayooo..enggal-enggal mangkat ..”. Itu karena mereka sudah melihat isyarat lampu warna merah dari sebuah senter yang diayun-ayunkan oleh sang sutradara. Lampu itu merupakan tanda bahwa adegan itu harus diakhiri.

So, Kiss is Important  yaitu perlunya Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplifikasi dalam suatu kegiatan bersama.

Jadi, ilmu apapun bisa dicari lalu dipelajari, asal kita mau. Lumayan kan jadi bahan postingan.

  1. 3 Februari 2010 pukul 22:33

    Bener asyik ya Dhe klo nonton live itu, sensasinya beda
    semoga terus ada pertunjukan seni tradisional seperti itu, karena sebenarnya banyak penggemarnya asalkan dikelola dengan baik. Klo di ranah minang teater rakyatnya disebut Randai.. sayangnya sekarang sangat jarang dipertunjukkan. Dulu sewaktu aku kecil sering liat Randai di pasar malam. Senang banget nontonnya.

    anak2 lebih suka nonton Rocker

    • 4 Februari 2010 pukul 12:14

      Karena anak muda lebih senang nonton Mikel Jeksen sih yank
      akhirnya kesenian tradisionil merana
      salam sayang selalu

  2. 4 Februari 2010 pukul 00:43

    emm kalau kita maen theater di panggung besar..
    kode yang kami pakai biasanya selain lampu.. adalah pemusik menghapalkan naskah
    karena pemusik mainnya diblekanag layar..
    jadi kita menghapal naskah kl ada dialog gini kita bersiap tuk mainkan musikanya hehehe

    jangan sampai musik dan adegan tak sinkron yaaa

    • 4 Februari 2010 pukul 12:15

      Iya benar, banyak alat kendali kok agar sinkron antara pemain dan pemusiknya..jangan adegannya sedih,musiknya malah jingkrak2 ha ha ha ha………
      salam hangat dari Surabaya

  3. 4 Februari 2010 pukul 14:44

    Wiiwww… nonton opera yg live… kayak opera van java di trans7 ga yach!!

    mirip mas, tapi kalau live kan lebih asyik

  4. 4 Februari 2010 pukul 17:49

    tayangan yang sarat akan makna. Kirain KISS itu Sun😀
    ternyata Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplifikasi to🙂

    he he he…mesti kesana ya mas

  5. 5 Februari 2010 pukul 01:22

    Sutradaranya hebat ya… bisa mengatur semua pertunjukan itu…
    Tentu saja pelaksananya harus memahami komando yang diberikan.
    Bintang tamu yg tidak segera belajar, bisa2 bikin kacau acara, karena belum terintegrasi dengan kelompok tersebut🙂

    benar, kadang2 artis yg ikut main ketoprak hanya tertawa melulu kalau lihat mas Timbul melawak

  6. 5 Februari 2010 pukul 10:03

    Istila KISS dapat dari mana pakdhe???

    istilah di ABRI jaman dulu

  7. 5 Februari 2010 pukul 10:06

    Saya contek istilah KISS untuk organisasi di kampus ya… (gak ada hak paten tho pakdhe, jadinya ijinnya lewat komen aja). Saya ijin ya pakdhe untuk mengutip artikelnya.

    silahkan, itu istilah umum dilingkungan kami kok

  8. 5 Februari 2010 pukul 10:08

    oke pakdhe, saya berkunjung ke eyangchoik.info dulu ya

    oke mas, ati2 yaaa

  9. Nyempluk
    5 Februari 2010 pukul 14:21

    Kiss beneran juga penting lho Pak de

    bener juga

  10. 5 Februari 2010 pukul 14:32

    aku suka nonton ketoprak karena interaksinya

    iya, bikin segar ya..

  11. 5 Februari 2010 pukul 18:45

    PakDhe kalau nonton live gitu, seru banget pastinya ya,
    waktu ke Yogya pernah diajak nonton wayang orang di studio TVRI Yogya, biar gak ngerti kata2nya, tapi tetap asik lho, melihat tariannya secara langsung.
    salam.

    saya suka noton WO Bharata di Senin tuh, Rp.5 ribu bisa pesan lotong and kopi segala. Kalau di GKJ atau TIM gak boleh bawa makanan-minuman

  12. 7 Februari 2010 pukul 09:14

    kirain kiss apaan pakde..😀

    sudah mbayangin yg seger2 ya mas

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: