Beranda > Unik-menarik > Reformasi ala Emak

Reformasi ala Emak

15 Maret 2010

Emak termasuk yang fanatik memakai kain jarit sejak remaja hingga beranak-cucu-buyut, berarti sekitar 60 tahun lebih. Pernah saya bujuk untuk memakai daster ketika dirumah, tetapi beliau menolaknya karena malu. Padahal dikampung saya sudah banyak ibu-ibu yang memakai daster atau busana muslim model rok panjang. Emak masih setia memakai kebaya dan kain jarit plus jilbab, walau dirumah sekalipun.

Namun akhirnya Emak mau tak mau harus memakai busana non kebaya dan jarit. Ini terjadi ketika beliau akan berangkat menunaikan ibadah haji. Pagi itu saya menyaksikan kejadian yang luart biasa. Emak memakai celana panjang, lengkap dengan jas warna biru telur bebek- seragam dan sepatu olahraga  yang disiapkan oleh panitia haji. Saya tidak tahu  bagaimana perasaan emak tatkala keluar dari rumah dan brangkat ke Jombang untuk berkumpul dengan para calon jamaah haji yang lain. Pakaian baru bho…he he he.

Sejak saat itu emak sudah mengganti kebaya dan kain jaritnya dengan busana muslim berupa rok panjang. ” Ternyata enak memakai rok panjang, tidak repot memasang kain jarit plus mengikatnya dengan stagen dan  pasang konde “

Alhamdulillah, emak kini bisa lebih gesit melangkah ha ha ha ha.

I love you emak.

  1. 15 Maret 2010 pukul 11:36

    Hebat deh emak dah mo ikut reformasi juga…..
    Tapi jarit & kebaya nya jangan dilupakan ya…

    iya masih disimpan rapi..

  2. 15 Maret 2010 pukul 13:43

    emaknya pakde?
    Yang ini saya izin link juga yah, si bintang satu..😀

    iya mas, sekarang da enak kalau jalan ha ha ha.silahkan..kita tukar link ya.thanks

  3. 15 Maret 2010 pukul 16:33

    Emak yang modernis..
    pasti lega deh jalannya PakDe..

    ya mas, kasian kalau pake kain jarit terus..repot ha ha ha

  4. 17 Maret 2010 pukul 14:21

    hehhe, bravo emak! klo mama sampe hari ini masih ngga mau membiasakan pake celana panjang.. klo ngga terpaksa banget misalnya dalam perjalanan jauh, mama pasti ogah tuh😀

    wah yg pake celana panjang itu hanya waktu berangkatnya saja, setelah kembali ya pakai busana muslim

  5. 18 Maret 2010 pukul 11:50

    Salam Takzim
    Kultur budaya emak sedikit bergeser dong pakde, padahal kebaya + kain panjang + stagen itu budaya leluhur lho, semoga emak tetap berbusana made in Indonesia pakde
    Salam Takzim Batavusqu

  6. 18 Maret 2010 pukul 19:15

    plok plok hebat emak, I love you juga Emak………..
    kalau ibuku sekarang dah mau pakai baju muslim yg celana panjang,
    dulu sih maunya yg gamish/baju panjang saja, PakDhe.
    salam

  7. 19 Maret 2010 pukul 15:00

    nyoba kirim komentar sore-sore gini. 08:00 blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com

    masih sepi, jadi enakan

  8. 19 Maret 2010 pukul 20:49

    Wew, keren emaknya pakdhe. kalau dikeluarga saya yang begitu si mbah. Cuma sekarang beliau telah tiada, jadi gak ada lagi yang pake’ Jarit plus stagen.

    dikampung saya masih banyak mas

  9. 23 Maret 2010 pukul 09:43

    yup… ikutan comment di sini ya ..:) blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com

    terima kasih atas kunjungannya

  10. 1 April 2010 pukul 10:39

    Salam Kenal, artikelnya memberi pencerahan pada kami blog walking plugin can be downloaded blog-walk.com

    salam hangat dari Surabaya, terima kasih

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: