Beranda > Opini > Asam dan Singkong

Asam dan Singkong

29 September 2010

Pagi ini saya menyaksikan siaran berita di salah satu teve swasta tentang sidang kasus pencurian di dua daerah berbeda. Pada kasus yang satu benda yang dicuri berupa 6 kg buah asam dan pada kasus yang lainnya lagi barang yang dicuri adalah singkong. Pelaku pencurian adalah orang dewasa, bahkan ada yang usia lanjut.

Dilihat dari barang yang dicuri, kasus ini bisa saja dianggap remeh-temeh.Kitapun mungkin akan menyesalkan mengapa pemilik buah asam dan pohon singkong tega melaporkan tetangganya ke kantor polisi. Apakah tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan atau secara damai. Namun dari kacamata hukum, baik hukum positif maupun hukum agama, mencuri adalah perbuatan yang melangggar hukum. Untuk alasan itulah sebuah pengadilan digelar.Soal apa hukuman yang akan diterima oleh para terdakwa, tergantung keputusan hakim.

Dilihat dari barang yang dicuri, ada kemungkinan kasus pencurian ini bermotif ekonomi. Kelaparan dan atau kebutuhan ekonomi lainnya yang memicu para terdakwa terpaksa melakukan perbuatan tak terpuji tersebut.

Saya teringat sebuah kisah yang ditulis oleh Cak Emha Ainun Najib berjudul Slilit Sang Kiyai. Dalam kisah ini seorang kyai mengalami kesulitan ketika ajal sedang menjemputnya. Ketika diingatkan oleh kerabatnya agar mengingat-ingat sesuatu yang mungkin pernah diperbuatnya terhadap orang lain, sang kyai baru teringat ketika dia pernah memotong bambu untuk mengorek slilit yang terselip di giginya. Setelah kyai minta maaf kepada pemilik pagar akhirnya dia dapat meninggal dengan tenang.

Di mata Allah, pencurian adalah pencurian, mengambil milik orang lain tanpa hak. Allah mengetahui setiap perbuatan makhluk-NYA walaupun sebesar biji zahrah dan akan menerima balasannya. Demikian pula sebaliknya, perbuatan baik akan diketahui-NYA, walaupun sebesar biji zahrah dan juga akan menerima balasannya.

  1. 29 September 2010 pukul 08:41

    bisa2nya duluan ke sini

    mantap bu dok

  2. 29 September 2010 pukul 10:03

    Salam Takzim
    Jadi takut dengan kisah yang pernah disampaikan hanya sekecil bambu untuk membersihakan daging di sela gigi sang kyai susah meninggalnya, apalagi singkong dan asam pakde
    Terima kasih sekali nasehatnya pakde
    Salam Takzim Batavusqu

    benar mas-mencuri itu berdosa walau kecil

  3. 29 September 2010 pukul 11:32

    harus takut pada Tuhan karena Tuhan maha mengetahu segala… jangan takut cuman sama hukum yang notabene buatan manusia>.<
    ya kan pakdhe… ^^

    benar sayank…mencuri awalnya kecil2an, kalau dibiarkan akan menjadi kebiasaan
    kalau ingin makan singkong ya nanam sendiri…

  4. 29 September 2010 pukul 13:41

    mestinya para koruptor baca tulisan ini supaya mereka berhenti mengambil yang bukan haknya

    mereka gak punya blog sih mas, internet aja mungkin gaptek…

  5. 29 September 2010 pukul 15:47

    di sini penekanan moral kepada seorang kyai yang sangat di anjurkan oleh cak nun.karena kyai tlah mengerti dengan sangat paham hukum2 kaedah islam secara mendalam..bukan masalah tusuk giginya..bagaimana dengan umar al khottob yang menangkap pencuri lalu ia malah memanggul gandum itu sendiri buat keluarga si pencuri? kita lihat kontek yang lebih adil dan manusia dong..kalau pencuri singkong sama asam jelas2 mereka bukan kyai..dan wajar kalau negri ini di juluki “NEGRI PARA BEDEBAH”

    mencuri ya tetap perbuatan tak baik mas
    kalau mau makan singkong ya minta saja dengan baik2, Insya Allah akan dikasih.
    mencuri kecil2an bisa menjadi kebiasaan dan akhirnya akan mencuri lebih besar lagi…

  6. 29 September 2010 pukul 23:07

    salam kenal..jangan lupa follow..

    salam hangat slalu
    Insya Allah

  7. Nik Nikam
    29 September 2010 pukul 23:58

    haduhhh….pemilik singkong dan asam itu alay sekali!!!!!!!!!!!!!!!!!
    knp gak dimaafkan aja???????????????
    berapa ce harga singkong dan asam sgtu hingga dbw k pengadilan segala???????
    pengen tenar ya si pemiliknya????????????
    apalagi klo yang nyuri udah lanjut usia…
    kasihan kan???????????
    hatinya sekeras pa ce hingga ga’ mau maafin???????????
    Allah ja mau maafin kuq seberat apapun dosanya jika hambanya bertobat….

    makanya jangan mencuri….
    minta mungkin malah dikasih

  8. 30 September 2010 pukul 19:06

    Saya jadi takut kerja, Pakdhe…
    Takut korupsi, atau gak sengaja makan hak orang lain😦
    Semoga Allah melindungi…

    kalau gak kerja makan apa donk say ?
    jangan takut sepanjang kita berada di koridor yg pas

  9. munir ardi WP
    16 November 2010 pukul 05:44

    Ya Allah hindarkanlah aku dari perbuatan seperti ini

  10. 11 Desember 2010 pukul 09:03

    Namanya Orang Kecil…apapun tindakan nya kok tetap salah..Memang Mengambil bukan haknya tetap salah dan berdosa…namun di lihat scalanya rasanya tindakan tersebut hanyalah untuk mengisi perut..toh udah kenyang pasti berhenti..Lain Koruptor bukan untuk mengisi perut tapi mengisi perut-perut Family, Keluarga, Selinguhannya…

    kan banyak orang kecil yang bisa mengisi perutnya dengan cara yang baik

  1. No trackbacks yet.
Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: